Iklan BNS

Pengusaha "Nakal" Banyak Edarkan Daging Impor di NTB

Ariyati Astini
Senin, April 5 | 15.33 WIB


Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, H Khairul Akbar.

MATARAM - Kementerian Perdagangan (Kemendag) rencananya akan memproduksi 121.119 ton sapi dan kerbau. Namun di NTB daging impor hanya diizinkan untuk hotel-hotel saja. Kendati demikian masih banyak pengusaha nakal justru menjual daging impor dengan harga lebih murah.


Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, H. Khairul Akbar mengatakan, memang kedepannya diharapkan NTB akan memasok sendiri untuk daging sapi. Selama ini pengiriman daging dari luar hotel-hotel tertentu saja tidak diharapkan ke masyarakat. Hanya saja banyak pengusaha nakal justru mengedarkan dengan harga miring, karena harga daging lokal juga memang lumayan tinggi antara Rp 120-130 ribu perkilogram. 


“Ini kan dari sisi harga lebih murah, sehingga masyarakat lebih ingin. Cuma peduli bagaimana meningkatkan pendapatan peternak, memang dari pemerintah juga mengharapkan pasokan daging itu dari daerah saja, ”ujar H. Khairul Akbar. 


Masalah daging impor ini merupakan perdagangan bebas, tidak bisa menghindar. Artinya masyarakat bisa memilih, ketika melihat harga yang lebih murah dan demannya banyak maka akan didatangkan lagi daging impor. Tetapi memang perternak menjadi masalah, lantaran pendapatan mereka menurun. 


“Kalau seandainya mereka lebih banyak memilih daging impor, bisa juga produksi di dalam daerah. Nanti hal ini kita akan koordinasi dengan Gubernur atau Dinas Pergadagan dengan beredarnya daging dari luar ini,” tuturnya. 


Lebih lanjut, agar tidak banyak daging impor masuk dan beredar di masyarakat. Pasalnya peternak bisa merugi dengan kondisi tersebut. Padahal melihat produksi di NTB masih terpenuhi yakni mencapai 20 ribu ton pertahunnya. Sedangkan kebutuhan di NTB hanya 19 ribu ton dan sebagian juga ternak banyak dibawa keluar untuk memenuhi kebutuhan daging. 


“Daerah NTB ini termasuk 4 besar pemasok ternak atau daging diluar NTB, seperti ke Jakarta untuk setiap tahunnya,” terangnya. 


Kendati demikian, selama ini yang dikirim keluar daerah masih dalam bentuk sapi hidup bukan daging. Namun sekarang sudah ada kebijakan daerah, seperti di Dompu untuk mengirim dalam bentuk daging bukan sapi hidup. Agar memberikan nilai tambah jual kepada para peternak. 


“Beberapa kebijakan daerah seperti di dompu bukan pengiriman ternak tetapi daging ini juga salah satu yang kita dorong. Karena juga untuk memfungsikan RPH (Rumah Potong Hewan) kita di Banyumulek,” tandasnya.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pengusaha "Nakal" Banyak Edarkan Daging Impor di NTB

Trending Now

Iklan