Tegaskan Hak Cipta Leluhur, Anyaman Bambu Loyok Siap Kembali Mendunia lewat Gawe Adat Inan Dowe II

Rosyidin S
Senin, Agustus 31, 2026 | 08.32 WIB Last Updated 2026-08-31T00:32:11Z
Budaya: Muda Mudi Desa Loyok gelar event budaya tahunan Gawe Adat Inan Dowe, (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com — Pemuda pemudi Desa Loyok yang tergabung dalam Karang Taruna, Bajang Loyok Mentangi, Bajang Drex, Daster, hingga Praja bersinergi dengan Pemerintah Desa Loyok untuk menggeber event budaya tahunan Gawe Adat Inan Dowe II.


Perhelatan yang dirancang untuk menegaskan kembali hak cipta serta asal-usul kerajinan bambu setempat ini dijadwalkan berlangsung pada 8 hingga 9 September 2026 mendatang.


​Ketua Panitia Event Gawe Adat Inan Dowe II, Lalu Arya, menyampaikan bahwa penyelenggaraan tahun ini dikonsep jauh lebih semarak dengan menggandeng jajaran Pemerintah Kabupaten Lombok Timur hingga Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).


​"Kegiatan ini merupakan langkah nyata pemuda dan pemerintah desa dalam melestarikan warisan leluhur. Kami menegaskan di event ini bahwa seni anyaman bambu memang milik nenek moyang kami karena banyak pihak yang mengklaimnya," ujar Lalu Arya saat dikonfirmasi pada Minggu (30/8) kemarin.


​Arya menjelaskan, secara filosofis nama Inan Dowe memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Desa Loyok. Istilah ini merujuk pada identitas desa sebagai pusat kerajinan dan muara utama dari tradisi kriya bambu di kawasan NTB.


​"Inan Dowe ini berasal dari kata inan yang berarti ibu atau pusat yang utama, dan dowe yang berarti harta atau milik kekayaan," terangnya.


​Acara yang diproyeksikan menyedot perhatian ribuan pengunjung ini juga direncanakan akan dihadiri langsung oleh Gubernur NTB, Bupati Lombok Timur, beserta jajaran pejabat daerah lainnya. Langkah penegasan klaim historis ini diharapkan menjadi panggung promosi berskala internasional.


​"Kami berharap melalui event ini produk anyaman bambu Desa Loyok bisa kembali mendunia," tambah Arya.


​Dukungan penuh turut mengalir dari Pemerintah Desa Loyok. Kepala Desa Loyok, Lalu Bahaidin, menyambut positif kolaborasi lintas generasi tersebut dan berkomitmen memberikan fasilitas maksimal demi kelancaran festival.


​"Pemerintah desa memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas semangat para pemuda yang terus merawat warisan budaya," ungkap Lalu Bahaidin.


​Menurut Bahaidin, festival ini tidak sekadar ritual perayaan tradisi, melainkan instrumen penting untuk memicu dampak ekonomi nyata bagi warga lokal.


​"Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang melestarikan tradisi, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi warga lokal. Semoga seluruh rangkaian acara berjalan sukses dan membawa kebanggaan bagi daerah," pungkasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tegaskan Hak Cipta Leluhur, Anyaman Bambu Loyok Siap Kembali Mendunia lewat Gawe Adat Inan Dowe II

Trending Now