![]() |
| Literasi: Antusias anak-anak di Dusun Kebon Daya saat bermain sambil belajar, (Foto: Istimewa)MP). |
Program ini digagas oleh Linda Wahyuni bersama temannya, seorang mahasiswi setempat yang merasa terpanggil untuk membenahi pola aktivitas anak-anak di lingkungannya. Pada hari pertama pembukaan, sebanyak 36 anak dari jenjang TK hingga SMP antusias memadati lokasi. Memasuki hari kedua, jumlah peserta terus meningkat, menunjukkan dahaga akan ruang belajar yang inklusif di tingkat dusun.
"Berani Cahaya" tidak sekadar menjadi tempat bimbingan belajar biasa. Program ini mengintegrasikan pendampingan baca-tulis, mengaji, hingga pengenalan Bahasa Inggris. Lebih dari itu, penanaman karakter melalui pembiasaan disiplin dan etika menjadi pilar utama dalam kurikulum yang mereka terapkan.
Linda Wahyuni, selaku inisiator, mengungkapkan bahwa gerakan ini lahir sebagai respons atas realita sosial di mana waktu luang anak-anak habis di layar ponsel.
"Kami melihat banyak adik-adik yang sepulang sekolah waktunya habis untuk bermain game tanpa pendampingan. Kami juga melihat mulai berkurangnya pembiasaan etika sederhana. Dari situ kami merasa harus ada ruang yang bisa mengarahkan mereka secara perlahan," ujar Linda, Rabu (25/2).
Ia menegaskan bahwa visi "Berani Cahaya" bukan untuk mengekang keceriaan masa kecil, melainkan menanamkan benih keberanian intelektual.
"Anak-anak ini punya potensi besar, mereka hanya butuh ruang dan perhatian. Kami ingin sore mereka diisi dengan diskusi dan keterampilan, termasuk Bahasa Inggris agar mereka punya keberanian global. Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi?" tegasnya dengan nada menggugah.
Uniknya, Linda juga melibatkan siswi-siswi SMA setempat sebagai pendamping belajar. Hal ini dilakukan agar remaja perempuan di Dusun Kebon Daya memiliki wadah untuk melatih kepemimpinan dan rasa tanggung jawab sosial sejak dini.
"Terlebih adek-adek akan menempuh pendidikan lebih tinggi (kuliah), disinilah tempat mereka mengasah mental dan skill masing-masing," tutur pindah penuh semangat.
![]() |
| Literasi: Semangat belajar anak-anak di Dusun Kebon Daya, (Foto: Istimewa/MP). |
"Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Ini gerakan yang baik untuk anak-anak kita. Semoga bisa terus berjalan dan menjadi solusi nyata atas aktivitas anak di luar jam sekolah," ungkapnya.
Meski baru dimulai, para penggagas berharap pemerintah desa dapat memberikan perhatian lebih agar program ini tidak sekadar menjadi gerakan sesaat, melainkan menjadi budaya belajar yang berkelanjutan.
"Harapan kami, Dusun Kebon Daya dapat menjadi percontohan bagi dusun-dusun lain dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang kreatif dan berwawasan luas," pungkasnya penuh harap.
Bagi masyarakat yang ingin memantau perkembangan atau berkolaborasi dengan gerakan ini, informasi lebih lanjut dapat diakses melalui akun Instagram resmi di @beranicahaya_ba.


