![]() |
| Psikologis: Baiq Ratna Ayunsari, Psikolog Rumah Sakit Umum Daerah dr Raden Soedjono Selong , (Foto: RosyidinMP). |
Hal tersebut ditegaskan oleh Psikolog Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Raden Soedjono Selong, Baiq Ratna Ayunsari dalam sebuah forum edukasi psikologi.
Ia menjelaskan bahwa P3LP merupakan bentuk bantuan dasar yang tidak memerlukan keahlian khusus seperti yang dimiliki oleh psikolog, psikoterapis, atau konselor.
"P3LP itu bantuan dasar, tidak perlu keahlian khusus seperti konselor atau psikolog. Yang paling penting pertama kali adalah kesiapan diri kita sendiri sebelum membantu orang lain," ujar Baiq Ratna, dihadapan para peserta pelatihan Lokakarya Komunitas Bencana, Selasa (8/9) tiga hari yang lalu.
Dalam kesempatan tersebut, perempuan yang akrab di sapa buk Ayun ini merinci tiga langkah utama dalam P3LP, yakni melihat (look), mendengarkan (listen), dan menghubungkan (link).
Langkah look bertujuan mengenali adanya luka psikologis atau perubahan perilaku pada seseorang. Setelah itu, dilanjutkan dengan listen untuk mendengarkan kebutuhan korban secara aktif, serta link untuk menyambungkan korban ke jaringan pendukung atau tenaga profesional.
Buk Ayun juga meluruskan anggapan keliru di masyarakat terkait penggunaan istilah trauma dan TPSD (Post Traumatic Stress Disorder). Menurutnya, sebuah kejadian emosional atau kecemasan tidak bisa mendadak dikategorikan sebagai trauma jika belum memenuhi tenggat waktu klinis. Jadi beda apa itu trauma dengan PTSD.
"Diagnosis trauma, itu baru bisa dikatakan trauma jika gejalanya muncul dan berlangsung lebih dari enam bulan pasca kejadian serta mengganggu aktivitas harian seperti susah tidur dan makan. Kalau baru satu atau dua bulan, itu masih reaksi wajar atas kejadian stres, yang ini disebut PTSD," tegasnya.
Selain itu, ia memberikan sorotan tajam terhadap fenomena melukai diri sendiri (self-harm) yang marak terjadi di kalangan remaja. Berdasarkan pengalamannya menangani kasus di lapangan, metode yang digunakan remaja untuk melukai diri sering kali tidak terduga dan tidak selalu menggunakan benda tajam biasa.
"Banyak hal yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Ada yang menggunakan sikat gigi, menelan pasta gigi, hingga mencabut rambut. Kita harus benar-benar waspada dan memahami krisis luka psikologis ini, serta tidak ragu melibatkan keluarga untuk mendampingi," tambah buk Ayun.
Jika ditemukan indikasi krisis psikologis yang berat, buk Ayun menyarankan agar masyarakat memanfaatkan alur rujukan berjenjang melalui fasilitas kesehatan yang ada.
"Bisa kita hubungkan mulai dari FKTP atau Puskesmas setempat. Jika membutuhkan penanganan lanjut, Puskesmas akan merujuk ke rumah sakit tipe B seperti RSUD Dr. R. Soedjono Selong, hingga ke RSJ jika diperlukan.
Namun, jika dalam kondisi darurat psikologis seperti mengamuk atau membahayakan nyawa, pasien bisa langsung dibawa ke rumah sakit jiwa tanpa melalui Puskesmas," paparnya.
Di akhir pemaparannya, Psikolog buk Ayun mengajak peserta mempraktikkan teknik pernapasan (deep breathing) untuk melepaskan stres harian. Ia juga mengingatkan pentingnya pengolahan emosi bagi para orang tua dalam mendidik anak di rumah.
"Ketika kita akan menghadapi anak-anak dirumah, kalau sedang marah tenangkan diri terlebih dahulu baru menghadapi anak-anak. cara menenangkan diri bisa dengan tarik nafas berwudhu, agar anak-anak tidak terkena imbas akibat emosi orang tua," tutupnya.

