![]() |
| Kebakaran: Tim gabungan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani memantau titik api di kawasan TNGR, (Foto: Istimewa/MP). |
Api membakar vegetasi permukaan berupa hutan cemara gunung, semak belukar, perdu, rumput savana pegunungan, hingga dedaunan kering. Untuk menjamin keselamatan pengunjung, pengelola menutup total jalur pendakian Senaru dan Torean sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Upaya pemadaman dan lokalisir api terus diperketat. Sebanyak 103 personel tim gabungan terdiri dari Polhut, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), TNI, Polri/Brimob, KPH Rinjani Barat, hingga pendukung porter dikerahkan ke sektor-sektor krusial seperti Bukit Setampol, Pos 3 Senaru, hingga kawasan Pelawangan.
Namun, medan pegunungan yang terjal, angin kencang, vegetasi yang sangat kering, serta sungai yang dalam menjadi tantangan besar bagi tim pemadam di lapangan.
Pada Selasa (29/9/2026), tim gabungan sempat berupaya mendekati titik api di Jalur Senaru, namun pergerakan fisik terhalang arus sungai yang dalam. Petugas akhirnya beralih memanfaatkan teknologi drone dan pengamatan visual dari jarak 350 meter.
"Api yang tersisa saat ini berada pada kondisi terisolasi di pohon yang masih berdiri dan belum menunjukkan rambatan ke vegetasi sekitarnya. Kendati demikian, tim tetap bersiaga di lokasi untuk mengantisipasi potensi penyalaan ulang akibat cuaca atau material yang masih menyimpan panas," ujar Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, dalam keterangan resminya diterima, Rabu (30/9).
Selain fokus pada pemantauan titik api, Balai TNGR meluncurkan Tim Asesmen Jalur Pendakian Torean pada Selasa siang pukul 12.15 WITA. Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, MPA Sembalun, Polsek dan Koramil Bayan, Tim SAR Lombok Timur, serta porter ini bertugas memetakan tingkat kerusakan jalur, potensi pohon tumbang, serta pergeseran stabilitas medan pascakebakaran.
Astekita menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur pendakian tidak akan terburu-buru dan bergantung penuh pada hasil kajian keselamatan di lapangan.
"Pembukaan kembali jalur tidak dilakukan hanya berdasarkan padamnya api, tetapi juga harus mempertimbangkan hasil evaluasi kondisi jalur, stabilitas medan, potensi pohon tumbang, material bekas terbakar, serta aspek keselamatan pengunjung lainnya," tegas Astekita.
Atas penutupan Jalur Senaru (sejak 26 September 2026) dan Jalur Torean, Balai TNGR meminta para calon pendaki yang telah memegang e-ticket untuk melakukan penyesuaian jadwal (reschedule) atau mengalihkan pintu masuk/keluar melalui Jalur Wisata Pendakian Sembalun.
Bagi pendaki yang saat ini masih berada di atas gunung dan memegang tiket keluar via Senaru atau Torean, petugas di lapangan telah mengarahkan mereka untuk turun melintasi jalur Sembalun.
Pihak Balai TNGR mengimbau seluruh masyarakat dan pelaku wisata untuk tidak mendekati lokasi kebakaran, tidak membawa barang yang berpotensi memicu api baru, serta selalu mematuhi instruksi petugas resmi demi keselamatan bersama.

