MANDALIKAPOST.com, 8 Oktober 2026 — Program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR) Pertamina Patra Niaga di Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Melalui program Sekolah Alam Anak Pesisir, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Integrated Terminal Ampenan memadukan pendidikan lingkungan, konservasi mangrove, permainan tradisional hingga pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Hingga saat ini, sekitar 4.500 pohon mangrove telah ditanam bersama masyarakat. Di sisi lain, program tersebut melibatkan sekitar 50 anak dan mendapat dukungan sekitar 15 anggota masyarakat.
Tak hanya menanam mangrove, kawasan tersebut juga dikembangkan sebagai ruang belajar bagi anak-anak pesisir. Edukasi dilakukan secara langsung dengan mengenalkan ekosistem mangrove dan kebiasaan menjaga lingkungan.
Pendekatan pendidikan bahkan dikemas melalui permainan tradisional yang dikembangkan menjadi Pertakith. Permainan tersebut menjadi media untuk menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak.
Vice President Community, Involvement, and Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, mengatakan Sekolah Alam Anak Pesisir merupakan pendidikan tambahan di luar sekolah formal.
Program tersebut dilaksanakan terutama pada Sabtu dan Minggu, dengan sasaran anak usia SD hingga SMP.
Selain aspek pendidikan dan konservasi, keberadaan kawasan mangrove mulai memberikan dampak ekonomi melalui kegiatan ekowisata.
Dian menyebut kunjungan peneliti maupun pemerintah daerah ke kawasan tersebut turut membuka peluang pendapatan bagi kelompok masyarakat. Dari aktivitas kunjungan ekowisata itu, pendapatan disebut mencapai sekitar Rp24 juta per tahun.
Kawasan tersebut juga didukung fasilitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang diklaim mampu menghemat biaya energi sekitar Rp550 ribu per bulan.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan pendekatan CSR yang menghubungkan beberapa aspek sekaligus: pendidikan anak, pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan potensi ekonomi lokal.
Tantangannya kini bukan sekadar berapa banyak pohon yang telah ditanam atau berapa banyak kegiatan yang telah dilakukan, tetapi bagaimana seluruh ekosistem tersebut dapat terus hidup dan memberikan manfaat setelah dukungan program berjalan.
Di titik inilah keberadaan kelompok masyarakat menjadi penting. Sebab, keberlanjutan Sekolah Alam Anak Pesisir dan kawasan mangrove pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan masyarakat setempat untuk merawat, mengelola dan mengembangkan apa yang telah dibangun bersama.
Dari pesisir Cendimanik, CSR Pertamina tidak hanya berbicara tentang bantuan, tetapi mulai diarahkan menjadi investasi sosial dan lingkungan: anak mendapatkan ruang belajar, mangrove mendapatkan ruang tumbuh, sementara masyarakat memperoleh peluang ekonomi dari kawasan yang mereka jaga.


