Mahasiswa Pariwisata Universitas Hamzanwadi Hidupkan Budaya Sasak Lewat Eksibisi MICE Akhir Pekan Ini

Rosyidin S
Rabu, Juli 01, 2026 | 23.26 WIB Last Updated 2026-07-01T15:26:45Z
Segera: Pamflet acara Budaya Lombok yang digagas oleh mahasiswa Program Studi Pariwisata Universitas Hamzanwadi, (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com — Guna mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) sektor kepariwisataan yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing tinggi, Program Studi (Prodi) Pariwisata Universitas Hamzanwadi melakukan terobosan metode pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). 


Sebagai implementasi nyata dari kurikulum berbasis kompetensi tersebut, para mahasiswa akan menggelar pagelaran budaya dan eksibisi pariwisata bertajuk pameran MICE (Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition).


Perhelatan akbar yang menjadi puncak dari proyek akhir (final project) mata kuliah Manajemen MICE ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 4 Juli 2026. Acara akan dipusatkan di Gedung Juang Lombok Timur, mulai pukul 07.00 WITA hingga selesai.


Dosen pengampu mata kuliah Manajemen MICE, Amrullah, M.Sc., atau yang akrab disapa Pak Am, menjelaskan bahwa pendekatan pedagogis ini sengaja dirancang untuk memposisikan mahasiswa sebagai aktor utama dalam memecahkan masalah melalui proyek nyata di lapangan.


"Kami di ranah akademik tidak ingin mahasiswa hanya sekadar mengonsumsi teori di dalam ruang kelas. Melalui skema PBL ini, mahasiswa dituntut untuk memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kapasitas diri mereka sendiri. Ini adalah ruang bagi mereka untuk memperoleh experiential learning atau pengalaman empiris secara langsung di lapangan," ujar Pak Am saat memberikan keterangan terkait kesiapan acara.


Pak Am menambahkan, urgensi dari mata kuliah ini terletak pada penguasaan siklus hidup sebuah acara secara komprehensif, mulai dari fase inisiasi, perencanaan, penyusunan anggaran, koordinasi pemangku kepentingan (stakeholderl), eksekusi, hingga evaluasi pasca-acara. Hal ini melatih sensitivitas mahasiswa untuk bertindak sebagai Professional Exhibition Organizer (PEO).


"Fokus penilaian kami adalah end-to-end process. Mahasiswa difasilitasi untuk merasakan secara langsung bagaimana rumitnya sebuah ekosistem event. Mereka belajar bagaimana mengeksekusi ide abstrak menjadi sebuah realitas visual yang bernilai jual," tambahnya.


Selain misi akademik, eksibisi ini juga mengemban misi idealis untuk merevitalisasi dan mengintegrasikan esensi eksistensi budaya Sasak dengan sektor pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).


"Kami memilih tema kelokalan ini karena didorong oleh tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi kepada generasi muda dan masyarakat luas," tegas Pak Am.


Langkah progresif ini mendapat dukungan penuh dari pihak program studi. Koordinator Program Studi (Korprodi) Pariwisata Universitas Hamzanwadi, Muhammad Ramli, menggarisbawahi pentingnya rekonstruksi model pembelajaran di perguruan tinggi yang menyeimbangkan ranah kognitif dan psikomotorik mahasiswa.


"Dalam industri pariwisata yang sangat dinamis, kita tidak bisa lagi terpaku dan terlalu menekankan pada aspek teoritis belaka. Penguatan aspek praktik kepariwisataan secara langsung harus kami tekankan secara masif. Hal ini krusial untuk mengasah hard skills maupun soft skills mahasiswa," papar Muhammad Ramli.


Eksibisi MICE ini diproyeksikan akan menyedot perhatian publik karena dikemas secara interaktif, edukatif, dan menghibur. Panitia pelaksana telah merancang beragam agenda yang menonjolkan kekayaan kearifan lokal (local wisdom) Pulau Lombok, meliputi:


1. Pertunjukan Seni Budaya Tradisional: Menampilkan Gendang Beleq, Tari Gandrung, hingga Atraksi Peresean.

2. Pemberdayaan Ekonomi Kreatif: Bazar UMKM lokal serta Pameran Budaya dan Kearifan Lokal Sasak.

3. Edukasi dan Komunikasi Interaktif: Tour Booth Budaya Lombok serta Dialog Interaktif Budaya bersama para pemerhati adat.

4. Aktivasi Pengunjung: Sesi foto bersama, seni kontemporer, dan kuis interaktif berhadiah (doorprize).


Melalui perhelatan ini, sivitas akademika Universitas Hamzanwadi berharap sinergi antara dunia pendidikan tinggi, pelestarian kebudayaan, dan pengembangan sektor pariwisata daerah dapat terjalin secara harmonis.


"Harapan besar kami, project MICE yang diinisiasi oleh mahasiswa ini dapat menstimulasi kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga budaya. Semoga acara ini berjalan dengan lancar, mencapai kesuksesan yang holistik, dan mampu memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang positif," pungkas Pak Am optimistis.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mahasiswa Pariwisata Universitas Hamzanwadi Hidupkan Budaya Sasak Lewat Eksibisi MICE Akhir Pekan Ini

Trending Now