Menjaga Napas Wayang Sasak, Dari Syiar Islam, Ruatan Medis, hingga Tantangan Regenerasi di Era Modern

Rosyidin S
Jumat, Juli 10, 2026 | 22.06 WIB Last Updated 2026-07-10T14:06:38Z
Ilustrasi: Selandir, gambaran seorang tokoh didalam wayang sasak, (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com — Wayang Kulit Sasak bukan sekadar tontonan panggung malam hari bagi masyarakat Lombok. Lebih dari itu, kesenian tradisional ini merupakan pusaka budaya yang memuat nilai tauhid, sejarah syiar Islam, ritual pengobatan, hingga cerminan sosial masyarakat yang telah mengakar sejak abad ke-14.


Hal tersebut diungkapkan oleh praktisi sekaligus Ketua Lembaga Wayang Sasak  School, Muhaimin, atau yang lebih akrab disapa Ki Dalang Emi. Menurutnya, eksistensi Wayang Sasak di Pulau Seribu Masjid ini memiliki benang merah yang sangat kuat dengan kedatangan para penyebar agama Islam, termasuk pengaruh dari Wali Songo.


Merunut sejarahnya, Ki Dalang Emi mengisahkan bahwa pementasan wayang pertama kali dilakukan di wilayah Bayan, Lombok Utara, setelah kedatangan para penyiar agama. Uniknya, pertunjukan wayang kala itu digunakan sebagai media diplomasi kultural untuk mendekati masyarakat lokal.


"Pada abad ke-14 telah disebutkan di situ, bahwa setiap orang yang mau menonton wayang harus wudhu terlebih dahulu dan membaca kedua kalimat syahadat. Jadi, itu tiket masuknya," ujar Ki Dalang Emi, saat ditemui di paguyuban Wayang Sasak School, Mataram belum lama ini.


Ia menambahkan, ajaran Islam sangat mudah diterima oleh masyarakat Sasak karena konsep ketuhanan yang searah. Sebelum kedatangan para mubaligh Jawa, masyarakat Lombok kuno telah memercayai keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan "Nenek Kaji". Setelah islamisasi meluas, sebutan itu melebur menjadi Nenek Kaji Sakuase Allah Ta’ala.


Berbeda dengan Wayang Jawa yang dominan mengambil pakem cerita Mahabarata atau Wayang Bali dengan kisah Ramayana, Wayang Sasak memiliki karakteristik tersendiri. Pakem ceritanya bersumber dari Serat Menak, yang mengisahkan kepahlawanan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah dari Persia ini disadur ke dalam bahasa Kawi dan Sanskerta sebelum akhirnya melekat sebagai identitas sastra tutur di Lombok.


Selain sebagai media tuntunan moral dan hiburan, Wayang Sasak diyakini memiliki fungsi magis-religius, salah satunya sebagai media pengobatan ritual bagi anak-anak di bawah usia 10 atau 11 tahun.


"Ternyata bukan sekadar pertunjukan, bukan sekadar tontonan menjadi tuntunan, tapi di situ ada pengobatan dengan media wayang. Seperti anak yang tidak bisa berbicara atau tidak bisa jalan, itu sudah ada ceritanya yang dibawakan," jelasnya.


Ki Dalang Emi memaparkan bahwa untuk ritual anak yang mengalami keterlambatan bicara, dalang akan mementaskan lakon khusus berjudul "Kajar Wali". Sementara untuk anak yang belum bisa berjalan, terdapat ritual dan lakon tersendiri bernama "Selandir".


Seiring berjalannya waktu, bahasa Sanskerta dan Kawi yang digunakan dalam pakem wayang mulai sulit dipahami oleh generasi modern. Pada era tahun 1970 hingga 1990-an, maestro dalang kondang asal Lombok Barat, mendiang Lalu Nasib, muncul membawa terobosan besar. Pria yang belajar mendalang di daerah Bongor dan Penarukan ini menginisiasi lahirnya tokoh punakawan lokal seperti Amaq Ocong, Amaq Amat, Inaq Itet, dan Amaq Baok.


"Mendiang Lalu Nasib ini mampu ketika orang-orang sudah tidak paham lagi bahasa wayang (Sanskerta). Dia menginisiasi alternatif membuat punakawan seperti Amaq Ocong, Inaq Itet dan yang lainnya. Tokoh-tokoh ini yang menyadur dan menterjemahkan bahasa-bahasa wayang itu ke dalam bahasa Sasak sehari-hari," tutur Ki Dalang Emi.


Langkah inovatif tersebut dinilai berhasil menyelamatkan Wayang Sasak dari kepunahan, sehingga ceritanya tetap komunikatif dan digemari masyarakat lintas generasi hingga saat ini.


Sifat Wayang Sasak yang inklusif juga dibuktikan dengan adanya tokoh dalang legendaris beragama Hindu pada zamannya, bernama Nengah Giur. Sama dengan Dalang kondang mendiang Lalau Nasib sangat tersohor karena kepiawaiannya membawakan cerita Serat Menak dan ikut menyiarkan nilai-nilai Islam melalui seni pertunjukan, bahkan saking magisnya pementasan beliau, mitosnya sering ditonton pula oleh makhluk halus.


Kini, di tangan generasi baru seperti Ki Dalang Emi dan kawan-kawanya yang lain, Wayang Sasak mulai dikembangkan untuk merespons isu-isu kontemporer. Pakem pembuka, musik, dan ritme tetap dijaga ketat, namun narasi melalui tokoh punakawan dibuat lebih fleksibel untuk menyuarakan kritik sosial, termasuk masalah perusakan lingkungan dan pemerintah.


"Kita bisa mengarang cerita sesuai dengan zaman sesungguhnya, tetapi pakemnya tidak boleh kita hilangkan. Saya sendiri sudah pernah mementaskan (lakon) tentang perusakan lingkungan dan ketimpangan sosial disesuaikan dengan keadaan kita saat ini," tegasnya.


Perjalanan Ki Dalang Emi menjadi seorang dalang bermula dari ketertarikannya pada alat musik suling wayang yang memiliki panjang 105 cm, sebuah instrumen yang terkenal sangat sulit dipelajari. Didorong oleh rasa khawatir akan hilangnya penerus kesenian ini, ia akhirnya mendalami seluruh aspek pementasan, mulai dari menatah (membuat) wayang, menguasai musik, hingga mempelajari bahasa Sanskerta.


Menurutnya, menjadi seorang dalang dituntut memiliki kepekaan tinggi dan kemampuan meniru puluhan karakter suara tokoh yang berbeda, mulai dari karakter gagah, jenaka, hingga karakter wanita. Di atas kelir (layar), dalang ibarat penentu kehidupan bagi wayang-wayangnya.


"Dalang itu kalau orang dulu menyebutnya Dalil. Ketika memainkan itu, seolah-olah dalang yang menghidupkan. Tanpa gerak dalang, wayang-wayang itu tidak akan bisa hidup. Banyak sekali filosofinya, mulai dari musik hingga bagaimana kelir itu dipasang, semua ada runtutannya dengan agama dan kehidupan di dunia," pungkas Ki Dalang Emi.


Meski terbilang rumit, Ki Dalang Emi optimistis seni ini tidak akan mati. Harapan itu terlihat dari mulai bermunculannya dalang-dalang cilik berbakat, seperti yang saat ini tengah dibina di SDN 1 Sandik, Lombok Barat, yang siap meneruskan estafet kelestarian Wayang Kulit Sasak di masa depan.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menjaga Napas Wayang Sasak, Dari Syiar Islam, Ruatan Medis, hingga Tantangan Regenerasi di Era Modern

Trending Now