![]() |
| Bocor: Kondisi ruang kelas SDN 5 Kotaraja digenangi air akibat atap bangunan rusak, (Foto: Istimewa/MP). |
Setiap kali awan mendung menggelayut di langit Kotaraja, kecemasan mulai menghantui para guru dan siswa. Bukan tanpa alasan, atap bangunan yang sudah uzur tak lagi mampu membendung air hujan.
Akibatnya, air terjun bebas dari sela-sela plafon yang lapuk, membasahi meja kayu yang mulai melepuh, dan menggenangi lantai tempat anak-anak menuntut ilmu.
Kondisi ini sebenarnya bukan cerita baru. Pihak sekolah sempat menaruh harapan besar saat Dinas Pendidikan di bawah kepemimpinan Izzuddin (mantan Kadikbud) menjanjikan rehabilitasi melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).
Namun, pergantian nakhoda di Dinas Pendidikan seolah menjadi "lonceng kematian" bagi janji tersebut. Hingga kini, realisasi perbaikan itu hilang tanpa jejak, meninggalkan bangunan yang semakin rapuh dimakan usia.
Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Sekolah SDN 5 Kotaraja, Lalu Zohdi, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Baginya, pidato-pidato tentang kemajuan pendidikan terasa hambar ketika melihat realitas di depan matanya.
"Kami lelah hanya diberi harapan. Setiap kali hujan turun, hati saya pedih melihat anak-anak belajar di tengah genangan air. Ini bukan lagi soal kenyamanan, tapi soal keselamatan mereka," ujar Lalu Zohdi dengan nada getir, saat ditemui di lokasi, Sabtu (2/5) kemarin.
Zohdi menegaskan bahwa momentum Hardiknas seharusnya menjadi waktu bagi pemerintah untuk melakukan refleksi jujur, bukan sekadar menggugurkan kewajiban seremonial tahunan. Ia menuntut bukti nyata dari narasi "Pemerataan Fasilitas" yang sering digaungkan pemerintah daerah.
"Jangan sampai peringatan Hari Pendidikan hanya menjadi panggung seremonial dan slogan kosong. Kami butuh bukti nyata, bukan sekadar janji yang menguap setelah pejabat berganti. Anak-anak didik kami berhak mendapatkan ruang belajar yang layak, bukan kelas yang bocor setiap kali langit menangis," tegasnya.
Potret buram di SDN 5 Kotaraja ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Kesenjangan fasilitas pendidikan masih menjadi jurang lebar yang memisahkan antara narasi kualitas dan realitas lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan pihak sekolah masih menunggu kepastian dari pemerintah daerah. Jika dibiarkan terus berlarut, SDN 5 Kotaraja akan tetap menjadi saksi bisu betapa hadirnya negara dalam dunia pendidikan terkadang masih terhalang oleh birokrasi dan janji-janji yang tak kunjung ditepati.
Kualitas pendidikan tidak akan pernah benar-benar meningkat selama masih ada anak bangsa yang harus mengangkat kaki dari lantai kelas karena terendam banjir saat mereka mencoba mengeja masa depan.

