Lombok Timur Bidik Porang Jadi Komoditas Unggulan, Kapasitas Produksi Tepung Tembus 60 Ton Per Hari

Rosyidin S
Kamis, April 23, 2026 | 23.27 WIB Last Updated 2026-04-23T15:27:12Z
Pabrik: Proses pencucian Porang sebelum diolah menjadi tepung dan chip, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mulai melirik potensi besar tanaman porang sebagai mesin ekonomi baru bagi daerah Patuh Karya. Dengan didukung oleh sumber daya alam yang subur diyakini pengembangan Porang ini menjadi primadona kedepannya bagi petani di daerah setempat.


Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan komoditas ini agar menjadi salah satu produk unggulan yang mampu bersaing di pasar global.


Saat ini, luas lahan budidaya porang di Lombok Timur tercatat sekitar 400 hektare. Meski masih dalam skala terbatas, Bupati optimistis angka tersebut akan terus tumbuh seiring dengan besarnya permintaan pasar dan dukungan infrastruktur pengolahan yang mulai berkembang.


Ditemui saat meninjau sentra pengolahan porang di Kecamatan Pringgabaya pada Kamis (23/4), Bupati mengungkapkan bahwa meskipun hilirisasi sudah berjalan, pasokan bahan baku saat ini masih bergantung pada wilayah luar untuk memenuhi kapasitas mesin produksi.


“Kita memang belum bisa mengandalkan hasil dari daerah sendiri karena luasannya baru sekitar 400 hektare. Karena itu, bahan baku juga kita datangkan dari daerah lain,” ujar Haerul Warisin.


Bupati menjelaskan bahwa pola budidaya petani lokal saat ini masih sangat alami tanpa penggunaan pupuk kimia maupun penyemprotan pestisida dengan masa panen berkisar antara enam hingga sepuluh bulan. Namun, inisiasi di lapangan telah berhasil mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.


“Inisiasi yang dilakukan penggerak di lapangan sudah menghasilkan produk turunan dalam bentuk tepung porang. Produksinya sudah berjalan dengan kapasitas besar, mencapai sekitar 60 ton per hari,” jelas Bupati.


Secara ekonomi, porang menawarkan margin keuntungan yang menjanjikan bagi petani. Selain diolah menjadi tepung yang dibanderol seharga Rp4.000 per kilogram, porang juga diproduksi dalam bentuk chip (irisan kering) dengan harga jual sekitar Rp2.000 per kilogram. Untuk menjaga keberlangsungan produksi, pihak pengolah menerima bahan baku dengan harga pasar saat ini sekitar Rp10.200 per kilogram.


Potensi ini pun mulai dilirik oleh pasar internasional. Bupati menyebutkan bahwa minat dari luar negeri, terutama Tiongkok, sudah mulai terlihat. Ia berharap adanya kolaborasi internasional dapat mempercepat pembangunan infrastruktur dan pabrik pengolahan yang lebih modern.


Untuk menggenjot produktivitas lokal, Pemda Lombok Timur telah menjalin kerja sama strategis dengan kementerian terkait. Langkah ini difokuskan pada pembinaan intensif bagi para petani agar tidak lagi hanya bergantung pada pertumbuhan alami.


“Melalui kerja sama tersebut, petani akan mendapatkan bantuan benih dan bibit untuk meningkatkan produktivitas,” tambah Bupati.


Dengan adanya sinergi antara petani, penggerak lapangan, dan pemerintah, pengembangan porang diharapkan tidak hanya memperkuat sektor pertanian Lombok Timur, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis komoditas unggulan daerah.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Lombok Timur Bidik Porang Jadi Komoditas Unggulan, Kapasitas Produksi Tepung Tembus 60 Ton Per Hari

Trending Now