"Gubuk Derita" Pembawa Bahagia di Kampung Lobster Telong-Elong Lombok Timur

Panca Nugraha
Senin, Oktober 16, 2023 | Oktober 16, 2023 WIB Last Updated 2023-10-16T08:34:35Z
Lalu Tantowi Jauhari menunjukan Lobster siap ekspor di CV LOP Dusun Telong Elong, Desa Jerowaru, Lombok Timur.

MANDALIKAPOST.com - Ratusan petani budidaya lobster air laut di Kampung Lobster Telong Elong, bisa tersenyum sumringah. Harga komoditi lobster ekspor cukup tinggi, dalam posisi stabil pada rate Rp480 ribu hingga Rp560 ribu per kilogram.


Toh, kawasan yang telah ditetapkan sebagai sentra budidaya lobster air laut sejak tahun 2021 ini, terkesan tak optimal disentuh pemerintah. Baik Pemda Lombok Timur, Pemprov NTB, dan Pempus.


Program Kampung Lobster terkesan hanya seremonial belaka. Minim pembinaan, pendampingan, dan penyediaan pasar untuk komoditi ekspor.


Beruntung, masih ada "Gubuk Derita", eksportir lobster yang hadir di kawasan sejak awal tahun 2022. Meski berkantor di bangunan sangat sederhana, CV Lobster Origine Paradise (LOP) mampu menjaga kestabilan harga dan menyediakan pasar ekspor untuk hasil panen petani.


Meskipun dalam kondisi saat ini, selain agak butuh effort untuk penyediaan pakan, para petani juga mulai khawatir dengan wacana dibukanya kembali ekspor Bening Bening Lobster (BBL) ke mancanegara, yang bisa mengancam budidaya kebersinambungan di kawasan.


Dusun Telong Elong secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Jaraknya kurang lebih 65 Km dari Kota Mataram, ibukota NTB. Butuh waktu dua jam perjalanan berkendara dari Kota Mataram ke kawasan tersebut.


Maisiah, wanita pembudidaya lobster, tengah menyiapkan pakan untuk kebutuhan keramba apung di Dusun Telong Elong, Desa Jerowaru, Lombok Timur.

Maisiah (35), tengah memotong-motong ikan sebagai pakan lobster, ketika Mandalika Post berkunjung, Minggu sore 15 Oktober 2023.


Ikan sapu-sapu atau sebutan lokal ikan kapal didapatkannya dari wilayah Kopang, Lombok Tengah, wilayah berbeda Kabupaten yang jaraknya cukup jauh dari Telong Elong.


"Ikan kapal, untuk pakan lobster. Kita cari di Kopang, di kali karena ini ikan air tawar. Cari pakannya yang susah.Tapi harga lobster tetap bagus, sejak ada kolam gudang, "gubuk derita" ini," kata Maisiah.


Rumah ibu rumah tangga ini bersebelahan dengan "gubuk derita", sebutan untuk kolam gudang CV LOP di pesisir pantai.


Maisiah dan suaminya membudidaya lobster menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) yang memiliki 16 lokal. Masa budidaya lobster jenis pasir (Panulirus homarus) berkisar 9 sampai 11 bulan panen. Cukup banyak membutuhkan pakan seiring pertumbuhan lobster.


"Selama ini tidak ada bantuan atau pendampingan pemerintah untuk pakan ini," ujarnya.


Meski butuh kerja keras untuk penyediaan pakan, Maisiah tetap bisa tersenyum bahagia. Sebab harga lobster sedang bagus-bagusnya.


"Kalau panen kita tidak susah jualnya, harganya juga bagus bisa tembus Rp500 ribu lebih perkilo. Jadi walau pun harga beras naik, kita nggak susah lah," tuturnya.


"Gubuk Derita", bangunan kantor dan gudang CV LOP yang sangat sederhana di Dusun Telog Elong, Desa Jerowaru, Lombok Timur.

Air laut sedang surut di pesisir Telong-Elong, Minggu sore 15 Oktober 2023. Aktivitas di "Gubuk Derita" CV LOP tak begitu ramai, karena sampan petani sulit mendarat.


Bangunan kantor sekaligus gudang eksportir lobster itu, nampak sangat sederhana, berdinding batako tanpa plester. Ukurannya tak lebih luas dari bangunan rumah sangat sederhana.


Ada tiga unit kolam karantina di dalamnya, masing-masing berukuran 2 kali 3 meter persegi. Walau terkesan sangat sederhana, gubuk derita adalah pembawa bahagia bagi para petani budidaya lobster di kawasan.


"Disebut gubuk derita karena bangunan kami sederhana saja. Akan tetapi pasar ekspor kami sudah menjangkau sebagian besar Asia Tenggara. Kami juga selalu berupaya mejaga kestabilan harga komoditi lobster konsumsi ini agar petani bisa terus tersenyum bahagia. Seperti saat sekarang ini," kata Lalu Tantowi Jauhari (36), manajer operasional CV LOP.


Kolam karantina di gubuk derita CV LOP.

CV LOP hadir di Telong Elong awal 2022. Menurut Tantowi, inisiasi eksportir lobster ini muncul berkat Marsya, pengusaha wanita muda dari Kota Mataram, yang kemudian bermitra bersama.


"Saya bersama Marsya kemudian menggagas wadah untuk ekspotir ini. Awal merintis memang agak berat, tetapi sekarang alhamdulillah," ujarnya.


Tantowi mengaku cukup lama bergelut dalam bisnis lobster ini. Harga komoditi sempat anjlok cukup parah pada masa pandemi Covid 19, sejak awal 2020 hingga 2021. Selain karena lock down diberlakukan sejumlah negara dan PPKM meluas di Indonesia, masalah konektivitas penerbangan juga banyak yang tutup dan tertunda.


Saat itu petani budidaya berjibaku dengan harga panen Rp170 ribu hingga Rp220 ribu perkilogram.  


"Kemudian awal 2022 kami masuk ke sini. Setelah kami jalani, membenahi packing kualitas dan dari segi pembelian barang, juga mencarikan buyer mancanegara. Marsya bisa membuka pasar ekspor ke Singapura, Malaysia, China Daratan, hampir sebagian besar Asia Tenggara. Keluhan tidak stabil harga akhirnya bisa diatasi," katanya.


Menurut Tantowi, saat ini harga komoditi ekspor lobster sudah stabil di kisaran Rp480 ribu hingga Rp550 ribu perkilogram.


CV LOP juga menjadi salah satu eksportir lobster di Lombok, sekaligus mendekatkan jarak pasar dengan petani pembudidaya. Sehingga ekspor ke luar negeri bisa dilakukan langsung dari Lombok tanpa melalui jalur eksportir Jakarta.


Murdayan, petani budidaya lobster usai melihat keramba apung miliknya di Dusun Telong Elong, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.

Salah seorang petani budidaya Lobster, Murdayan (40) mengaku sangat terbantu dengan hadirnya gubuk derita CV LOP.


"Selain harganya bagus dan stabil, hasil panen kami juga langsung dibayar lunas oleh perusahaan ini. Kalau dulu-dulu kan banyak oknum makelar yang seringkali tidak membayar meski hasil panen sudah kami serahkan," katanya.


Dayan memiliki KJA dengan 24 lokal atau petakan. Kapasitasnya bisa mencapai 2 ribuan ekor Lobster. Dengan pasar yang terjamin dan harga yang stabil, panen raya yang lalu, ayah tiga anak ini bisa menabung untuk bekal naik haji, juga membeli sebuah mobil.


"Ya Alhamdulillah, lobster ini luar biasa. Dan hadirnya gubuk derita ini bisa membuat kami bahagia," kata Dayan.


Selain menampung hasil panen petani budidaya, papar Dayan, CV LOP juga mendampingi dan mengedukasi para petani budidaya untuk budidaya berkesinambungan. Sehingga dengan pola ini panen bisa dilakukan beberapa kali dalam setahun.


Kampung Lobster Masih di Awang-Awang


Namun demikian, Murdayan mengaku saat ini kesulitan petani budidaya adalah ketersediaan pakan untuk lobster. Biasanya mereka menggunakan limbah sisa ikan yang diambil dari TPI, atau pakan lain seperti ikan air tawar dan bekicot.


Sejauh ini, program pemerintah belum menyentuh untuk kebutuhan pakan ini. Tidak ada bantuan, subsidi maupun stimulan untuk pakan.


"Ya untungnya lobster ini pemakan segalanya jadi kami masih bisa cari alternatif pakannya. Pemerintah harusnya membantu dalam hal ini," ujar dia.


Kampung Lobster Telong Elong ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Penetapan itu melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.64/2021 tentang Kampung Perikanan Budidaya. Sebelumnya kampung itu pernah dikunjungi dua menteri kelautan dan perikanan yaitu Edhy Prabowo dan Sakti Wahyu Trenggono.


Pada Jumat 13 Oktober 2023, Pj Gubernur NTB H Lalu Gita Ariadi juga mengunjungi kawasan.


Namun bagi petani budidaya lobster setempat, program Kampung Lobster masih di awang-awang, dan belum membumi.


"Kita tidak diundang, tidak tahu kalau ada Pj Gubernur datang juga. Rombongan cuma maka di resto terapung saja tidak turun ke masyarakat," kata Lalu Tantowi Jauhari.


Menurut Tantowi, Kampung Lobster yang dibuat KKP, programnya memang ada, tetapi implementasinya kurang menyentuh masyarakat nelayan dan petani budidaya lobster.


"Ada banyak problem, seperti bantuan keramba tidak tepat sasaran. Juga tidak adanya pembinaan dan pendampingan. Memang ada bantuan Aquateq dan Bibit Lobster lewat KUB, tetapi kan butuh juga pembinaan dan pendampingan," katanya.


Seharusnya, paparTantowi, pemerintah bisa melakukan edukasi, pembinaan dan pendampingan dalam program Kampung Lobster ini. Termasuk memfasilitasi ketersediaan bibit, ketersediaan pakan, menyediakan pasar, dan juga menjaga kestabilan harga komoditi.


"Kalau mau dikupas ada banyak problem yang harus diuraikan dalam mata rantai bisnis atau industri lobster ini dari hulu hingga hilir. Belum lagi masalah regulasi terkait eksport lobster konsumsi yang seharusnya lebih dipermudah," katanya.


Tulisan Kampung Lobster di Telong Elong, Desa Jerowaru, Lombok Timur, nampak kurang terawat.

Deretan keramba apung di teluk Jukung, Dusun Telong Elong dan sejumlah sampan hilir mudik menjadi pemandangan yang indah, Minggu sore 15 Oktober 2023.


Sederet sepeda motor muda-mudi terparkir, menunggu keindahan sunset. Sementara plang bertuliskan "Kampung Lobster" dengan cat yang mulai memudar, sama sekali belum menampakkan keberhasilan program. Hanya sebuah space areal parkir yang nampak kurang terawat.


"Pejabat cuma datang sesekali saja, sangat jarang. Saatkami bahagia mereka datang, tapi kemana saja mereka saatkami sedag kesulitan," tukas Murdayan.  (*)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • "Gubuk Derita" Pembawa Bahagia di Kampung Lobster Telong-Elong Lombok Timur

Trending Now