![]() |
| Diskursus: Praktisi ekonomi, Lalu Muhammad Kabul, (Foto: Rosyidin/MP). |
Di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), integrasi program sektoral mulai dari pembangunan infrastruktur pendidikan hingga intervensi gizi di sektor kesehatan dinilai bukan sekadar pembagian tugas administratif, melainkan sebuah strategi holistik untuk menunjang kualitas sumber daya manusia (SDM).
Dalam sebuah diskusi strategis, yang di inisiasi oleh Forum Jurnalis Lombok Timur pada Jumat malam (8/5). Pengamat kebijakan sekaligus pakar ekonomi, Lalu Muhammad Kabul, menekankan bahwa perdebatan mengenai penempatan program (seperti pembangunan gedung sekolah atau program gizi) harus dilihat dari output jangka panjangnya terhadap proses pembelajaran.
"Logikanya sederhana namun fundamental, meskipun pembangunan fisik dikelola oleh dinas terkait, tujuannya adalah menunjang ekosistem pendidikan. Begitu pula program gizi di Dinas Kesehatan, ia adalah instrumen krusial untuk memastikan peserta didik memiliki kapasitas kognitif yang optimal. Ini adalah bentuk sinergi lintas sektoral yang linear," ujar Lalau Kabul dalam diskusi tersebut.
Namun, di tengah upaya sinkronisasi ini, muncul fenomena mengkhawatirkan yang disebut sebagai "The Death of Expertise" atau matinya kepakaran. Fenomena ini merujuk pada kecenderungan publik yang lebih mendasarkan opini pada selera, emosi, dan persepsi pribadi dibandingkan data faktual dari otoritas resmi seperti BPS.
Kondisi ini dianggap dapat mengaburkan capaian-capaian objektif yang telah diraih oleh pemerintah daerah. Para pakar mengingatkan bahwa kebijakan publik yang sehat harus dipandu oleh data, bukan sekadar riuh rendah opini di ruang publik yang sering kali bias.
Menepis keraguan berbasis opini tersebut, data pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lombok Timur menunjukkan tren positif yang signifikan. Berdasarkan trajektori pertumbuhan sejak tahun 2021, Lotim menunjukkan performa sebagai berikut. Di tahun 2021 3,12%, 2022 3,18%, 2023 4,31%, 2024 4,20%, dan di tahun 2025 (Proyeksi) 4,93%.
Dengan angka proyeksi mencapai 4,93% pada tahun 2025, Lombok Timur kini memposisikan diri sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Nusa Tenggara Barat setelah Kota Mataram.
Pencapaian ini disebut sebagai percepatan (acceleration) yang nyata, bukan sekadar pertumbuhan stagnan. Sinergi antara program pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dengan implementasi di tingkat daerah menjadi kunci utama.
"Angka 4,93% ini adalah manifestasi dari percepatan ekonomi yang terukur. Pertumbuhannya bergerak cepat dan linier dengan sinergi pusat-daerah. Ini adalah momentum yang patut didukung secara kolektif karena menyangkut kemaslahatan seluruh masyarakat Lombok Timur," tegas Lalu Kabul.
Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya kembali ke basis data (data-driven policy) untuk mengawal kebijakan pemerintah, agar narasi pembangunan tidak tenggelam dalam gelombang subjektivitas di era informasi saat ini.

