Memanfaatkan Moment Ketindihan untuk Meraga Sukma

MandalikaPost.com
Minggu, Maret 28, 2021 | 22.30 WIB Last Updated 2023-03-29T10:05:33Z
Tindihan atau sleep paralysis. / Ilustrasi.

MERASA SADAR dalam kondisi sedang tertidur, namun merasa seperti tak bisa menggerakan tubuh. Beberapa kalangan umum menyebutnya sebagai ketindihan atau tindihan. Namun secara medis kondisi ini disebut sleep paralysis.


Mengenai apa dan mengapa, serta bagaimana mengatasi sleep paralysis secara medis, anda bisa menemukannya dengan mudah cukup melalui mesin pencarian google search.



Misalnya, menurut The American Sleep Disorder Association (1990), sleep paralysis adalah keadaan transisi yang terjadi ketika seseorang mengalami kelumpuhan sementara untuk bereaksi, bergerak atau berbicara ketika tertidur (hypnagogic) atau saat bangun dari tidur (hypnopompic).


Tapi, artikel ini tidak membahas aspek medis tindihan atau sleep paralysis. Namun lebih membahas pada aspek kondisi ini yang sering dianggap sebagai fenomena mistis.


Meski secara medis sudah bisa dijelaskan gamblang, sebagian besar masyarakat kita masih percaya bahwa tindihan disebabkan faktor non medis, supranatural dan astral.


Yang sudah pernah mengalaminya pasti tahu benar rasanya. Ada kepanikan, ketakutan, dan biasanya disertai bulu kuduk merinding usai melewati fase tindihan. Tak sedikit pula yang disertai halusinasi seperti ada sesosok mahluk tak kasat mata berada di dekatnya.


Sebenarnya fenomena tindihan ini tidak berhubungan dengan kegiatan mahluk astral, apalagi ada roh jahat atau sejenis jin jahat yang berusaha merasuk dengan cara menindih. Sehingga fenomena ini disebut tindihan.


Bukan. Sama sekali bukan. Tindihan atau sleep paralysis sebenarnya justru terjadi karena kondisi gelombang otak sedang berada di frekwensi paling nyaman. 


Sayangnya, tidak semua yang mengalami tindihan kemudian berani meneruskan proses sleep paralysis sampai tuntas dengan sendirinya. Lebih banyak, berusaha bangun dan terjaga karena panik dan takut.




Padahal, moment tindihan itu bisa kita manfaatkan untuk meraga sukma atau melakukan astral projection, proyeksi astral. Dimana kita bisa menjelajah kemana saja tanpa batasan ruang dan waktu, secara astral, tubuh halus kita. Dan bisa kembali sadar di saat perjalanan astral kita rasa sudah cukup.


Meraga Sukma dalam Sistem Keyakinan


Menurut sistem keyakinan yang berkembang di masyarakat, meraga sukma adalah aktivitas semacam pelepasan sukma/ruh. Dalam hal ini, sukma/ruh keluar dari tubuh fisik. Dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu. Kemampuan pelepasan tersebut dilakukan dengan tehnik khusus. 


Meraga Sukma atau astral projection. / Ilustrasi. 

Meraga sukma dalam sistem keyakinan, digambarkan sebagai sebuah kondisi terpisahnya antara tubuh fisik dan sukma/ruh manusia. Tapi tidak seperti orang mati. Dimana tubuh fisik dalam kondisi tertidur. Proses meraga sukma bersifat sementara. Dalam kurun waktu tertentu. Dan sukma/ruh pelaku dapat kembali ketubuh fisiknya ketika sudah dianggap selesai.


Keluarnya ruh/sukma dari tubuh dilakukan untuk kepentingan tertentu. Seperti diantaranya memasuki dimensi alam ghaib. Memasuki dimensi bangsa jin, siluman, alam barzah (alam manusia yang sudah meninggal). Atau ke tempat tertentu di dimensi dunia.


Keilmuan meraga sukma banyak digunakan oleh pelaku untuk melakukan semacam perjalanan spiritual. Ada banyak istilah yang digunakan untuk fenomena tersebut. Seperti ragasukma, ngrogo sukmo, dan rogo sukmo. Secara global meraga sukma dikenal dengan sebutan astral projection atau proyeksi astral.


Cerita Tentang Meraga Sukma


Di Indonesia, meraga sukma banyak berkembang dalam keilmuan spiritual Jawa kuno. Menjadi semacam tradisi. Disebut kejawen. Biasanya, untuk mencapai kemampuan meraga sukma, pelaku melakukan semacam ritual khusus. Salah satunya latihan meditasi.


Dalam tradisi kejawen, meraga sukma bertujuan untuk menjumpai sedulur papat (saudar empat) dan kelima pancer. Sedulur papat kelima pancer ini, disebut sebagai entitas yang hidup di dimensi astral. Eksistensinya, muncul berbarengan dengan lahirnya manusia. Menjadi bagian dari kehidupan yang berfungsi sebagai ruh pembimbing/penjaga. Bahkan jika terkoneksi dengan baik dengan kemampuan khusus, bisa diajak komunikasi.         


Meraga sukma disebut sebagai ilmu tingkat tinggi. Seseorang yang mampu melakukannya, akan memiliki kesaktian.


Dalam legenda Jawa tokoh yang diceritakan menguasai ilmu tersebut banyak. Diantaranya yakni Sunan Kalijaga. Dan muridnya Ki Ageng Selo. Inilah yang kemudian membuat Ki Ageng Selo memiliki kemampuan tingkat tinggi berupa menaklukkan petir. Dan ada banyak cerita lain, terkait dengan meraga sukma.


Teknik dan Cara Meraga Sukma 


Ada banyak tehnik dan cara meraga sukma. Bagi yang terbiasa berlatih meditasi, biasanya lebih cepat mencapai kondisi semedhi. 


Semedhi adalah kondisi gelombang otak rendah. Hal ini dicapai saat manusia dalam kondisi fokus atau khusuk. Makanya, orang yang terbiasa meditasi dapat mengalami fenomena yang digambarkan dalam keilmuan meraga sukma.


Kondisi gelombang otak rendah juga terjadi saat manusia dalam kondisi hipnosis. Kondisi hipnosis ini disebut trance. Maka, orang yang dalam kondisi hipnosis dapat pula mengalami fenomena yang digambarkan ketika orang meraga sukma.


Bagi praktisi yang sudah terbiasa dan paham, kondisi tindihan atau sleep paralysis bisa dimanfaatkan sebagai momen untuk meraga sukma.


Meraga sukma juga bisa dilakukan dengan Self Hipnosis, namun hal ini harus dilakukan dengan bimbingan seorang pembimbing.


Meraga sukma juga bisa dilakukan dengan Tehnik Self Suggestion. Bagi yang tipe sugestif, tehnik self hipno adalah cara cepat untuk merasakan fenomena meraga sukma.


Secara global manusia terbagi dalam 3 tipe sugestivitas (sesuai statistik dunia); Tipe sangat Sugestif 10%, moderat (sedang) 85%, dan sulit dipengaruhi 5%.





Jika seseorang masuk dalam tipe sugestivitas tinggi, maka secara otomatis dapat lebih cepat mengalami fenomena meraga sukma. Untuk caranya, ada begitu banyak tehnik self hipno, anda dapat mencobanya. Saat trance, anda dapat meraga sukma.


Meraga sukma dengan teknik pendeta Tibet juga bisa dilakukan. Konon, para pendeta di tibet banyak melakukan cara ini. Yakni meregangkan secara bergantian otot tubuh fisik. Caranya, kejangkan otot tangan beberapa kali, terus lengan, perut, dada dan punggung hingga ke kaki. Namun untuk otot kepala dan leher, jangan dikejangkan. Lakukan secara perlahan dengan khusuk.


Aktivitas ini, memungkinkan terjadinya rangsangan pada otak untuk tetap sadar penuh. Dimana kemudian tubuh fisik tertidur. Hingga mengalami fenomena meraga sukma.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Memanfaatkan Moment Ketindihan untuk Meraga Sukma

Trending Now