![]() |
| Rentan: Haeziyah Gazali, Penel pakar Gema Alam, (Foto: Rosyidin/MP). |
MANDALIKAPOST.com – Bencana ekologis dan eksploitasi sumber daya alam di Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan sekadar urusan kerusakan lahan, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup kelompok rentan.
Gema Alam NTB, sebagai bagian dari anggota (Ekosistem) lembaga Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTB, menyoroti betapa negara, daerah terutama sering kali menutup mata terhadap dampak spesifik yang menghantam perempuan dan anak akibat aktivitas penambangan masif.
Hal itu diungkapkan oleh Haeziyah Gazali atau yang akrab disapa Mbak Jiko (Gema Alam), menegaskan bahwa narasi kesejahteraan yang dijanjikan oleh industri pertambangan sering kali menjadi fatamorgana bagi masyarakat lokal. Sebaliknya, yang muncul justru adalah kemiskinan struktural dan degradasi ruang hidup.
Mbak Ciko memaparkan bahwa dampak penambangan terhadap perempuan tidak berhenti pada urusan ekonomi, melainkan merembet ke ranah privat dalam bentuk kekerasan.
Berdasarkan hasil kajian Gema Alam dan WALHI NTB di beberapa titik, termasuk wilayah Kuta, ditemukan korelasi kuat antara kehadiran tambang dengan meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan.
"Dampak penambangan terhadap perempuan dan anak itu bisa menjadi kasus kekerasan. Di beberapa titik penambangan seperti di Kuta, terjadi kekerasan seksual, KDRT, hingga kekerasan ekonomi," ungkap Mbak Ciko dengan nada kritis, saat ditemui belum lama ini.
Ia menambahkan bahwa kemiskinan yang dialami warga bukanlah akibat dari kemalasan, melainkan kemiskinan struktural yang sengaja diciptakan oleh sistem yang timpang.
Krisis ekologis secara otomatis memutus rantai mata pencaharian tradisional. Petani perempuan yang selama ini bergantung pada hasil bumi kehilangan sumber penghidupannya saat alam rusak.
Dampak ini kemudian menciptakan efek domino. Tekanan ekonomi memicu konflik rumah tangga, sementara akses kesehatan reproduksi perempuan semakin terabaikan di area terdampak tambang.
"Perempuan terlalu jauh tertinggal ketika berbicara tentang lingkungan. Padahal, peran-peran domestik itu sangat lekat dengan apa yang disediakan oleh alam. Ketika alam rusak, beban perempuan berlipat ganda," tambahnya.
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah sulitnya perempuan untuk bersuara dan mengungkapkan penindasan yang mereka alami akibat aktivitas industri ekstraktif.
Oleh karena itu, Gema Alam dan WALHI NTB memprioritaskan pendidikan masyarakat untuk membangun kesadaran kritis.
Mbak Ciko menekankan bahwa dalam proses pemulihan atau recovery lingkungan, suara perempuan dan anak tidak boleh lagi dijadikan pelengkap dekoratif, melainkan harus menjadi inti dari kebijakan.
"Perempuan dan anak harus memiliki suara di situ sehingga mereka perlu didengarkan. Menjadi PR kami untuk membangun kesadaran kritis masyarakat, terutama mereka yang selama ini tidak punya suara," pungkasnya.
Hingga saat ini, Gema Alam dan WALHI NTB terus mendesak agar pemerintah daerah melihat isu lingkungan melalui kacamata gender, karena menjaga alam berarti menjaga keselamatan jiwa perempuan dan masa depan anak-anak NTB.

