Jepang-Inggris Diprediksi Resesi, Pemerintah RI Segera Antisipasi

Panca Nugraha
Senin, Februari 19, 2024 | 23.43 WIB
Sekretaris Kemenko Ekonomi Susiwijono Moegiarso.

MANDALIKAPOST.com - Pemerintah RI melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Ekonomi) menyatakan akan terus memantau perkembangan pertumbuhan ekonomi Jepang dan Inggris yang diprediksi akan memasuki resesi. 


Sekretaris Kemenko Ekonomi Susiwijono Moegiarso mengatakan, pemerintah terus memantau dampak transmisi perlambatan ekonomi Jepang terhadap perekonomian Indonesia.


Menurut Susi, Jepang merupakan salah satu tujuan utama ekspor bagi Indonesia, terutama bagi komoditas batubara, komponen elektronik, nikel dan otomotif. Dalam keterangannya, ia mengatakan ekspor Indonesia ke Jepang sepanjang tahun 2023 berada di peringkat ke-4 senilai US$18,8 miliar (sekitar Rp293,28 triliun).

Kemudian investasi langsung dari Jepang (Foreign Direct Investment Investment/FDI) ke Indonesia tahun 2023 juga berada pada peringkat ke-4 dengan total sebesar US$4,63 miliar (sekitar Rp72,22 triliun).


Saat ini perekonomian Indonesia masih menunjukan resiliensi yang baik. Hal tersebut, lanjut Susi, ditopang oleh permintaan domestik yang terus tumbuh.

Pada sisi lain inflasi tetap terkendali. Meski begitu, pemerintah tetap mengambil beberapa langkah antisipatif untuk menghadapi resesi di Jepang.


“Pemerintah tetap mengambil sejumlah langkah antisipatif terhadap risiko ekonomi global tersebut untuk menjaga perekonomian Indonesia tetap stabil,” kata Susiwijono dalam keterangan resminya, dikutip Senin 19 Februari 2024.


Ia menambahkan bahwa pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menko Ekonomi Nomor 416 tahun 2023 tentang Tim Pelaksana dan Kelompok Kerja Satuan Tugas Peningkatan Ekspor Nasional sebagai tindak lanjut Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2023 tentang Satgas Peningkatan Ekspor Nasional.


Hal ini menurutnya, adalah upaya untuk menjaga ketahanan sektor eksternal RI yakni neraca dagang. Tim Pelaksana dan Satgas Peningkatan Ekspor Nasional tersebut juga diketuai oleh Menko Ekonomi Airlangga Hartarto.


“Satuan tugas tersebut akan berupaya meningkatkan kinerja ekspor nasional guna memperkuat neraca perdagangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi baik melalui penguatan pasokan ekspor, diversifikasi pasar ekspor, penguatan pembiayaan dan kerja sama internasional, serta pengembangan ekspor UMKM,” jelas Susi.


Selain itu, kata Susi, pemerintah mengupayakan membuka pasar ekspor baru untuk meningkatkan pengembangan transaksi ke luar negeri. Saat ini telah dibentuk enam Kelompok Kerja dalam satgas tersebut yang memiliki tugas dan kewenangan masing-masing.


Satgas tersebut juga telah menentukan 12 negara prioritas tujuan ekspor Indonesia yakni Arab Saudi, Belanda, Brazil, Chile, China, Filipina, India, Kenya, Korea Selatan, Meksiko, UEA, dan Vietnam.


Adapun produk ekspor prioritas yang ditetapkan mulai dari ikan dan olahan ikan, sarang burung walet, kelapa dan kelapa olahan, kopi dan rempah olahan, bahan nabati dan margarin, kakao, makanan olahan, bungkil dan pakan ternak, semen, produk kimia, karet dan produk dari karet, kulit dan produk dari kulit, pulp dan kertas, TPT dan alas kaki, logam mulia dan perhiasan, mesin-mesin, elektronik, otomotif, furnitur, serta mainan.


Di samping mengoptimalkan potensi pasar yang telah ditentukan tersebut, Satgas Peningkatan Ekspor tengah berfokus memperluas akses pasar. Caranya dengan mendorong penyelesaian perundingan perjanjian dengan beberapa lembaga internasional


“Khususnya Indonesia-EU CEPA, peluang Indonesia masuk blok perdagangan The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), dan aksesi Indonesia menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD),” pungkas dia.


Menko Ekonomi Airlangga Hartarto menambahkan Inggris dan Jepang memiliki dampak yang berbeda ke ekonomi Indonesia. 


"Kalau ekonomi Inggris kan relatif perdagangan kita tidak terlalu besar, nah yang sangat berpengaruh tentu Jepang," ucap dia.


Lebih lanjut saat Jepang resesi, ia berhadap terjadi peningkatan investasi bidang ekonomi di negara-negara mitra, termasuk Indonesia.


"Biasanya kalau dalam waktu resesi mereka butuh pertumbuhan ekonomi, Nah, mereka akan melihat salah satu yang region bisa tumbuh adalah ASEAN, jadi justru dengan resesi di sana saya berharap insentif dari sana akan semakin mengalir [ke Indonesia]," ucap Airlangga.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jepang-Inggris Diprediksi Resesi, Pemerintah RI Segera Antisipasi

Trending Now