![]() |
| Koordinasi: Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang gelar rapat koordinasi bersama stakeholder terkait, (Foto: Istimewa/MP). |
Dengan luas kawasan mencapai 1.000 hektare, program ini mengusung misi utama mulai dari memutus rantai ketergantungan petani pada tengkulak melalui penguatan kelembagaan dan hilirisasi yang matang.
Mewakili Bupati Lumajang, Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono, menegaskan bahwa komitmen pemerintah daerah adalah memastikan keuntungan pertanian kembali ke kantong petani. Menurutnya, selama ini siklus pasar sering kali tidak berpihak pada produsen di hulu.
"Selama ini dalam siklus pertanian, keuntungan besar kerap dinikmati oleh tengkulak. Ini yang akan coba diubah dari program ini," tegas Agus Triyono dalam rilis resminya diterima mandalikapost.com, Rabu (15/4).
Lumajang memiliki modal kuat berupa tiga komoditas unggulan yakni Pisang Mas Kirana, Manggis, dan Kentang. Pisang Mas Kirana dan Manggis Lumajang bahkan telah diakui di pasar internasional. Untuk menjamin serapan hasil panen, koordinasi dengan offtaker seperti PT Sewu Segar Nusantara (SSN) telah dilakukan sejak tahap perencanaan.
Fausiah T. Lajda, yang mewakili Direktur Buah dan Florikultura, menjelaskan bahwa Lumajang adalah salah satu dari sedikit daerah yang terpilih menjalankan program strategis ini.
“Ini perlu disyukuri bersama, karena Lumajang mendapatkan program HDDAP di 3 Kabupaten Sekaligus (di Jatim). Kita harus tahu kriteria dan SOP dari offtaker sebelum produksi dilakukan agar meminimalkan potensi kerugian petani,” ujar Fausiah.
Kesiapan infrastruktur pascapanen menjadi sorotan utama dalam kunjungan lapangan di Kecamatan Gucialit dan Desa Jambekumbu. Fasilitas packing house berkapasitas 2–2,5 ton per hari kini telah berfungsi optimal sebagai pusat sortasi dan grading.
Tenaga Ahli HDDAP, Heru Widodo, memberikan apresiasi terhadap integrasi fasilitas tersebut ke dalam alur bisnis petani.
“Dulu packing house ini belum dimanfaatkan secara optimal, namun sekarang sudah terintegrasi dengan alur hilirisasi. Penguatan fungsi ini penting untuk memastikan nilai tambah tetap berada di tingkat petani,” kata Heru.
Di Desa Jambekumbu, Kelompok Tani Mawar Indah bahkan sudah melangkah lebih jauh dengan mengolah hasil panen menjadi produk olahan di bangsal pascapanen. Tak hanya buahnya, efisiensi juga menyentuh hasil sampingan seperti batang pisang yang diolah menjadi pakan ternak.
Dari sisi hulu, penggunaan benih kultur jaringan dan pengendalian hayati menggunakan Trichoderma menjadi standar untuk melawan penyakit layu fusarium. PIC Kabupaten Lumajang, Ircham Riyadi, menjamin bahwa petani tidak akan dibiarkan berjalan sendiri tanpa bekal ilmu yang mumpuni.
“Sebelum penanaman kita juga nanti ada sekolah lapang, jadi tidak perlu ragu, kegiatan ini akan berjalan. Tujuan kita sama, mendukung kesejahteraan petani,” pungkas Ircham.
Dengan kebutuhan pasar yang mencapai 1.500 ton sementara suplai saat ini baru menyentuh angka 750 ton, program HDDAP di Lumajang memiliki ruang tumbuh yang sangat lebar untuk menjadikan daerah ini sebagai lumbung hortikultura modern yang berkelanjutan.

