BRIDA NTB Fokus Hilirisasi Hasil Riset dan Inovasi Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Panca Nugraha
Rabu, Juni 03, 2026 | 09.54 WIB Last Updated 2026-06-03T01:54:07Z

BRIDA NTB Fokus Hilirisasi Hasil Riset dan Inovasi Menjadi Produk Bernilai Ekonomi.


MANDALIKAPOST.com – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyelenggarakan kegiatan Mentoring Tenant yang berfokus pada penguatan ekosistem hilirisasi hasil riset dan inovasi daerah.


Kegiatan yang berlangsung di Aula BRIDA NTB pada Selasa (2/6/2026) ini dihadiri oleh 40 pemangku kepentingan, termasuk perwakilan perguruan tinggi, pelaku usaha pemula (tenant), Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta mitra binaan.  


Sebagai bentuk implementasi nyata dari program kerja, BRIDA NTB menetapkan fokus arah pengembangan tenant tahun 2026 pada tindak lanjut hasil riset hingga mencapai tahap hilirisasi. 


Langkah strategis ini ditempuh guna mentransformasikan hasil penelitian menjadi produk inovatif yang memiliki nilai tambah ekonomi, pemenuhan standar pasar, serta daya saing tinggi, yang pada gilirannya mampu menopang pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.  


Ketua Koordinator INTRAIL, Lale Ira Amrita Sari, ST, M.MInov, dalam pengantarnya menyampaikan apresiasi atas partisipasi seluruh elemen pemangku kepentingan yang hadir. Beliau menegaskan bahwa program hilirisasi ini menyasar perguruan tinggi dan sektor UMKM secara sinergis agar ekosistem inovasi dapat terbangun secara terintegrasi.  


Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Ariyadi, S.Sos., M.H., selaku narasumber utama memaparkan materi mengenai pentingnya hilirisasi produk inovasi sebagai penggerak ekonomi daerah. 


Dalam penjelasannya, ia menggarisbawahi tantangan struktural yang dihadapi daerah dalam mengoptimalkan kontribusi riset terhadap perekonomian.  


"Sesuai dengan misi pembangunan Nusa Tenggara Barat, inovasi yang dihasilkan harus mampu memberikan dampak ekonomi nyata melalui dukungan riset yang berorientasi pada kebutuhan pasar. Proses hilirisasi dimulai dari tahap penelitian dan pengembangan, pembuatan prototipe, pengujian produk, penyempurnaan kualitas, hingga komersialisasi," ujar I Gede Putu Ariyadi.  


Lebih lanjut, Kepala BRIDA NTB menjabarkan sejumlah tantangan yang wajib diintervensi, di antaranya keterbatasan modal usaha, akses pasar, legalitas dan sertifikasi produk, serta penguatan kerja sama industri. 


Untuk itu, BRIDA NTB mengambil peran strategis sebagai fasilitator melalui pendampingan, inkubasi bisnis, penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Beberapa program yang telah menunjukkan keberhasilan antara lain optimalisasi pengolahan anggur menjadi wine halal, pemanfaatan kotoran kelelawar untuk pupuk, serta pengembangan kosmetik berbahan baku lokal.  


BRIDA NTB Fokus Hilirisasi Hasil Riset dan Inovasi Menjadi Produk Bernilai Ekonomi.



Sinergi riset dari sektor akademis dipaparkan oleh Dosen Universitas Mataram (UNRAM), Rini Nofrida, S.TP., M.Si. Beliau menjelaskan peran Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (FATEPA) UNRAM dalam mengembangkan inovasi teknologi untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan pangan di NTB. 


FATEPA berfokus pada diversifikasi pangan lokal—seperti pengolahan MOCAF, sorgum, dan komoditas agroindustri lainnya—serta pengembangan teknik pertanian modern seperti sistem sortasi berbasis sensor dan teknologi Internet of Things (IoT).  


Rini Nofrida menekankan perlunya kemitraan kuat di sektor hulu untuk menjamin ketersediaan bahan baku serta dukungan regulasi pemerintah terkait perizinan usaha guna mempercepat komersialisasi produk riset ke pasar yang lebih luas.  


Kegiatan mentoring ini juga membuka ruang dialog interaktif bersama para pelaku usaha. Perwakilan UMKM menyampaikan aspirasi terkait perlunya simplifikasi birokrasi, fasilitasi akses pasar di kawasan strategis seperti Mandalika, penyediaan standardisasi legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), serta keberlanjutan program bantuan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.  


Sebagai penutup, perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Mataram menyampaikan catatan penting mengenai arah kebijakan inovasi ke depan. 


Diperlukan pergeseran indikator keberhasilan dari yang semula berbasis kuantitas (jumlah inovasi) menjadi berbasis kualitas, sehingga dampak keberlanjutan dari setiap riset dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas.  


Berdasarkan hasil pertemuan tersebut, BRIDA NTB merumuskan sejumlah rencana tindak lanjut strategis, meliputi penguatan kolaborasi multipihak (pentahelix), fasilitasi legalitas dan sertifikasi HKI, serta perluasan jejaring pasar. Memasuki tahun anggaran 2027, pendampingan UMKM oleh BRIDA NTB akan difokuskan pada sertifikasi varietas untuk memperoleh izin produk dan lisensi guna menembus pangsa pasar yang lebih kompetitif.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • BRIDA NTB Fokus Hilirisasi Hasil Riset dan Inovasi Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Trending Now