![]() |
| Potong: Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin potong pita dalam acara peresmian sekolah di Lenek, (Foto: Istimewa/MP). |
Pembangunan yang menyasar 36 SD dan 10 SMP di tujuh kecamatan ini merupakan buah kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, serta pihak swasta melalui program Classroom Hope dari Yayasan Happy Hearts Indonesia.
Dalam sambutannya, Bupati Haerul Warisin mengakui adanya keterbatasan anggaran negara dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur pendidikan yang luas. Ia mengapresiasi keterlibatan pihak swasta yang bergerak cepat membantu renovasi sekolah.
"Ini adalah bukti bahwa pemerintah tidak akan pernah mampu membangun sarana pendidikan sendirian. Jika hanya menunggu APBN dan APBD, sekolah-sekolah tidak akan kunjung terbangun. Sinergi antara pusat, daerah, dan swasta harus tampil bersama," tegas Bupati Haerul.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembangunan fisik hanyalah sarana penunjang bagi tujuan yang lebih besar, yakni pembentukan karakter generasi muda.
"Pendidikan adalah fondasi utama. Tidak ada gunanya kita membangun jalan atau sarana fisik yang megah jika anak-anak kita tidak memiliki akhlak, moral, dan ilmu," tambahnya.
Selain urusan fisik sekolah, Bupati juga menyinggung perihal efektivitas layanan publik di sektor lain, terutama kesehatan. Ia memperingatkan tenaga medis agar tidak menghambat pelayanan hanya karena urusan administratif seperti BPJS.
Terkait kinerja kependidikan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, memberikan tantangan serius bagi para kepala sekolah. Baginya, fasilitas yang mumpuni harus berbanding lurus dengan prestasi siswa.
"Bangunannya sudah bagus, tempat belajarnya sudah nyaman. Sekarang tidak ada alasan lagi. Jika sarana sudah lengkap namun prestasi tidak muncul, maka Bapak Bupati tentu akan melakukan evaluasi dan pergeseran kepala sekolah," ujar Wathoni dengan lugas.
Wathoni juga mengapresiasi pola swakelola dalam pengerjaan bantuan kementerian ini, karena terbukti mampu memberdayakan masyarakat lokal dan menggerakkan ekonomi di sekitar lingkungan sekolah.
Ketua Panitia, Nur Hidayati, menambahkan bahwa revitalisasi ini bukan sekadar urusan semen dan batu, melainkan upaya menciptakan ruang yang sehat bagi psikologi pengajar dan murid.
"Perbaikan fasilitas ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi kesejahteraan mental bagi pengajar dan siswa agar proses belajar mengajar lebih optimal," jelasnya.
Acara peresmian tersebut diakhiri dengan pemotongan pita oleh Bupati yang didampingi oleh jajaran Forkopimcam, perwakilan Happy Hearts Indonesia, serta para tokoh masyarakat setempat yang berperan besar dalam hibah lahan sekolah.

