MANDALIKAPOST.com- Musim hujan membawa kekhawatiran tersendiri bagi keluarga Nur Firmansyah. Dua anaknya yang bernama Rifqi Ardiansyah (15) dan Shopia Dktari Muharumi (11), terpaksa harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah terserang demam berdarah dengue (DBD) hampir di waktu yang bersamaan.
Nur menceritakan, Rifqi lebih dulu mengalami demam tinggi sejak pagi hari. Kondisinya disertai muntah dan nyeri tulang hingga membuat tubuhnya terasa lemas. Tidak berselang lama, setelah pulang sekolah Shopia juga menunjukkan gejala yang sama peningkatan suhu secara tiba-tiba.
“Awalnya kakaknya dulu yang panas sejak pagi. Saya kira hanya kelelahan karena bermain kemarin. Tak berselang lama, sepulang adiknya dari sekolah, panasnya juga naik. Panasnya naik turun, disertai muntah dan mereka mengeluh seluruh badan terasa sakit,” ungkap Nur, Selasa (27/01).
Melihat kondisi kedua anaknya yang semakin melemah, Nur segera membawa mereka ke Puskesmas Ampenan. Setelah menjalani pemeriksaan medis, ternyata keduanya terindikasi menderita DBD dan harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Rifqi dan Shopia tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Universitas Mataram pada pukul 14.00 WITA. Keduanya sempat menjalani observasi dan pemeriksaan trombosit, sebelum akhirnya dokter memutuskan agar keduanya menjalani rawat inap guna pemantauan kondisi secara intensif.
“Kami sempat sangat khawatir karena harus merawat dua anak sekaligus yang di ruang rawat inap kelas dua. Alhamdulillah, dokter penanggung jawab, dr. Putu dan perawat lainnya sangat ramah serta cepat dalam memberikan pelayanan,” ujar Nur.
Ia juga menyoroti kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Terdampak cuaca hujan deras mengguyur wilayah Ampenan dan menyebabkan genangan air di sekitar rumah. Ia menduga inilah yang menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko penyebaran DBD.
“Sebagai pekerja swasta, saya membayar sendiri iuran JKN keluarga. Saya bersyukur sekali Program JKN hadir memberikan perlindungan kesehatan, terutama ketika kondisi darurat datang tanpa diduga dan membutuhkan penanganan cepat. Kalau tidak ada Program JKN, biayanya pasti sangat besar, apalagi dua anak saya sakit bersamaan. Dengan JKN, kami bisa fokus mendampingi anak-anak sampai pulih tanpa harus memikirkan biaya,” tutupnya.
Saat ini, kondisi Rifqi dan Shopia terus dipantau oleh tim medis dan menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Nur berharap kedua anaknya segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala DBD, khususnya di musim hujan.

