![]() |
| Tergenang: Kondisi rumah warga di Desa Obel-obel yang digenangi air akibat curah hujan tinggi, (Foto: Istimewa/MP). |
Selain faktor cuaca, pendangkalan aliran sungai dituding menjadi penyebab utama air meluap hingga ke pemukiman warga dan lahan pertanian.
Peristiwa ini mulai terjadi Shalat Jumat dan mencapai puncaknya pada sore hari. Berdasarkan laporan di lapangan, luapan air menyasar tiga dusun utama, yakni Dusun Batumpak, Dusun Obel-obel, dan Dusun Kesambik.
Kepala Wilayah (Kawil) Batumpak, Samsul Hakim, menjelaskan bahwa debit air mulai merangkak naik ke area pemukiman sekitar pukul 15.00 Wita. Di wilayahnya sendiri, tercatat hampir seratus hunian warga yang terdampak langsung.
“Hujan deras terjadi sejak siang hingga sore. Air mulai naik ke pemukiman warga sekitar pukul 15.00 Wita. Di Dusun Batumpak saja, ada sekitar 97 rumah warga yang terdampak,” ungkap Samsul.
Tak hanya merendam rumah dengan ketinggian air mencapai setengah meter, banjir ini juga membawa dampak signifikan pada sektor lain.
"Dua tembok bangunan dapur MBG dilaporkan jebol diterjang arus, kurang lebih 40 hektar lahan pertanian warga terendam, mengancam potensi gagal panen. Dan kombinasi hujan ekstrem dan saluran sungai yang sudah mengalami pendangkalan serius," jelasnya.
Meski air dilaporkan mulai surut pada Jumat malam, sisa-sisa genangan masih terlihat di titik-titik dengan kontur tanah yang rendah. Hal ini memaksa sejumlah warga untuk tidak bertahan di rumah mereka demi keamanan.
“Malam ini sudah mulai surut banjirnya, tapi kalau di bagian yang agak rendah posisi rumahnya masih ada genangan. Sehingga warga memilih mengungsi di rumah tetangga,” tambah Samsul menjelaskan situasi terkini warga di lokasi.
Sejauh ini, warga secara mandiri mulai membersihkan sisa-sisa material banjir sembari tetap waspada terhadap potensi hujan susulan yang mungkin terjadi di wilayah Lombok Timur.

