![]() |
| Ilustrasi Virus Nipah ( Ist) |
MANDALIKAPOST.com— Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan hingga saat ini belum ditemukan kasus Penyakit Virus Nipah di Indonesia, termasuk di wilayah NTB. Meski demikian, pemerintah daerah tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat tingkat kematian virus tersebut tergolong tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Lalu Hamzi Fikri, mengatakan bahwa masyarakat diminta untuk tidak panik menyikapi isu Virus Nipah, namun tetap meningkatkan kewaspadaan secara proporsional.
“Sampai saat ini belum ada laporan kasus Virus Nipah di Indonesia maupun di NTB. Prinsip yang kami terapkan adalah tenang namun waspada, dengan tetap memperkuat sistem surveilans, deteksi dini, dan kesiapan respons apabila ditemukan kasus suspek,” ujar Lalu Hamzi Fikri, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae, dengan tingkat kematian yang cukup tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan antisipasi menjadi hal yang sangat penting.
Penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, baik hewan liar maupun domestik, termasuk paparan ekskresi dan sekresi hewan. Selain itu, penularan juga dapat terjadi antar manusia melalui cairan tubuh seperti droplet, urin, dan darah, serta melalui benda atau makanan yang terkontaminasi virus.
Masa inkubasi penyakit ini umumnya berlangsung selama 4 hingga 14 hari, dengan gejala awal berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. Dalam kondisi tertentu, gejala dapat berkembang menjadi pusing, mengantuk berlebihan, penurunan kesadaran, hingga munculnya tanda gangguan neurologis yang mengarah pada ensefalitis akut.
Lalu Hamzi Fikri menambahkan, terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penularan Virus Nipah. Di antaranya adalah pelaku perjalanan dari negara terjangkit, peternak dan pemotong babi di area peternakan yang berdekatan dengan populasi kelelawar buah sebagai reservoir alami virus, serta masyarakat yang mengonsumsi produk makanan seperti nira atau buah yang terkontaminasi.
“Sampai saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk Virus Nipah. Penanganan masih bersifat suportif, sehingga pencegahan dan kewaspadaan menjadi kunci utama,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar tenaga kesehatan dan anggota keluarga yang melakukan perawatan terhadap pasien dengan gejala mencurigakan tetap menerapkan standar pencegahan dan pengendalian infeksi.
Pemprov NTB mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menghindari konsumsi makanan yang berpotensi terkontaminasi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada Virus Nipah, khususnya setelah melakukan perjalanan atau kontak berisiko.

