Kemandirian Benih Jadi Kunci, Kementan dan DPR RI Sepakat Akselerasi Swasembada Bawang Putih Nasional

Rosyidin S
Sabtu, April 11, 2026 | 13.01 WIB Last Updated 2026-04-11T05:01:48Z
Kungker: Kunjungan kerja Ketua Komisi IV DPR RI, Titi Soeharto bersama rombongan di Palembang, (Foto: Istimewa/MP).

LEMBANG, MANDALIKAPOST.com – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Komisi IV DPR RI memperkuat komitmen untuk memangkas ketergantungan impor bawang putih melalui penguatan sektor hulu.


Fokus utama diarahkan pada pengembangan perbenihan nasional yang mandiri, adaptif, dan berkualitas tinggi sebagai fondasi kedaulatan pangan.


Dalam Kunjungan Kerja Spesifik ke Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran di Lembang, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026) dua hari yang lalu. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), menegaskan bahwa ketergantungan impor yang masih tinggi harus segera diatasi dengan membenahi fondasi benih di dalam negeri.


"Kualitas benih menjadi faktor paling menentukan dalam keberhasilan pembangunan pertanian. Tanpa benih unggul yang kuat dan adaptif, berbagai program peningkatan produksi tidak akan memberikan hasil optimal di lapangan," ujar Titiek Soeharto dalam keterangan resminya diterima mandalikapost.com, Sabtu (11/4).


Titiek menambahkan, percepatan swasembada memerlukan pembenahan menyeluruh, mulai dari distribusi benih, penguatan kelembagaan, hingga akses pembiayaan bagi petani. Ia juga menyatakan kesiapan legislatif dalam mendukung penguatan anggaran bagi Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).


"Kami ingin membantu apa yang bisa kita bantu untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja dari BRMP Sayuran ini. Katanya kurang dana, insyaallah kita akan perjuangkan untuk tambahan dananya," tegasnya.


Senada dengan hal tersebut, Kepala BRMP Kementan, Fadjry Djufry, memaparkan adanya gap yang signifikan antara kebutuhan nasional dan kemampuan produksi lokal. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 600 hingga 700 ribu ton bawang putih per tahun, sementara produksi lokal baru menyentuh angka 50 ribu ton.


Fadjry menekankan bahwa kemandirian benih adalah harga mati agar Indonesia tidak terjebak dalam risiko strategis ketergantungan pada negara eksportir.


"Tidak mungkin negara lain akan terus memberikan benihnya kepada kita, karena mereka juga eksportir. Jika kita tidak menyiapkan benih sendiri, negara ini tidak akan pernah berdaulat. Di Lembang ini, kita sudah siapkan varietas unggul seperti Lumbu Hijau dan Tawangmangu yang potensinya mencapai 15 hingga 25 ton per hektare," jelas Fadjry.


Ia optimis swasembada dapat dicapai mengingat Indonesia telah menguasai teknologi kultur jaringan dan memiliki peta lahan potensial di atas 1.000 mdpl yang tersebar dari Sumatra hingga Sulawesi. Targetnya, pemerintah akan mendorong perluasan hingga 100.000 hektare lahan tanam secara masif.


Secara terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan kebutuhan dasar masyarakat terus-menerus bergantung pada pasokan luar negeri.


"Tidak boleh lagi kita bergantung pada negara lain untuk kebutuhan dasar kita sendiri. Kita harus produksi sendiri, kita harus kuat dari dalam," kata Mentan Amran.


Ia memastikan Kementan akan terus mengakselerasi ekosistem produksi nasional melalui integrasi teknologi, penyediaan benih unggul, dan perluasan lahan tanam di berbagai wilayah strategis.


"Kita siapkan teknologi, kita siapkan benih, kita siapkan lahan. Tinggal kita percepat gerakan bersama agar produksi meningkat dan ketergantungan impor bisa kita tekan secara bertahap," pungkasnya.


Langkah penguatan perbenihan ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi bagi komoditas bawang putih, tetapi juga menjadi model transformasi bagi berbagai komoditas hortikultura lainnya demi mewujudkan kemandirian pangan berkelanjutan di tengah dinamika global.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kemandirian Benih Jadi Kunci, Kementan dan DPR RI Sepakat Akselerasi Swasembada Bawang Putih Nasional

Trending Now