![]() |
| Pengabdian: Tim pengabdian mahasiswa universitas Mataram prodi Kehutanan, (Foto: Istimewa/MP). |
Pelatihan yang dilaksanakan belum lama ini bertujuan untuk mentransformasi sistem pencatatan sampah konvensional di jalur pendakian menjadi data digital yang terstruktur, akurat, dan berbasis geospasial. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen akademisi dalam mendukung inisiatif Go Rinjani Zero Waste.
Selama ini, catatan keberadaan sampah di jalur pendakian kerap kali hanya menjadi laporan parsial yang sulit dianalisis pola persebarannya. Melalui program pengabdian yang berjalan sejak Juli hingga September 2026 ini, tim Unram memperkenalkan aplikasi pencatatan lapangan berbasis KoboToolbox.
Aplikasi tersebut memungkinkan para pendaki dan anggota SAR merekam jenis sampah, kondisi visual, foto temuan, hingga koordinat lokasi secara tepat (real-time). Data yang dihimpun kemudian diintegrasikan menggunakan Google Apps Script dan Google Sheets, lalu ditayangkan pada dashboard web berisikan peta interaktif.
Perwakilan Tim Pengabdian Kehutanan Unram menjelaskan pentingnya otomatisasi dan pemetaan spasial ini untuk efisiensi pengawasan kawasan.
"Informasi dari lapangan sangat berharga, tetapi jika tidak dicatat secara terstruktur, potensinya akan hilang. Dengan integrasi KoboToolbox dan dashboard peta interaktif ini, setiap temuan sampah tidak hanya tercatat sebagai angka, melainkan memiliki identitas lokasi yang jelas. Hal ini memudahkan para pemangku kepentingan untuk melihat titik-titik rawan dan merancang langkah penanganan yang lebih presisi," ujar perwakilan Tim Pengabdian Unram.
Pendekatan pelatihan tidak hanya berfokus pada teori, melainkan menekankan diskusi interaktif dan simulasi langsung. Para peserta diajak mengenali alur kerja data mulai dari pengukuran volume sampah, pengisian formulir digital di smartphone, hingga sinkronisasi data ke dashboard utama.
Sistem ini dirancang sedemikian rupa agar praktis dan tidak membebani aktivitas rutin para mitra di jalur pendakian. Penekanan utama ada pada konsistensi pendokumentasian visual dan spasial, bukan sekadar pengukuran kuantitatif yang rumit.
Salah seorang peserta pelatihan dari Sekolah Alam Rinjani (SAR) menyambut positif inovasi ini karena menjawab kebutuhan teknis mereka di lapangan.
"Selama ini kami sering melihat tumpukan sampah di beberapa titik jalur pendakian, tetapi sulit untuk melaporkan lokasinya secara presisi kepada petugas. Melalui formulir digital ini, kami tinggal ambil foto dan kunci koordinat lokasinya. Selain praktis, data yang kami kirim bisa langsung muncul di peta interaktif, sehingga penanganannya bisa lebih cepat," ungkap salah satu anggota SAR.
Diharapkan, data spasial yang terkumpul secara berkala dapat menjadi rujukan berharga bagi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan pihak terkait dalam mengevaluasi serta menentukan kebijakan pengelolaan sampah di masa mendatang.
Keberhasilan dan keberlanjutan sistem ini akan sangat bergantung pada konsistensi pengisian data oleh para mitra serta pemanfaatan data oleh pemangku kepentingan. Penguatan kapasitas sumber daya manusia lokal melalui Sekolah Alam Rinjani menjadi pijakan utama agar pemantauan sampah berbasis partisipasi masyarakat ini terus berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.

