Adapun tiga lokasi yang dipilih menjadi pusat gerakan ini adalah Pantai Labuhan Haji, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ijo Balit, dan Muara Pantai Dusun Dedalpak. Pemilihan kawasan pesisir, muara, dan TPA ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai simbol bahwa persoalan lingkungan merupakan rantai masalah yang saling terhubung dan membutuhkan penanganan serius dari hulu ke hilir.
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa membentangkan spanduk berisi pesan-pesan edukatif mengenai pelestarian alam serta melakukan kampanye publik. Mereka mengajak masyarakat yang melintas maupun yang berada di sekitar lokasi untuk lebih peduli terhadap ekosistem pesisir dan daratan yang kian terancam oleh sampah dan pencemaran.
Presiden Mahasiswa Universitas Hamzanwadi, Ahmad Hasbirrosyid, menegaskan bahwa momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia harus dijadikan ajang refleksi bersama secara mendalam, mengingat tantangan lingkungan di Lombok Timur yang kian kompleks.
"Kami melihat persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar di Lombok Timur. Melalui aksi simbolik ini, kami ingin mengingatkan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama," ujar Ahmad di sela-sela aksi.
Ahmad juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antara regulasi dari pemangku kebijakan dan kesadaran dari akar rumput.
"Pemerintah perlu memperkuat upaya pengelolaan lingkungan, sementara masyarakat juga harus membangun kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan dan lebih peduli terhadap alam di sekitar kita. Lingkungan yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama," tegasnya.
Lewat gerakan moral ini, BEM Universitas Hamzanwadi bersama elemen mahasiswa lainnya secara resmi mendesak Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk segera memperkuat kebijakan pelestarian lingkungan serta mendongkrak efektivitas penanganan sampah di berbagai wilayah tak tersentuh.
Lebih lanjut, mereka mendorong lahirnya kolaborasi multi-pihak yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, hingga komunitas lingkungan demi mewujudkan Lombok Timur yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.
Melalui momentum ini, mahasiswa berharap aksi simbolik tersebut mampu memantik kesadaran kolektif masyarakat luas, hingga akhirnya budaya menjaga alam dapat tertanam erat dalam kehidupan sehari-hari warga Lombok Timur.

