![]() |
| Diskursus Repok Literasi bersama FJLT dan Ponpes Ibnu Mas'ud, (Foto: Rosyidin/MP). |
MANDALIKAPOST.com – Komunitas penggiat literasi Repok Literasi sukses menggelar diskusi mendalam dalam format podcast bersama perwakilan Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud dan Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT). Diskusi ini mengangkat isu krusial seputar makna "radikalisme" pemikiran, filosofi penciptaan manusia, dan peran jurnalisme.
Acara tersebut berlangsung di Pendopo Repok Literasi, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur ini sekaligus menjadi wadah klarifikasi dan diskursus positif mengenai anggapan yang sempat dialamatkan kepada Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud sebagai lembaga ekstrem atau radikal.
Pendiri Repok Literasi, Muhir, dalam pembukaannya menegaskan bahwa pemikiran radikal tidak selamanya berkonotasi negatif. Menurutnya, pemikiran tersebut justru esensial untuk mendorong perubahan positif.
“Penting juga berpikiran radikal itu. Kalau pun saya bagi kami teman-teman jurnalistik itu, karena kalau tidak memiliki pemikiran radikal maka tidak berkembang, tidak berkembang juga nilai-nilai yang kemudian radikal itu. Tapi yang terpenting kan pemikiran-pemikiran radikal yang luar biasa yang memberikan perubahan pada kehidupan kita,” ujar Muhir, Selasa (11/11).
Diskusi kemudian beralih ke topik filosofis mengenai penciptaan manusia. Salah seorang narasumber meluruskan pandangan umum bahwa anugerah pertama dari Tuhan adalah Al-Iman (keimanan). Namun dibantah oleh Muhir, menurutnya, anugerah yang paling utama diberikan oleh Allah SWT adalah "jabatan" sebagai khalifah di muka bumi.
“
Anugerah yang Allah berikan kepada manusia yang paling afdol, yang paling utama adalah Al-Iman dan jawaban lain itu tidak ada yang salah, tapi jawabannya adalah jabatan. Itu yang paling pertama anugrah khalifah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, itu diartikan sebagai pengganti Tuhan di atas bumi,” jelasnya.
Muhir lantas mengaitkan peran ini dengan fungsi jurnalisme yang ia sebut memiliki "fungsi kenabian", yakni menyampaikan risalah, informasi baik, janji-janji, sekaligus peringatan (ancaman) Tuhan.
“Sesungguhnya alam semesta adalah ayat-ayat Tuhan. Nah, sekarang seperti yang tadi, fungsi kenabian itu dilakukan untuk menyampaikan risalah. Rasulullah sendiri menyampaikan informasi yang baik, menyampaikan janji-janji Allah dan juga menyampaikan ancaman-ancaman Allah SWT (Subhanahuwa ta'ala),” katanya.
Sementara itu, Ketua FJLT, Rusliadi, menyoroti adagium "bad news is good news". Ia mengajak jurnalis untuk beralih fokus melahirkan karya-karya inspiratif yang dapat merubah pola pikir masyarakat.
“Tidak selamanya berita yang buruk itu adalah berita yang menarik, tapi faktanya ketika melahirkan karya-karya yang bisa menginspirasi orang lain justru itu juga berita yang sangat bagus dan menarik. Maka kedepankanlah yang positif, jangan kemudian terjebak pada pikiran-pikiran negatif,” ujar Rusli.
Ia menekankan bahwa informasi perkembangan dunia harus dikemas dengan positif untuk mencerdaskan pembaca. Rusli bahkan mengibaratkan jurnalis sebagai "Abu Hurairah kembali di era zaman sekarang" yang esensi pekerjaannya adalah menyajikan informasi.
Rusli menambahkan, "Pikiran yang positif pasti akan melahirkan kata-kata yang positif. Seorang jurnalis menciptakan karya yang positif karena apa yang di hasilkan oleh teman-teman jurnalis itu adalah sesuatu yang akan dikonsumsi oleh masyarakat,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud, TGH. Fadlullah A. Latief yang akrab disapa Kiyai, menekankan pentingnya metodologi ilmiah bagi kaum muslimin yang memadukan akal dan wahyu (Furqon).
“Kalau kita menatap sebagian kondisi kita, metodologi ilmiah lah gitu. Kalau sekuler mungkin kan yang dikembangkan hanya akalnya saja. tapi kalau kita, metodologi ilmiah kaum muslimin itu ada Furqon yang luar biasa,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai kebaikan dan kerahmatan dapat tersebarluas dengan pendekatan kenabian Rasulullah SAW. Diskusi ini ditutup dengan harapan agar diskursus konstruktif semacam ini dapat terus berlanjut.

