Bangkit dari Bayang-Bayang Keputusasaan: Sahrul dan Perjuangan Kelompok Disabilitas Selebung Menjemput Kemandirian

Rosyidin S
Kamis, September 10, 2026 | 23.12 WIB Last Updated 2026-09-10T15:12:06Z
Disabilitas: Sahrul, seorang penyandang disabilitas, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com — Rasa minder dan rasa putus asa sempat mengurung hidup Sahrul selama lima tahun. Tragedi tersengat aliran listrik tinggi yang dialaminya beberapa tahun silam merenggut kedua belah tangannya, mengubah jalan hidupnya secara drastis, dan memaksa pria asal Desa Selebung, Kecamatan Keruak, Lombok Timur ini menarik diri dari lingkungan sosial.


"Dulu saya normal, tapi menjadi seorang disabilitas karena kecelakaan tersengat listrik waktu jadi Pekerja Migeran Indonesia (PMI). Selama lima tahun saya minder dan mengurung diri di rumah, hanya duduk menjaga anak. Hanya itu yang dapat saya lakukan saat itu," kenang Sahrul saat ditemui di Selong, Kamis (10/9).


Titik balik perjuangan Sahrul dimulai pada tahun 2017 ketika Lembaga Lombok Independent Disabilitas Indonesia (Tim LIDI) yang diketuai Mamiq Lalu Wisnu Pradipta mendatangi rumahnya. Melalui motivasi dan pendampingan yang intensif, rasa percaya diri Sahrul perlahan bangkit kembali. Perjalanan itu memuncak pada tahun 2023 dengan terbentuknya Kelompok Swabantu atau Self Help Group (SHG) di Desa Selebung.


Kelompok ini dirancang merangkul warga disabilitas fisik, intelektual, Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), hingga kader kesehatan lokal untuk saling menguatkan. Melalui diskusi bersama, anggota kelompok yang mayoritas berpendidikan rendah dan sempat kehilangan harapan sepakat membangun usaha peternakan kambing.


"Kami berdiskusi tentang apa keinginan teman-teman. Dari sana muncul ide memelihara kambing. Awalnya kami hanya punya dua ekor kambing donasi, ditaruh di satu kandang, dan kami bagi tugas ada yang mencari rumput, ada yang membersihkan kandang," ungkap Sahrul.


Sistem pengintegrasian usaha ini tidak berhenti pada pemeliharaan ternak. Didampingi Tim LIDI, kelompok ini mengolah kotoran kambing menjadi pupuk organik menggunakan mesin pencacah. Sistem manajemen keuangan kelompok pun diterapkan secara transparan dan berkeadilan.


Modal diputar kembali, 90 persen keuntungan diberikan kepada anggota yang memelihara, sementara 10 persen masuk ke kas kelompok untuk kebutuhan darurat seperti kesehatan anggota maupun modal usaha alternatif seperti ternak bebek atau ayam.


Kendati berhasil memupuk kemandirian ekonomi dari tingkat bawah, Sahrul menyayangkan masih minimnya perhatian dan realisasi kepedulian dari pemerintah daerah maupun pemerintah desa. Padahal, pihak kelompok telah aktif menyuarakan kebutuhan infrastruktur, kemudahan BPJS PBI (gratis), hingga permodalan UMKM bagi penyandang disabilitas perempuan.


"Kami ingin membuat teman-teman disabilitas mandiri karena selama ini kami merasa belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat maupun pemerintah. Jangan sampai pemerintah baru melirik penyandang disabilitas saat menjelang pemilihan saja, setelah itu dilupakan," tegasnya.


Hingga kini, proposal usaha seperti pengadaan gerobak kontainer untuk usaha UMKM disabilitas perempuan maupun pengajuan data BPJS bagi warga kurang mampu masih tertahan di tataran janji dan catatan birokrasi. Meski demikian, Sahrul memastikan langkah kelompoknya tidak akan surut.


"Harapan saya, pemerintah benar-benar memperhatikan teman-teman disabilitas dengan aksi nyata, bukan sekadar catatan di buku atau berkas di lemari. Kami ingin membuktikan bahwa di tengah keterbatasan, kami mampu bangkit dan berdaya," pungkasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bangkit dari Bayang-Bayang Keputusasaan: Sahrul dan Perjuangan Kelompok Disabilitas Selebung Menjemput Kemandirian

Trending Now