Lautan Manusia Padati Pancor, Hultah NWDI ke-91 Tegaskan Pentingnya Merawat Silaturahmi dan Bina'ul Insan

Rosyidin S
Minggu, September 13, 2026 | 17.04 WIB Last Updated 2026-09-13T09:04:35Z
Hultah: dr. TGB H. Muhammad Zaenul Majdi L.C., M.A., (Foto Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOS.com — Puluhan ribu jemaah dan alumni dari berbagai daerah membanjiri kawasan Pancor untuk menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (Hultah) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) ke-91 yang dirangkaikan dengan Haul Al-Maghfurlah Ninikda Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ke-29, Minggu (13/9).


Suasana khidmat dan penuh rasa tasyakkur menyelimuti lokasi acara. Kehadiran tokoh-tokoh penting, ulama nasional, hingga mancanegara makin menambah keberkahan majelis, di antaranya Al-Ustadz Asy-Syaikh 'Alaa' Mustafa Na'imah Al-Azhari Asy-Syafi'i, Al-Habib Jindan bin Noufal bin Salim bin Jindan, serta Ustaz Abdul Somad (UAS). Turut hadir pula Deputi BIN Dr. Zainul Huda yang merupakan keluarga dari ulama kharismatik Bogor, Kiai Haji Falak (Mama Falak).


Dalam sambutannya, pimpinan NWDI Pancor, dr. TGB H. Muhammad Zaenul Majdi L.C., M.A., menekankan pentingnya merawat jaringan silaturahmi yang telah lama dirintis oleh para pendahulu. Langkah ini dinilai sebagai fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan dakwah dan perjuangan NWDI di tengah masyarakat.


"Tiang ikhtiarkan bersilaturrahim menyambung hubungan kepada keluarga, penerus, dan murid dari sahabat guru kita. Tiang yakin, dengan bersilaturrahim insya Allah akan mendatangkan keberkahan untuk perjuangan NWDI kita," ujar dr. TGB, dalam sambutannya di hadapan ribuan jemaah.


TGB menggarisbawahi warisan besar Al-Maghfurlah Maulana Syaikh yang tidak hanya berupa lebih dari 1.100 madrasah di seantero Indonesia, tetapi juga nilai-nilai taqwa, wirid, zikir, serta persahabatan erat dengan para ulama dunia. Pesan utama yang menjadi perhatian bersama pada Hultah kali ini adalah penguatan asas pendidikan Islam, yaitu bina'ul insan (pembangunan jiwa manusia).


"Asasu at-tarbiyah binaa'ul insan. Asas dari pendidikan, termasuk yang dilaksanakan oleh Ninikda Maulana Syaikh adalah membangun jiwa manusia," tegas TGB.


Lebih lanjut, TGB memaparkan tiga poin utama bina'ul insan yang disadur dari tugas kenabian dalam Surah Al-Jumu'ah turut dipaparkan sebagai pedoman bagi para guru dan orang tua di lingkungan NWDI.


Yang pertama, Yatluu 'alaihim (Mengajar dan membimbing dengan kesabaran). Maksud lnya dinisi, para jemaah mampu meneladani kerendahan hati Al-Maghfurlah Maulana Syaikh yang meski berpendidikan tinggi di Shaulatiyah, beliau rela berkeliling desa selama tiga tahun hanya untuk mengajar pengucapan salam yang benar.


"Beliau saja sanggup sabar selama tiga tahun mengajarkan salam, mengapa kita tidak. Maka kita yang ilmunya hanya seujung kuku ini harusnya lebih sabar mendidik anak-anak kita," kata TGB penuh semangat dihadapan para jemaah.


Lalau yang kedua, Wa yuzakkiihim (Pembersihan jiwa dan tarbiyatun nufus). Disini, pentingnya melembutkan hati dan mengikis kebencian melalui amalan hizib, zikir, dan shalawat. 


"Tarbiyatun nufus itu artinya melunakkan hati kita. Jangan ada kebencian di dalam hati,  ganti saja dengan mahabbah (rasa cinta), ganti dengan pemaafan," imbuhnya.


Ya terahir harus ada pada diri jamaah itu, Wa yu'allimuhumul kitaaba wal hikmah (Pengajaran ilmu yang mu'tabar). "Ini yang paling penting. Membekali generasi muda dengan pemahaman Al-Qur'an, sunnah, tuntunan agama, serta rasa cinta terhadap pahlawan dan tanah air," pungkasnya.


Di akhir sambutan, seluruh jemaah diajak untuk bersama-sama melantunkan syafa'at dan Doa Pusaka sebagai penutup majelis tasyakur, diiringi kebulatan tekad untuk terus memegang teguh semangat perjuangan: "Pokok NW. Iman dan Taqwa! NWDI. Masuk NWDI!"

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Lautan Manusia Padati Pancor, Hultah NWDI ke-91 Tegaskan Pentingnya Merawat Silaturahmi dan Bina'ul Insan

Trending Now