TKA Bongkar Realitas Pendidikan, Jangan Terjebak Ilusi Nilai Rapor

MandalikaPost.com
Kamis, Juni 04, 2026 | 18.36 WIB Last Updated 2026-06-04T10:36:39Z
Ketua Majelis Dikdasmen-PNF Pengurus Daerah Muhammadiyah Lombok Barat, Edy Supratman, S.Pd., M.Pd.

REPORTER : ABDUL RAHIM

MANDALIKAPOST.COM – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2026 menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan nasional. 


Capaian Matematika siswa SD dan SMP secara nasional tercatat masih rendah, hanya berada pada angka 36,097. Sementara capaian Bahasa Indonesia mencapai 55,38.


Ketua Majelis Dikdasmen-PNF Pengurus Daerah Muhammadiyah Lombok Barat, Edy Supratman, S.Pd., M.Pd., menilai hasil tersebut harus menjadi bahan refleksi bersama dan tidak boleh ditutupi dengan berbagai indikator semua keberhasilan pendidikan.


Menurutnya, persoalan terbesar pendidikan saat ini bukan hanya rendahnya hasil belajar siswa, tetapi masih banyak sekolah yang belum memiliki gambaran objektif mengenai kualitas pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas.


"Sering kali sekolah merasa berhasil karena nilai rapor siswa tinggi. Padahal belum tentu kemampuan akademik siswa berada pada level yang sama. TKA hadir untuk membongkar realitas tersebut," ujar Edy.


Ia menjelaskan, selama ini standar penilaian antar sekolah berbeda-beda sehingga nilai rapor tidak selalu dapat dijadikan ukuran mutu pendidikan secara objektif. 


Akibatnya, sekolah berpotensi terjebak dalam ilusi mutu pendidikan dan merasa telah berhasil meski kualitas pembelajaran sesungguhnya masih perlu diperbaiki.


Edy menegaskan bahwa TKA bukan sekadar alat mengukur nilai siswa, melainkan instrumen diagnosis untuk mengidentifikasi kelemahan pembelajaran yang selama ini mungkin tidak terlihat.


"Hasil yang rendah memang tidak menyenangkan, tetapi data yang jujur jauh lebih bermanfaat daripada angka tinggi yang tidak menggambarkan kondisi sebenarnya," tegasnya.


Menurut Edy, rendahnya capaian Matematika harus menjadi perhatian serius semua pihak. 


Temuan tersebut perlu ditelusuri lebih jauh untuk mengetahui apakah siswa mengalami kesulitan memahami konsep dasar, belum mampu bernalar dalam menyelesaikan masalah, atau justru proses pembelajaran yang belum berjalan secara optimal.


Ia menilai hasil TKA dapat menjadi pijakan bagi guru, kepala sekolah, pengawas, hingga pemerintah daerah untuk menyusun langkah perbaikan yang lebih tepat sasaran.


"Tidak cukup hanya mengatakan kualitas pendidikan meningkat. 


Harus ada data yang bisa membuktikan dan menunjukkan bagian mana yang masih lemah untuk diperbaiki," katanya.


Meski demikian, Edy mengingatkan agar TKA tidak diposisikan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan. 


Ia mengakui terdapat sejumlah risiko apabila pelaksanaannya disalahartikan, seperti munculnya budaya belajar yang hanya berorientasi pada ujian, meningkatnya tekanan terhadap siswa, hingga penyempitan makna pendidikan itu sendiri.


Karena itu, TKA harus dipahami sebagai alat evaluasi dan refleksi, bukan alat untuk memberi stigma kepada siswa maupun sekolah.


"TKA bukan untuk mencari siapa yang gagal, tetapi untuk mengetahui apa yang perlu diperbaiki. 


Pendidikan membutuhkan keberanian melihat kenyataan apa adanya. Tanpa data yang objektif, perbaikan pendidikan hanya akan berjalan dalam asumsi dan persepsi," ujarnya.


Edy menambahkan, semangat Pembelajaran Mendalam yang saat ini menjadi arah kebijakan pendidikan nasional menuntut sekolah tidak hanya mengejar nilai, tetapi membangun pemahaman, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.


"Jika hasil TKA digunakan sebagai bahan refleksi dan perbaikan berkelanjutan, maka instrumen ini dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nyata, bukan sekadar terlihat baik di atas kertas," pungkasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • TKA Bongkar Realitas Pendidikan, Jangan Terjebak Ilusi Nilai Rapor

Trending Now