![]() |
| Pendidikan: Gedung Insitut Agam Islam Hamzanwadi Pancor. (Foto: Rosyidin/MP). |
Kehadiran program pascasarjana di kampus yang berlokasi di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, menjadi bukti komitmen institusi dalam memperluas akses pendidikan Islam yang berkualitas, integratif, moderat, serta responsif terhadap tantangan zaman.
Direktur Pascasarjana IAIH Pancor, Prof. Dr. H. M. Taufik, M.Ag., menjelaskan bahwa program magister ini dirancang dengan masa studi selama empat semester. Di tengah tingginya biaya pendidikan tinggi saat ini, S2 Studi Islam IAIH Pancor hadir dengan komitmen biaya yang sangat terjangkau bagi masyarakat tanpa mengorbankan mutu akademik.
"Biaya pendidikan di program ini dirancang lebih ekonomis, murah tapi tidak murahan dari segi kualitas," ujar Prof. Taufik saat memberikan keterangan.
Selain keunggulan dari sisi biaya, program pascasarjana ini memiliki keunikan karena terintegrasi langsung dengan lingkungan pondok pesantren yang menjadi akar historis dan ciri khas IAIH Pancor. Prof. Taufik menekankan bahwa model pembelajaran didesain secara mendalam agar mahasiswa mampu menelaah Islam dari berbagai sudut pandang keilmuan yang luas, seperti syariah, usul fikih, dan nilai-nilai Islam universal.
"Di dalam prosesnya, mahasiswa dituntut untuk berpikir radikal dalam arti mendalam dan mengakar secara akhlakliyah. Ini juga bersambung dengan fokus kita dalam mengkaji soal literasi Timur Tengah," terangnya.
Untuk mendukung jalannya perkuliahan pada kampus yang dipimpin oleh TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi ini, pihak rektorat telah menyiapkan jajaran tenaga pengajar yang sangat kompeten. Pascasarjana IAIH Pancor saat ini diperkuat oleh sumber daya internal yang mumpuni, termasuk tiga guru besar (profesor) yang siap mengampu berbagai disiplin ilmu.
"Kalaupun kita menggunakan potensi internal orang-orang kita saja, itu sudah sangat cukup," tegas Prof. Taufik optimis.
Ia menambahkan bahwa keahlian para dosen tersebut telah disesuaikan dengan kebutuhan lembaga agar akselerasi perkembangan program studi baru ini berjalan lebih cepat.
Program Magister Studi Islam yang nantinya akan menyematkan gelar akademik M.Si. (Magister Studi Islam) ini diproyeksikan memiliki kelas-kelas yang berkarakter dengan konsentrasi keilmuan yang spesifik. Prof. Taufik pun optimistis, lewat sinergi dan dukungan dari berbagai pihak, program ini akan melahirkan generasi baru intelektual Muslim yang kokoh.
"Saya yakin kita bisa, insyaallah. Apalagi kalau teman-teman semua ikut membantu mengawal kelas ini, kita bisa membuka kelas-kelas yang semuanya berkarakter," pungkasnya.
Dengan resminya pembukaan Program S2 Studi Islam ini, IAI Hamzanwadi Pancor kian mempertegas posisinya sebagai kiblat pendidikan tinggi Islam yang terus bertransformasi. Kampus ini kini mengundang masyarakat luas dan para sarjana untuk bergabung dalam perjalanan intelektual, selaras dengan motto yang diusung "Maju dalam Berbudaya, Terdepan dalam Ilmu dan Akhlak".

