![]() |
| Kesehatan: Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, (Foto: Istimewa/MP). |
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian alat kesehatan (alkes) di lingkungan internal maupun nasional.
Dilansir dari MUHAMMADIYAH.OR.ID, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa pemilihan teknologi asal Italia bukan tanpa alasan. Faktor presisi, durabilitas mesin, dan kualitas kemasan menjadi pertimbangan utama agar produk yang dihasilkan memenuhi standar klinis yang tinggi.
Rencana pembangunan ini merupakan respons atas masifnya kebutuhan medis di jaringan kesehatan milik Muhammadiyah yang mencakup sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 400 klinik di seluruh Indonesia. Dengan memproduksi sendiri, Muhammadiyah berupaya menciptakan ekosistem ekonomi mandiri.
"Daripada membeli dari luar, lebih baik kita produksi sendiri agar bisa menekan biaya operasional rumah sakit Muhammadiyah. Kita ingin membangun sistem close loop di seluruh amal usaha," ujar Muhadjir saat memberikan keterangan di Kantor PWM Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (18/4) beberapa hari yang lalu.
Selain cairan infus, lini produksi ini nantinya akan diekspansi untuk memproduksi alat kesehatan habis pakai lainnya, seperti jarum medis dan perangkat sekali pakai (disposable). Meski fokus pada alkes, untuk saat ini Muhammadiyah belum merambah ke sektor produksi obat-obatan.
Proyek besar ini akan didanai melalui skema investasi berbasis saham dari jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA). Muhadjir mengakui bahwa nilai investasi yang dibutuhkan cukup signifikan, terutama karena penggunaan mesin manufaktur impor yang dikenal tangguh.
"Teknologinya langsung dari Italia. Walaupun mahal, daya tahannya tinggi. Dari sisi kemasan juga lebih baik, sehingga berdampak pada efisiensi operasional," jelas sosok yang juga menjabat sebagai tokoh nasional tersebut.
Kendati mengadopsi teknologi kelas dunia, Muhammadiyah berkomitmen menjaga harga produk agar tetap kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat luas. Bisnis ini ditekankan bukan semata-mata untuk mencari profit, melainkan untuk kemaslahatan umat.
"Kita sudah hitung dengan matang agar harga tetap lebih terjangkau. Tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga bisa bersaing di pasar yang lebih luas," tambahnya.
Adapun timeline embangunan Pabrik, direncanakan bulan Mei 2026 untuk pelaksanaan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Jawa Timur. Pada Tahun 2027, target penyelesaian fisik bangunan sebelum Muktamar Muhammadiyah ke-49.
"Pada Tahun 2028 mendatang, target operasional penuh dan distribusi produk ke jaringan kesehatan," pungkas Muhadjir.
Kehadiran pabrik ini diharapkan tidak hanya memperkuat sirkulasi ekonomi internal Persyarikatan, tetapi juga menjadi katalisator bagi ketahanan kesehatan nasional melalui penyediaan alat kesehatan berkualitas tinggi karya anak bangsa.

