Kritik Pedas Pengembangan Pariwisata Lotim, Jangan Jadi Rentenir di Tengah Potensi Besar

Rosyidin S
Senin, Februari 02, 2026 | 09.17 WIB Last Updated 2026-02-02T01:17:38Z
Destinasi: Salah satu obyek wisata terpopuler di Lombok, Rest Area Pusuk Sembalun, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com – Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dinilai masih berjalan "setengah hati". Pemerintah daerah dianggap terlalu terburu-buru mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi, tanpa membangun fondasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang mumpuni.


Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu tokoh masyarakat yan juga pengamat pariwisata lokal, enggan disebut namanya saat ditemui di kediamannya, Minggu (01/02) kemarin. Ia membandingkan kondisi Lombok Timur dengan Bali yang telah jauh lebih mapan dalam mengelola industri pelesiran.


Narasumber tersebut membuka obrolan dengan kilas balik sejarah pariwisata Bali pada tahun 1932. Kala itu, pariwisata bermula dari ketertarikan sederhana seorang wisatawan Amerika terhadap penjual serabi, yang berujung pada interaksi budaya yang mendalam.


"Masyarakat dan pemerintah Bali jatuh bangun membangun pariwisata. Mereka tidak serta merta menarik retribusi PAD di awal. Konsep pariwisata itu tujuannya mensejahterakan masyarakat terlebih dahulu," ujarnya.


Menurutnya, kesalahan fatal di Lombok Timur adalah menempatkan orang-orang yang tidak memahami ruh pariwisata di posisi strategis. 


"Lain halnya kita di Lombok Timur, orang yang tidak mengerti pariwisata ditaruh jadi kepala dinas. Itu kemungkinan penyebab pariwisata kita tidak maju," tegasnya.


Potensi wisata Sembalun yang sudah mendunia pun tak luput dari sorotan. Ia menilai pemerintah daerah cenderung bersikap layaknya "rentenir" yang hanya ingin memungut hasil tanpa investasi yang serius.


"Misal kawasan Sembalun, siapa yang tidak kenal? Potensi ini tidak serius dibangun, malah ujuk-ujuk menarik retribusi dari hasil pariwisatanya. Kan aneh, emang kita mau jadi rentenir," cetusnya dengan nada kecewa.


"PAD itu dari masyarakat untuk masyarakat. Kalau masyarakat sudah sejahtera lewat pariwisata, pemerintah tidak perlu pusing soal tarikan (uang)," tambahnya.


Pariwisata, menurut narasumber ini, adalah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin baru dinikmati oleh generasi mendatang. Ia juga menekankan pentingnya aspek psikologis dari berwisata, atau yang sering disebut anak muda sekarang sebagai "kurang piknik".


"Pariwisata itu membuat pikiran terbuka. Dampaknya luas, seperti kita bisa belajar ke kerukunan masyarakat, kesejahteraan, hingga keamanan. Semua itu terjadi karena ilmu yang didapat dari berwisata," jelasnya.


Meski memiliki potensi besar, seperti wisata khusus dan religi di Labuan Haji hingga olahraga dirgantara (paralayang/tandem) di wilayah perbukitan, pengembangan wisata di Lotim seringkali terbentur aturan birokrasi, seperti kendala di kawasan TNGR.


Ia menyayangkan adanya pelarangan kegiatan seperti penghijauan atau pengembangan fasilitas dengan alasan merusak lingkungan, padahal tujuannya untuk kesejahteraan rakyat.


"Di Indonesia ini aneh, sesuatu yang berpotensi mensejahterakan masyarakat dibilang merusak. Padahal kita punya pilot tandem, punya atlet, tapi potensinya tidak tergarap maksimal," ungkapnya.


Menutup pembicaraan, ia menekankan bahwa membangun pariwisata membutuhkan pemikiran yang radikal dan keberanian untuk berinovasi.


"Sesungguhnya Lotim punya potensi wisata yg lengkap sea sand sun & culture semoga pada saatnya nanti membawa kesejahteraan bagi masyarakat," pungkasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kritik Pedas Pengembangan Pariwisata Lotim, Jangan Jadi Rentenir di Tengah Potensi Besar

Trending Now