![]() |
| Pencarian: Tim SAR gabungan sisir aliran sungai sejauh 5 kilometer untuk mencari korban, (Foto: Rosyidin/MP). |
Memasuki hari kedua pencarian, Senin (9/3), Tim SAR gabungan mulai memfokuskan operasi pada penyisiran aliran sungai yang berada di dekat lokasi kejadian.
Peristiwa memilukan ini bermula sekitar pukul 07.00 WITA. Ibu korban, Yuli, saat itu tengah sibuk melayani pembeli di depan rumahnya. Ia sempat melihat sang buah hati asyik bermain di sebuah kubangan air yang tak jauh dari posisinya. Namun, dalam sekejap mata, keceriaan itu berubah menjadi mimpi buruk.
"Saya masukin uang ke dalam toples, terus saya keluar, anak saya sudah tidak ada. Kondisi saat itu saya syok dan trauma, tidak bisa dibayangkan perasaannya," ungkap Yuli dengan nada getir saat ditemui di lokasi.
Sembari menahan tangis, ia menggantungkan harapan besar pada tim pencari. "Semoga anak saya ditemukan dalam keadaan selamat dan sehat," harapnya
Koordinator Pos SAR Kayangan, M. Darwis, A.Md, menjelaskan bahwa operasi hari kedua melibatkan sinergi dari berbagai unsur, mulai dari TNI/Polri, Tagana, Tim Siaga Bencana Desa (TSBD), hingga Damkarmat dan relawan. Fokus pencarian diarahkan ke aliran sungai karena adanya dugaan kuat korban terseret arus.
"Kita sudah melakukan pencarian dari titik awal yang dicurigai (LKP) sampai aliran sungai sejauh kurang lebih 5 kilometer. Namun, siang ini pencarian kami hentikan sementara karena terkendala cuaca hujan yang mulai turun dan visibilitas yang terbatas jika dilakukan malam hari," ujar Darwis.
Ia menambahkan, medan di sepanjang sungai memiliki tingkat kesulitan tersendiri. "Banyak tumpukan kayu dan bambu di aliran sungai yang menghambat proses penyisiran. Sesuai SOP, kami akan terus melakukan pencarian hingga tujuh hari ke depan," imbuhnya.
Di sisi lain, Kapolsek Sembalun, IPTU Lalu Subadri, menegaskan bahwa segala upaya telah dikerahkan sejak hari pertama, baik secara teknis maupun pendekatan kearifan lokal. Masyarakat setempat bahkan telah melakukan pencarian mandiri hingga malam hari menjelang sahur namun belum membuahkan hasil.
"Kita sebenarnya tidak tahu pasti apakah korban jatuh ke sungai atau ada faktor lain, karena tidak ada saksi mata yang melihat posisi terakhir anak ini selain ibunya saat bermain di halaman. Namun, karena belum ada petunjuk lain, kami berkoordinasi dengan tenaga profesional (Basarnas) untuk menelusuri sungai secara mendalam," terang IPTU Lalu Subadri.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa warga juga telah mengupayakan pencarian secara adat dan spiritual.
"Apa yang dilakukan oleh orang-orang dulu, oleh nenek moyang kita, sudah diupayakan secara spiritual. Kami mencoba semua kemungkinan agar bocah ini segera ditemukan," tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih bersiaga di posko darurat dan akan melanjutkan penyisiran sore ini dengan memperluas radius pencarian hingga 2 sampai 3 kilometer lebih jauh ke hilir sungai

