Menjaga Aroma Warisan Leluhur, Ahmad Turmuzi Membawa Terasi Khas Lombok Menembus Pasar Lebih Luas ‎

Panca Nugraha
Kamis, Juli 30, 2026 | 17.02 WIB Last Updated 2026-07-30T09:02:21Z
Ahmad Turmuzi pelaku UMKM Terasi Teluk Jor, Lombok Timur.


‎MANDALIKAPOST.com – Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit ketika perahu-perahu nelayan mulai kembali ke bibir pantai Dusun Teluk Jor, Desa Jerowaru, Lombok Timur. Laut masih menyisakan embun asin yang terbawa angin, sementara beberapa warga sudah bersiap menunggu hasil tangkapan pagi itu.

‎Di kampung pesisir yang berada tak jauh dari kawasan wisata Telong Elong ini, denyut kehidupan tidak hanya bergantung pada ikan segar. 

‎Ada satu hasil laut yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat selama puluhan tahun, bahkan diwariskan lintas generasi. Namanya terasi.

‎Bagi masyarakat Teluk Jor, terasi bukan sekadar bumbu penyedap. Ia adalah cerita tentang kehidupan nelayan, tentang kesabaran menunggu cuaca, tentang tangan-tangan yang bekerja sejak fajar, hingga tentang cita rasa khas Lombok yang tak mudah ditemukan di tempat lain.

‎Tradisi membuat terasi tumbuh seiring kehidupan masyarakat pesisir. Saat musim udang rebon tiba, nelayan berbondong-bondong melaut. Hasil tangkapan kemudian dibawa pulang untuk diolah menjadi terasi menggunakan cara-cara tradisional yang diwariskan turun-temurun.

‎Prosesnya membutuhkan ketelitian. Udang rebon segar dicampur dengan sedikit ikan pilihan, lalu dihaluskan dan difermentasi sebelum dicetak. Setelah itu, adonan dijemur selama kurang lebih dua hari di bawah sinar matahari hingga mencapai tingkat kekeringan yang tepat.

‎Tidak ada jalan pintas. Bagi para perajin, matahari adalah bagian dari resep yang tidak bisa digantikan begitu saja.

‎Penjemuran alami membuat aroma terasi lebih kuat, warna tetap cerah, dan daya simpannya mampu bertahan hingga satu tahun. Karena itulah, sebagian besar perajin di Teluk Jor masih mempertahankan cara lama meski teknologi pengering modern mulai berkembang.

‎Tradisi inilah yang kemudian diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka.

‎Salah satunya adalah Ahmad Turmuzi (27). Sebagai ayah dari dua anak yang masih balita, Turmuzi memilih meneruskan usaha kedua orang tuanya, Hasbi dan Aminah, yang sejak lama dikenal sebagai pembuat terasi di Teluk Jor.

‎Sejak kecil ia telah akrab dengan aroma udang yang difermentasi, hamparan terasi yang dijemur di halaman rumah, hingga kesibukan ibunya membungkus hasil produksi sebelum dibawa ke pasar.

‎"Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat orang tua membuat terasi. Dulu hasilnya hanya dijual ke pasar-pasar tradisional di Lombok. Sekarang saya ingin usaha ini berkembang lebih jauh," tutur Turmuzi kepada Mandalika Post.

‎Keinginan itu perlahan menjadi kenyataan. Jika dahulu pemasaran hanya mengandalkan pasar lokal, kini Terasi Teluk Jor telah menembus pasar luar daerah, terutama Pulau Bali.

‎Hampir setiap pekan, produk buatannya dikirim kepada para pelanggan tetap.

‎"Target kami sekarang memang Bali. Alhamdulillah setiap minggu penjualan ke sana bisa mencapai sekitar Rp7 juta sampai Rp10 juta," katanya.

‎Meski pasar terus berkembang, Turmuzi memilih tidak mengubah cara produksi yang telah diwariskan keluarganya.

‎Baginya, kualitas adalah alasan utama pelanggan terus kembali.

‎"Keunggulan terasi kami ada pada aroma dan cita rasanya. Banyak orang yang awalnya tidak suka terasi, tapi setelah mencoba terasi khas Lombok akhirnya jadi suka," ujarnya.

‎Namun, pilihan mempertahankan proses tradisional bukan berarti tanpa tantangan.

‎Menurut berbagai kajian, para perajin terasi di Teluk Jor kini mulai menghadapi dampak perubahan iklim. Cuaca yang semakin sulit diprediksi memengaruhi hasil tangkapan udang rebon sebagai bahan baku utama, sekaligus mengganggu proses penjemuran yang sangat bergantung pada panas matahari.

‎Perubahan itu mulai dirasakan pula oleh Turmuzi. Musim hujan menjadi masa yang paling sulit bagi usahanya.

‎Ketika matahari tidak muncul selama beberapa hari, proses pengeringan otomatis terhenti. Padahal, jika dipaksakan menggunakan oven biasa, kualitas terasi justru berubah.

‎"Kalau pakai oven biasa hasilnya kurang maksimal. Aromanya berubah, warnanya juga tidak sebagus yang dijemur langsung. Karena itu kami tetap mengandalkan matahari supaya kualitasnya terjaga," jelasnya.

‎Meski demikian, Turmuzi berharap suatu hari nanti ada teknologi pengering yang mampu membantu para perajin menghadapi musim hujan tanpa menghilangkan karakter asli Terasi Teluk Jor.

‎Di balik aroma khas yang menguar dari halaman rumah-rumah warga, tersimpan kerja keras yang tak pernah berhenti.

‎Terasi bagi masyarakat Teluk Jor bukan hanya soal mempertahankan resep lama.

‎Ia adalah cara menjaga identitas kampung nelayan, sekaligus menghidupi puluhan keluarga yang menggantungkan harapan dari hasil laut.

‎Bagi Ahmad Turmuzi, menjaga warisan orang tua berarti juga menjaga nama Teluk Jor agar tetap dikenal sebagai salah satu sentra terasi terbaik di Lombok.

‎Sentuhan Pendampingan AMMAN Yang Menguatkan 

‎Ahmad Turmuzi menilai, menjaga warisan terasi keluarga tidak cukup hanya dengan mempertahankan rasa. Di tengah persaingan usaha yang semakin berkembang, produk lokal juga membutuhkan tata kelola yang baik agar mampu bertahan dan tumbuh.

‎Selama bertahun-tahun, fokus utama Turmuzi dan keluarganya adalah menjaga kualitas produksi. 

‎Namun, seiring usaha mulai berkembang dan pasar semakin luas, ia menyadari bahwa kemampuan mengelola bisnis menjadi hal yang tidak kalah penting.

‎Mulai dari pencatatan keuangan, pengaturan arus kas usaha, hingga bagaimana melihat peluang pasar, menjadi tantangan baru bagi pelaku UMKM seperti dirinya.

‎Kesempatan untuk memperkuat kemampuan itu datang melalui program pembinaan dan pemberdayaan UMKM yang difasilitasi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN).

‎Dalam program tersebut, sejumlah pelaku UMKM dari wilayah Lombok Timur, termasuk Jerowaru, mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas usaha, khususnya dalam pengelolaan administrasi dan manajemen keuangan.

‎Turmuzi mengakui, pendampingan tersebut memberikan pengalaman baru.

‎"Dulu kami lebih banyak berpikir bagaimana produksi jalan dan pesanan terpenuhi. Setelah mendapatkan pendampingan, kami mulai memahami pentingnya mengatur keuangan usaha, mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta menata usaha agar lebih profesional," ungkapnya.

‎Menurutnya, hal-hal sederhana dalam pengelolaan bisnis sering kali menjadi pembeda antara usaha yang hanya bertahan dengan usaha yang mampu berkembang.

‎Sebab, bagi UMKM, peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan kemampuan mengelola usaha.

‎"Produk sudah bagus, rasa sudah dijaga, tapi kalau manajemen usaha belum rapi tentu akan sulit berkembang. Pendampingan seperti ini sangat membantu kami," katanya.

‎Kini, perkembangan Terasi Teluk Jor tidak hanya berdampak pada keluarganya. Usaha yang awalnya dikerjakan secara sederhana tersebut telah membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. 

‎Sekitar 10 warga kini ikut terlibat dalam proses produksi, mulai dari pengolahan bahan baku, penjemuran, pencetakan, hingga pengemasan.

‎Bagi Turmuzi, keberhasilan sebuah usaha bukan hanya diukur dari omzet yang meningkat, tetapi juga dari manfaat yang bisa dirasakan oleh lingkungan sekitar.

‎"Alhamdulillah sekarang ada warga sekitar yang ikut bekerja. Semoga usaha ini terus berkembang sehingga semakin banyak masyarakat yang bisa merasakan manfaatnya," ujarnya.

‎Meski pasar Terasi Teluk Jor mulai meluas hingga Bali, Turmuzi masih menyimpan sejumlah harapan.

‎Ia ingin produk khas Lombok ini memiliki tempat pemasaran yang lebih kuat, baik melalui gerai khusus, pusat oleh-oleh, maupun pemasaran digital yang lebih maksimal.

‎Saat ini, sebagian besar pelanggan masih datang melalui jaringan lama dan pemesanan melalui WhatsApp. Ia berharap ke depan pemasaran digital dapat lebih berkembang sehingga jangkauan pasar semakin luas.

‎"Kalau ada dukungan untuk pemasaran dan pengembangan usaha, tentu akan sangat membantu. Kami ingin terasi Lombok bukan hanya dikenal di daerah sendiri, tapi juga bisa dikenal lebih luas," katanya.

‎Turmuzi menekankan, cita-cita membawa Terasi Teluk Jor menuju pasar yang lebih besar sejalan dengan harapan agar produk-produk lokal NTB mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

‎Ia percaya, produk sederhana dari kampung nelayan pun bisa menjadi kebanggaan daerah jika mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

‎"Harapan kami, dukungan terhadap UMKM bisa terus ditingkatkan. Kami ingin membawa nama Lombok dan NTB lebih jauh lagi. Semoga produk-produk lokal bisa ikut mewujudkan semangat NTB Mendunia," ujarnya.

‎Semangat itulah yang menjadi bagian dari komitmen PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) dalam menjalankan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

‎Sebagai perusahaan tambang tembaga yang beroperasi di Pulau Sumbawa, AMMAN tidak hanya menjalankan aktivitas operasional, tetapi juga berupaya memberikan kontribusi sosial melalui berbagai program yang mendukung peningkatan kapasitas masyarakat, termasuk penguatan pelaku UMKM.

‎Vice President Social Impact PT Amman Mineral Internasional Tbk, Priyo Pramono, mengatakan pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam upaya menciptakan manfaat yang berkelanjutan.

‎"Kami percaya bahwa masyarakat lokal memiliki potensi besar yang dapat berkembang apabila mendapatkan dukungan yang tepat. Melalui program pemberdayaan, kami berupaya membantu pelaku UMKM meningkatkan kapasitas, memperkuat tata kelola usaha, serta membuka akses yang lebih luas agar produk lokal memiliki daya saing," ujar Priyo.

‎Menurutnya, keberhasilan pemberdayaan bukan hanya dilihat dari program yang dijalankan, tetapi dari perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

‎"Ketika pelaku UMKM mampu mengembangkan usahanya, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga potensi lokal tetap hidup, maka manfaatnya akan dirasakan lebih luas oleh masyarakat sekitar," katanya.

‎Di Teluk Jor, perubahan itu mulai terlihat. ‎Dari tangan Ahmad Turmuzi dan warga pesisir lainnya, sebuah produk sederhana bernama terasi terus menjaga cerita panjang masyarakat Lombok.

‎Ia bukan hanya tentang rasa. Ia adalah tentang warisan keluarga, tradisi nelayan, perjuangan menghadapi perubahan zaman, dan mimpi membawa aroma khas Lombok melangkah lebih jauh.

‎Dari pesisir kecil Teluk Jor, sebuah harapan terus tumbuh: agar cita rasa lokal tidak hanya bertahan, tetapi mampu menjadi bagian dari cerita besar NTB Mendunia. (*)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menjaga Aroma Warisan Leluhur, Ahmad Turmuzi Membawa Terasi Khas Lombok Menembus Pasar Lebih Luas ‎

Trending Now