![]() |
Pengawasan Ternak di Pelabuhan Gili Mas–Lembar Diperketat, Karantina NTB Siaga 24 Jam. |
REPORTER : ABDUL RAHIM
MANDALIKAPOST.com – Aktivitas lalu lintas ternak di kawasan Pelabuhan Gili Mas Lembar menjadi perhatian serius menjelang meningkatnya pengiriman sapi dari Nusa Tenggara Barat ke berbagai daerah di Indonesia. Pengawasan diperketat untuk mencegah penumpukan kendaraan pengangkut ternak sekaligus mengantisipasi masuknya penyakit hewan menular.
Petugas dari Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Nusa Tenggara Barat terlihat melakukan pemeriksaan dokumen serta kondisi kesehatan hewan yang akan dilalulintaskan melalui jalur laut. Pemeriksaan dilakukan terhadap setiap truk pengangkut ternak yang masuk ke area pelabuhan sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan.
Kepala Subbagian Umum Balai Karantina NTB, Dirman, menegaskan bahwa pengawasan di pintu keluar-masuk wilayah NTB dilakukan secara intensif selama 24 jam.
“Petugas kami siaga penuh selama 24 jam untuk memastikan setiap ternak yang keluar maupun masuk wilayah NTB telah memenuhi persyaratan kesehatan dan dokumen karantina,” ujarnya.
Menurutnya, pengawasan di pelabuhan menjadi titik krusial karena tingginya mobilitas pengiriman ternak, terutama sapi dari NTB yang dikenal sebagai salah satu daerah pemasok utama kebutuhan hewan kurban ke Pulau Jawa.
Setiap ternak yang akan dikirim wajib dilengkapi dokumen kesehatan hewan, termasuk sertifikat kesehatan dan sertifikat veteriner dari dinas terkait. Tanpa dokumen tersebut, ternak tidak diperbolehkan melintas.
Selain pemeriksaan administrasi, petugas juga melakukan pengamatan terhadap kondisi fisik hewan untuk memastikan tidak ada indikasi penyakit menular. Salah satu penyakit yang menjadi perhatian adalah Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyerang sapi. Penyakit ini diketahui telah menyebar di beberapa wilayah di Indonesia dan berpotensi berdampak pada sektor peternakan.
“Kami harus memastikan NTB tetap aman dari ancaman penyakit hewan menular. Oleh karena itu pengawasan di pelabuhan diperketat, terutama terhadap sapi yang keluar maupun potensi hewan yang masuk kembali ke wilayah NTB,” jelas Dirman.
Selain aspek kesehatan hewan, pengawasan juga dilakukan untuk mengantisipasi potensi penumpukan truk pengangkut ternak yang kerap terjadi menjelang momentum besar seperti Idul Adha.
Dengan pengawasan ketat di pelabuhan, pemerintah berharap distribusi ternak tetap berjalan lancar tanpa menimbulkan kemacetan logistik maupun risiko penyebaran penyakit hewan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas sektor peternakan di NTB yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemasok utama ternak nasional.

