![]() |
| Tergenang: Warga Kaliantan melihat kondisi lahannya yang digenangi banjir, (Foto: Istimewa/MP). |
Kondisi lapangan yang biasanya menjadi pusat keramaian kini berubah menjadi genangan air. Tidak hanya area panggung utama, akses jalan menuju pantai serta lapak-lapak pedagang pun turut terdampak, memaksa para pelaku UMKM lokal memutar otak agar tetap bisa berjualan.
Mahni (39), salah satu pedagang yang sudah bersiap di lokasi sejak sepekan lalu, mengungkapkan bahwa atmosfer tahun ini terasa jauh berbeda. Jika biasanya menjelang puncak festival kawasan Pantai Kaliantan sudah dipadati pengunjung, kali ini pemandangan justru sebaliknya.
“Sudah seminggu lebih saya berjualan di sini tapi kondisinya masih sepi. Bagaimana tidak sepi? Kondisi lapangan saja seperti ini (banjir), belum lagi di jalan menuju ke sini juga banjir,” keluh Mahni saat ditemui di lokasi.
Ia menambahkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, area tersebut sudah dipenuhi deretan lapak dan wisatawan yang menikmati suasana pantai sebelum ritual Bau Nyale dimulai. Namun, rendaman air membuat banyak calon pengunjung enggan datang.
Senada dengan Mahni, Nuruddin, seorang warga setempat, menjelaskan bahwa banjir ini dipicu oleh meluapnya bendungan Embung Bedah. Luapan air tersebut merendam seluruh area strategis yang telah dipetakan untuk acara tahunan ini.
“Setiap tahunnya lokasi Festival Bau Nyale di sini, baik itu panggung hiburan dan lapak pedagang. Sudah kami petakan lokasinya. Tapi kalau banjir seperti ini terus, siapa yang mau ke sini?” ujar Nuruddin dengan nada khawatir.
Kondisi ini memaksa para pedagang untuk menggeser lokasi lapak mereka ke tempat yang lebih tinggi, meski area tersebut kurang strategis dibandingkan lokasi asli di lapangan utama. Nuruddin menyebut hampir seluruh area lapangan kini tidak dapat difungsikan secara maksimal.
Masyarakat dan pedagang kini hanya bisa berharap adanya penanganan segera atau cuaca yang membaik agar air segera surut sebelum puncak Festival Bau Nyale tiba. Jika tidak, salah satu tradisi budaya terbesar di Lombok ini terancam kehilangan kemeriahannya.

