Iklan BNS

Mengganggu Kenyamanan Wisatawan, Pedagang Asongan Di KEK Mandalika Harus Segera Ditata

Ariyati Astini
Minggu, Januari 16, 2022 | 13.49 WIB

 

Wisman Yang Dikejar-kejar Oleh pedagang Anak-anak Yang berada di Pantai Kuta Mandalika


LOMBOK TENGAH- Wisatawan yang berkunjung Di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Lombok Tengah  khususnya Pantai Kuta dibuat tidak nyaman oleh para pedagang asongan. Pasalnya, wisatawan kadang-kadang dikejar dan terus dibuntuti untuk membeli barang dagangan mereka.Tak hanya satu bahkan para pedagang Asongan berbondong-bondong mendatangi para pelancong.



Seperti terlihat sebelum kunjungan Presiden Joko "Jokowi" Widodo ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kamis (13/1) kemarin. Dua wisatawan mancanegara dikerumuni pedagang asongan dan anak-anak yang menjajakan pernak-pernik kerajinan tangan seperti gelang dan Kain.  


Ditemu di tempat yang sama, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Tengah, Lendek Jayadi ) mengatakan penanganan masalah pedagang asongan yang membuat risih dan tidak nyaman wisatawan yang berkunjung ke Pantai Kuta Mandalika harus terintegrasi. 


Menurutnya, Perangkat daerah terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata harus menanganinya secara bersama-sama.


"Karena ini banyak anak-anak kita. Ibu bapak gurunya yang paling cepat didengar. Kemudian Dinas Perdagangan harus menyiapkan space untuk pedagang asongan supaya jangan berkeliaran," kata Jayadi Sapaan akrabnya.



Ia menyatakan, pedagang asongan yang berjualan bebas di kawasan Mandalika perlu dibuatkan identitas seperti seragam. Dengan adanya identitas tersebut diharapkan bisa mencegah anak-anak berjualan di kawasan Mandalika.

Anak-anak yang masih usia SD dan SMP tersebut seharusnya berada di sekolah bukan berjualan. Karena dalam usia tersebut mereka berhak mendapatkan pendidikan, bukan disuruh bekerja mancari uang. 

"Karena anak-anak itu ndak boleh marginalisasi kebutuhan dia dalam pendidikan. Belum masanya dia untuk mengais rezeki," ujarnya.


Untuk itu, orang tua mereka perlu diberikan ruang untuk berjualan dengan baik. Tidak harus berjualan di kawasan Mandalika tetapi dibuatkan akses pasar yang tersentralisasi.


Sementara bagi pedagang asongan yang berjualan di kawasan Mandalika, Lendek mengatakan mereka harus diberikan edukasi dan pembinaan. Supaya cara mereka berjualan tidak membuat wisatawan atau pengunjung yang berwisata ke Mandalika tidak terganggu. 


"Kalau pun dia berkeliaran tapi ada cara untuk tidak menimbulkan efek emosional yang kurang baik bagi pengunjung," katanya.


Dalam memberikan penyadaran kepada pedagang asongan, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), Badan Keamanan Desa (BKD) dan desa penyangga KEK Mandalika harus diajak bersama. "Bahwa kesadaran bersama itu menjadi keharusan," ucapnya.


Jayadi berharap PT. Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai pengelola KEK Mandalika bisa menggandeng perangkat daerah terkait yang berada di provinsi maupun kabupaten untuk penanganan masalah sosial dan lingkungan ini. 


"Meskipun KEK Mandalika dikelola oleh ITDC, tetapi masalah sosial dan lingkungan menjadi tanggungjawab bersama.

Kemudian pemerintah desa juga harus ikut terlibat dalam menata sosial dan lingkungan sampai dusun dan RT/RW," pungkasnya



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mengganggu Kenyamanan Wisatawan, Pedagang Asongan Di KEK Mandalika Harus Segera Ditata

Trending Now

Iklan