![]() |
| Foto Salah satu Hotel Di Lombok Tengah (Ist) |
MANDALIKAPOST.com – Tingkat hunian hotel di sejumlah kawasan wisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengalami peningkatan menjelang penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026.
Pembina Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, I Gusti Lanang Patra, mengatakan tingkat okupansi hotel di kawasan ring satu Mandalika dan sekitarnya saat ini telah mencapai 85 persen atau lebih.
Sementara itu, tingkat hunian hotel di kawasan Senggigi berada di kisaran 80 persen. Berbeda dengan kawasan tersebut, okupansi hotel di Kota Mataram masih berada di angka sekitar 40 persen.
Namun, menurut Lanang Patra, tingginya okupansi di sejumlah kawasan tersebut tidak seluruhnya berasal dari wisatawan yang datang untuk menyaksikan MotoGP. Sebagian merupakan tamu reguler yang memang melakukan perjalanan ke NTB untuk keperluan lain.
“Di ring satu, Mandalika dan sekitarnya sudah penuh 85 persen ke atas. Mataram masih 40 persen, Senggigi 80 persen. Cuma tidak semua untuk MotoGP, sebagian reguler atau biasa,” ujarnya pada Rabu (15/9/2026).
Terkait Pergub Tarif Hotel Dinilai Tak Lagi Diperlukan. Lanang juga menilai regulasi pemerintah daerah terkait batasan harga kamar hotel saat gelaran MotoGP, yang sebelumnya diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan harga, kini tidak lagi mendesak.
Menurutnya, kondisi industri perhotelan saat ini sudah berjalan lebih normal sehingga harga kamar dapat dikembalikan kepada mekanisme pasar.
“Kalau saya, karena sekarang sudah berjalan bagus, tidak perlu ada Pergub itu lagi. Artinya tidak diperlukan lagi Pergub karena sudah normal. Diserahkan ke mekanisme pasar,” katanya.
Ia menjelaskan, pada penyelenggaraan MotoGP pertama dan kedua di Sirkuit Mandalika, harga kamar hotel sempat mengalami lonjakan yang sangat tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya pengaturan melalui pemerintah.
“MotoGP yang pertama dan kedua itu harga kamar hotel gila-gilaan, sehingga perlu diatur. Karena sudah berjalan dengan mekanisme pasar, maka tidak perlu lagi Pergub,” jelasnya.
Menurut Lanang, saat ini pelaku usaha hotel juga cenderung menetapkan harga secara lebih wajar. Bahkan, masyarakat sudah dapat melihat harga kamar hotel melalui berbagai platform pemesanan daring.
Ia mencontohkan kondisi di Lombok Raya yang menurutnya masih menawarkan harga kamar dalam kisaran normal.
“Kita jualannya pun normal-normal saja. Harga normal. Kita batas bawah, batas atas. Lombok Raya, lihat saya di online Traveloka, normal-normal saja,” ungkapnya.
Ia membandingkan kondisi tahun ini dengan penyelenggaraan MotoGP sebelumnya. Jika pada tahun lalu pemesanan kamar sudah terlihat ramai jauh-jauh hari, saat ini tingkat pemesanan dinilai masih relatif normal.
“Kalau tahun lalu jauh-jauh hari sebelumnya. Sekarang biasa saja. Sekarang Lombok Raya masih kosong, masih baru 40 persen,” katanya.
Lanang memperkirakan calon wisatawan yang akan datang ke NTB untuk menyaksikan MotoGP masih menunggu kepastian terkait sejumlah kebutuhan perjalanan.
Menurutnya, wisatawan biasanya baru melakukan pemesanan hotel setelah memastikan penerbangan, transportasi, hingga tiket MotoGP.
“Biasanya kalau sudah bulan-bulan segini, sulit. Mereka harus fix dulu penerbangan, transportasi, hotel, tiket. Itu harus pasti dulu, baru mereka datang,” pungkasnya.

