![]() |
| Ketupat: Suasana perayaan lebaran anak atau dikenal lebah ketupat di salah satu desa yang ada di Lombok Timur, (Foto: Istimewa/MP). |
Dibawah rimbun pohon kelapa dan aroma tanah basah, warga suku Sasak berkumpul untuk merayakan tradisi turun-temurun yang unik, yakni Lebaran Anak, sebuah momentum spiritual yang menempatkan anak-anak ygsebagai pusat perayaan.
Berbeda dengan silaturahmi formal orang dewasa pada umumnya, perayaan kali ini didedikasikan khusus bagi jiwa-jiwa muda di kaki pegunungan hingga pesisir. Sejak pagi buta, suara takbir dari pengeras suara masjid di wilayah Ketangga telah membelah kabut, mengundang warga untuk mengarak dulang berisi hidangan khas menuju tempat ibadah.
Anak-anak dengan pakaian terbaik mereka tampak berbaris rapi di belakang dulang yang berisi buah-buahan dan opor ayam. Tradisi ini bukan sekadar pelengkap ritual, melainkan bentuk pelibatan aktif generasi muda dalam napas budaya tanah kelahiran mereka.
Tokoh adat sekaligus penjaga masjid setempat, Amaq Asbi, menjelaskan bahwa peran anak-anak dalam ritual ini sangat krusial.
"Kalau sebelumnya anak-anak hanya mengikuti orang tua, pada momen ini mereka adalah bintang utamanya. Kami ingin mereka gembira namun tetap mengenal akar budayanya agar tidak kehilangan jati diri," ujar Amaq Asbi saat mengatur barisan prosesi.
Di balik keriuhan tawa, tradisi ini menyimpan sisi emosional yang mendalam. Setiap butir makanan yang tersaji dalam dulang merupakan pengingat bagi anggota keluarga yang telah berpulang, terutama anak-anak yang meninggal di usia dini.
Salah satu elemen wajib dalam hantaran ini adalah Ketupat Telur. Sajian ini dianggap sebagai medium komunikasi batin antara generasi sekarang dengan para leluhur. Jumlah sajian dalam wadah pun melambangkan jumlah anak dalam sebuah keluarga, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.
"Lebaran ini juga menjadi cara kami mengenang arwah anak-anak dalam keluarga yang sudah tiada. Maknanya agar hubungan antara sesama warga dan anak-anak bisa semakin erat melalui tradisi makan bersama ini," tambah Amaq Asbi dengan nada lirih.
Para tetua adat memandang rumitnya anyaman janur pada ketupat sebagai cerminan kompleksitas hidup manusia yang memerlukan kesabaran untuk diurai. Namun, isi ketupat yang putih bersih menjadi simbol kesucian hati setelah melewati bulan ujian hawa nafsu.
Melalui festival budaya yang menyenangkan ini, masyarakat berharap nilai-nilai luhur Sasak tetap terjaga di tengah arus modernisasi. Dengan pintu rumah yang terbuka lebar bagi siapa saja, tradisi ini sukses memperkuat ketahanan sosial dan persaudaraan antarwarga tanpa memandang status.
Perayaan pun ditutup dengan pemandangan anak-anak yang saling berbagi potongan telur di pelataran masjid, meninggalkan kenangan manis yang diharapkan akan terus lestari hingga masa mendatang.

