Nelayan dan UMKM di Sumbawa Berharap Pada Program Jarot-Mokhlis

MandalikaPost.com
Rabu, November 11, 2020 | 21.47 WIB Last Updated 2020-11-11T13:47:17Z

SUMBAWA – Nelayan dan petani adalah dua elemen penjaga ketahanan pangan. Sayang, keduanya kerap tak diperhatikan. Ini lah kesan yang muncul dari beberapa nelayan dan petani di Sumbawa. Mereka mencurahkan perasaannya terhadap pembangunan selama ini.  Harap mereka, ada pemimpin baru di sana. Jarot-Mokhlis dinilai nelayan dan petani, pas menjadi harapan mereka.


Seorang nelayan di Desa Labuan Sangur Kecamatan Maronge Kabupaten Sumbawa, Karnadi (50) meminta pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan warga pesisir dan membangun daerah secara merata. 


Karnadi mengaku, selama ini  nelayan khususnya di Desa Labuan Sangur jarang bahkan ada yang belum pernah mendapat sentuhan bantuan pemerintah daerah termasuk dirinya yang telah puluhan tahun menjadi nelayan.


“Saya selama ini belum pernah mendapat bantuan peralatan atau bantuan perahu dari pemerintah, padahal anggaran itu sangat banyak,” katanya, Rabu (11/11).


Bahkan pemerintah, tambahnya, hanya memikirkan membangun kota menjadi mewah. Sebaliknya, warga di desa-desa seperti Labuan Sangur hanya sedikit diperhatikan.


“Seharusnya pemerintah memberikan kesejahteraan kepada seluruh warga, jangan dulu memikirkan membangun jalan besar di kota kemudian melupakan warga miskin,” ujarnya.


Sejak dulu Karnadi ingin sekali mengembangkan profesinya menjadi nelayan sukses, tetapi terkendala modal dan peralatan yang kurang memadai. Kehidupannya yang datar membuatnya hanya berpikir “Asal anak istri bisa makan tiap hari itu sudah cukup”.


Di sisi lain, pendapatan para nelayan di Labuan Sangur semakin hari semakin menurun, hal itu dikarenakan pandemi covid-19 yang melanda.

Yang dulunya harga rata-rata ikan per kilo mencapai Rp30 ribu, tetapi sejak covid-19 turun 50 persen.


Keadaan itu diperparah lagi oleh penangkapan ikan dengan cara bom oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang datang dari desa lain melalui laut. Bahkan sejak dulu hingga sekarang kegiatan itu tidak pernah diselesaikan oleh aparat keamanan.


Selain bantuan, pemerintah juga tidak pernah berusaha melirik kekayaan dan keindahan alam di Labuan Sangur, padahal ada pulau-pulau kecil yang indah bisa dijadikan spot pariwisata seperti tiga gili di Lombok. 


Ia berharap pemerintah mempedulikan kesulitan dan jerit warga pesisir sehingga pemimpin daerah sadar bahwa masih banyak warga yang belum tersentuh pemerintah.


Lain lagi kisah pengusaha kayu di Kecamatan Lape, Hosan Basri. Saat  ditemui di kediamannya, Selasa, mengatakan, bahwa usahanya yang dibangun sejak lama ini tidak begitu bisa berkembang, karena pemerintah belum benar-benar menerapkan aturan.


“Kalau saya angkut kayu dari Sumbawa untuk dijual ke Lombok, itu harus saya sediakan uang kurang lebih Rp1 juta untuk nyawer aparat di setiap pos menuju pelabuhan,” ungkapnya.


Pemerintah seakan tutup mata dengan kegiatan pungutan liar yang sudah terjadi bertahun-tahun ini. Bahkan kegiatan inilah yang mendorong warga untuk melakukan illegal logging karena terkadang aparat tidak memeriksa dokumen tetapi memperhatikan jumlah uang yang diberikan.


“Saya berharap ke depannya ini tidak terus terjadi, beberapa kali kami sampaikan kepada forum reses DPRD dan forum resmi lainnya tetapi tidak ada tindaklanjut,” tandasnya.


Hosan Basri juga pernah dijajikan sebuah sumur bor oleh Husni Djibril saat berkampanye menjadi Calon Bupati, tetapi sampai sekarang janji itu tidak pernah terealisasi. Sehingga Ia berusaha membuat sumur bor sendiri dan saat ini sumur bor tersebut telah dialiri ke puluhan rumah warga yang kesulitan air bersih.


Kedua warga di atas mengaku sudah menambatkan pilihan kepada paslon Jarot-Mokhlis di pilkada kali ini. Warga Kecamatan Lape umumnya sangat berharap kepada Jarot-Mokhlis untuk mengembangkan Pariwisata, pertanian dan potensi lainnya di Kecamatan Lape.


Terhadap hal ini, Ketua Tim Jarot-Mokhlis Kecamatan Lape, Amir Mahmud, saat ditemui di Lape, Selasa, mengakui bahwa antusias masyarakat warga Lape dari 4 desa sangat luarbiasa,  jarot – Mokhlis dapat diterima dengan baik dengan visi Sumbawa maju.


“Program Jarot-Mokhlis sangat bagus seperti program kesehatan, pendidikan, infrastruktur, pertanian perikanan, birokrasi dan pariwisata. InsyaAllah dari jumlah pemilih sekitar 13 ribu lebih di Lape, Jarot-Mukhlis akan mendapat suara kurang lebih 40 persen,” ungkapnya. 


Dia menguraikan, di sana ada Labuan Trata dan Labuhan Kuris untuk dijadikan pengembangan sektor kelautan. Juga ada air terjun Tiup Sai yang sering dikunjungi tetapi belum pernah dikembangkan.


Demikian juga pada sektor pertanian, Kecamatan Lape memiliki bendungan Mamak yang dapat mengairi seluruh lahan pertanian yang luasnya sekitar 3.000 ha di Lape jika pemerintah mau membangun infrastruktur yang paten maka kesejahteraan masyarakat dapat dicapai.


“Kami berharap Jarot-Mokhlis dapat membangun infrastruktur, membangun industry, membangun pariwisata agar masyarakat sejahtera,” tandasnya. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Nelayan dan UMKM di Sumbawa Berharap Pada Program Jarot-Mokhlis

Trending Now