Jawet Suring, Mengemas Filosofi Dayak dalam Gaya Hidup Modern

MandalikaPost.com
Sabtu, April 18, 2026 | 12.38 WIB Last Updated 2026-04-18T04:39:24Z

Soleo Candra, owner Jawet Suring menunjukan karyanya di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.



MANDALIKAPOST.com - Kerajinan etnik Dayak Jawet Suring di Jalan Kakap I, Kelurahan Bukit Tunggal, terus berkembang sebagai salah satu UMKM unggulan di Kota Palangka Raya. 

Usaha yang dirintis Soleo Candra (45) selama tujuh tahun ini tidak hanya menghasilkan produk kerajinan, tetapi juga mengangkat nilai budaya Dayak Kalimantan Tengah ke panggung yang lebih luas.

‎Di rumah produksinya, Soleo terlihat telaten mengerjakan detail motif Batang Garing yang erupan simbol pohon kehidupan dalam filosofi masyarakat Dayak. Baginya, setiap produk yang dihasilkan bukan sekadar aksesoris, melainkan sarat makna dan nilai spiritual.

‎“Ini simbol hubungan kita dengan Sang Pencipta. Saat dipakai, kita membawa filosofi hidup masyarakat Dayak,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

‎Produk Jawet Suring dikenal memiliki kualitas tinggi karena menggunakan bahan baku pilihan, seperti kulit kayu nyamuk (kapua) yang kuat dan tahan lama. Proses seleksi bahan dilakukan secara ketat untuk memastikan hasil yang awet dan bernilai estetika tinggi.

‎Menyesuaikan perkembangan zaman, Soleo juga melakukan inovasi desain agar produk etnik Dayak lebih diminati, khususnya oleh generasi muda. Salah satunya dengan menyederhanakan desain aksesoris seperti sumping (ikat kepala perempuan Dayak) agar lebih praktis dan fleksibel digunakan dalam berbagai kesempatan.

‎“Sekarang desainnya lebih simpel, bisa dipakai ke acara formal maupun santai, tapi tetap mempertahankan identitas Dayak,” katanya.

‎Beragam produk yang dihasilkan antara lain baju Sangkarut, Lawung, Sumping, Sangkirai, serta berbagai aksesoris berbahan kulit kayu dan rotan. 


Produk tersebut dipasarkan melalui pameran, media sosial, hingga gerai Dekranasda serta toko pernak pernik khas Dayak dengan harga berkisar Rp150 ribu hingga Rp2,7 juta, tergantung bahan dan tingkat kesulitan.

‎Dengan proses produksi yang masih dikerjakan secara manual, Soleo hanya mampu menghasilkan sekitar tujuh set lengkap setiap bulan. Keterbatasan tersebut justru menjadikan produknya eksklusif dan memiliki nilai koleksi yang tinggi.

‎Kini, karya Jawet Suring telah digunakan berbagai kalangan, mulai dari anak muda, tokoh adat hingga pejabat. Ke depan, Soleo berharap produk etnik Dayak dapat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.

‎“Harapan saya, budaya Dayak tidak hanya hadir saat acara adat, tapi juga dipakai dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

‎Keberhasilan Jawet Suring menjadi bukti bahwa UMKM berbasis kearifan lokal memiliki potensi besar untuk berkembang, sekaligus menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan melalui inovasi dan pelestarian budaya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jawet Suring, Mengemas Filosofi Dayak dalam Gaya Hidup Modern

Trending Now