![]() |
| Langka: Tangkapan layar detik-detik evakuasi seorang warga pingsan saat antri beli gas LPG di pangkalan Lombok Timur, (Foto: Istimewa/MP). |
Kondisi ini memicu kepanikan di tengah masyarakat, mengingat gas melon tersebut merupakan kebutuhan pokok, baik untuk rumah tangga maupun keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah seorang warga, Suratturahman, menceritakan perjuangannya demi mendapatkan satu tabung gas. Ia mengaku telah bersiaga di pangkalan sejak pagi buta, namun kerumunan massa yang membeludak membuat situasi menjadi tidak kondusif.
“Berjam-jam tadi kami menunggu dari jam 9 pagi. Berdesak-desakan karena banyak orang yang ingin membeli gas LPG 3 Kg ini,” terang Suratturahman kepada media.
Kondisi diperparah dengan cuaca panas yang menyengat di wilayah Lombok Timur. Menurut Suratturahman, kepadatan antrean menyebabkan sirkulasi udara memburuk hingga memakan korban.
“Ada juga yang pingsan karena kesulitan bernafas, karena orang mengantri kan berdesak-desakan, cuaca juga tadi cukup panas,” tambahnya.
Meski ada yang pingsan, suasana sempat tegang karena warga tetap bertahan di barisan demi tidak kehilangan jatah gas. Hanya sebagian kecil warga yang bersedia menolong, sementara sisanya tetap fokus mengamankan posisi antrean.
Kelangkaan ini berdampak langsung pada roda ekonomi masyarakat. Suratturahman, yang juga seorang pedagang Terang Bulan Mini, mengaku usahanya nyaris lumpuh. Demi menjaga dapur usahanya tetap mengepul, ia terpaksa mengorbankan kebutuhan logistik keluarganya sendiri.
“Saya siasati pakai gas di rumah, kami makan nasi bungkus, yang penting jualan tetap jalan. Nah hari ini gas saya sudah habis makanya cari keliling ke pangkalan tapi gasnya tidak ada,” keluh Suratturahman.
Ia bahkan menegaskan bahwa masalah utama saat ini bukan lagi soal harga, melainkan ketersediaan barang yang nihil di pasaran.
"Berapapun harganya saya siap beli gas ini yang penting ada, tapi ini kan tidak ada yang kita beli," tegasnya.
Senada dengan Suratturahman, seorang warga bernama Fitri mengungkapkan kekecewaannya. Meski sudah mengikuti prosedur pemerintah dengan membawa dokumen identitas, ia tetap pulang dengan tangan hampa.
“Syaratnya harus bawa KTP untuk beli di pangkalan. Meskipun sudah mengantri sudah dua jam lebih, tapi tidak juga dapat,” keluh Fitri lesu.
Ditempat terpisah, kelangkaan tabung gas LPG ukuran 3 kilogram di wilayah Sembalun pun mulai memukul sektor ekonomi rumah tangga.
Supiani, salah seorang warga yang mengandalkan usahanya dari berjualan pentol rumahan, mengaku terpaksa berhenti beroperasi selama lebih dari sepekan akibat sulitnya mendapatkan gas melon tersebut.
Selain barang yang sulit dicari, harga di tingkat pengecer pun melonjak drastis hingga mencapai Rp27.000 hingga Rp30.000 per tabung.
"Sudah lebih dari satu minggu saya tidak berjualan. Di Sembalun, harga LPG 3 kg sudah seperti harga emas, sangat mahal dan barangnya langka," keluh Supiani dengan nada kecewa, saat ditemui di Sembalun, Minggu (5/4).
Supiani mendesak pemerintah agar tidak membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Ia khawatir jika tidak segera ditangani, harga tinggi yang dipatok pengecer saat ini akan dianggap sebagai harga standar baru di masyarakat, padahal pemerintah belum mengeluarkan kebijakan kenaikan harga migas.
Ia juga mempertanyakan peran aktif jajaran pemerintah setempat, mulai dari tingkat Camat hingga perangkat kecamatan, dalam mengawasi distribusi energi bersubsidi tersebut.
"Kalau dibiarkan terus, ujung-ujungnya rakyat kecil yang dirugikan. Lalu apa fungsinya Camat dan perangkat kecamatan di Sembalun jika hal seperti ini luput dari pengawasan," tegasnya.
Melalui keluhannya, Supiani berharap pihak berwenang segera turun ke lapangan untuk melakukan kroscek langsung terhadap kondisi masyarakat yang kian terjepit.
"Harapan saya, pemerintah menindak tegas pengecer nakal yang sengaja menjual gas melon jauh di atas harga yang telah ditentukan," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap pemerintah daerah dan pihak Pertamina segera melakukan operasi pasar atau menambah pasokan guna meredam gejolak di masyarakat sebelum kondisi semakin tidak terkendali.

