![]() |
| Ilustrasi: Tangkapan layar gambar bawang putih yang rusak akibat hama. (Foto: Istimewa/MP). |
Aksi pengrusakan ini tergolong rapi dan terus berulang (continue) setiap kali Amaq Okin memasuki musim tanam. Modus operandi yang digunakan pelaku adalah menyemprotkan herbisida jenis sistemik yang diduga kuat bermerek Gempur pada malam hari saat kawasan persawahan sepi. Karena sifat racun sistemik bekerja secara perlahan, korban biasanya baru menyadari kerusakan tanamannya sekitar satu minggu setelah aplikasi racun dilakukan.
"Kami sebagai petani sudah paham betul terkait dengan penyakit, baik penyakit dan hama di tanaman. Semua komoditi itu kita tahu dampaknya. Namun ini langsung saya berpikir bahwa ini akibat ada orang yang sengaja merusak tanaman saya secara pribadi. Ini sangat rutin sekali dirusak sejak 2022 sampai tahun 2026 ini," ungkap Amaq Okin dengan nada getir, saat ditemui di rumahnya, Selasa (23/6).
Berdasarkan catatan korban, riwayat pengerusakan tanaman miliknya tersebar di beberapa titik lokasi (orong) di wilayah Sembalun dengan rincian yang sangat signifikan.
Tahun 2022 yang rusak itu, tanaman cabai dan seledri seluas 7 are di Orong Likun, Desa Sembalun Lawang, hangus dirusak dengan kerugian mencapai Rp 25 juta.
Tahun 2023 itu tanaman seledri dan tomat seluas 9 are di Orong Jelok, Desa Sembalun Lawang, mati total dengan taksiran kerugian Rp 20 juta di tengah momentum harga seledri yang sedang melonjak tinggi.
Tahun 2024. Tanaman bawang putih seluas 15 are di Orong Likun kembali menjadi sasaran, mengakibatkan kerugian di atas Rp 40 juta.
Lalu pada Tahun 2025. Giliran tanaman kentang seluas 9 are di Orong Ketri yang disasar dengan kerugian mencapai Rp 15 juta.
Dan pada Tahun 2026 (Tahun Ini). Pelaku menyasar 15 are bawang putih mandiri dan sekitar 5 are seledri siap panen di Orong Ketri, Desa Sembalun Bumbung. Mengingat harga seledri saat ini menyentuh Rp 35.000 per kilogram, kerugian tahun ini saja ditaksir melonjak di atas Rp 70 juta.
Amaq Okin mengaku heran dan terpukul dengan motif di balik aksi kejam ini. Selama ini, ia merasa hubungan kekeluargaan, kekerabatan, maupun interaksinya dengan masyarakat umum di Desa Sembalun Lawang dan wilayah Kecamatan Sembalun berjalan sangat harmonis tanpa pernah ada perselisihan atau konflik pribadi. Ia juga memastikan bahwa kerusakan ini murni sabotase, bukan dampak ketidaksengajaan dari penyemprotan lahan tetangga.
"Kalau faktor ketidaksengajaan antarpetani itu memang lumrah terjadi, tapi sifatnya sementara, paling di dekat batas jarak hanya satu-dua jalur dan tidak fatal, tanaman akan pulih kembali. Tetapi kalau ini, sengaja dirusak dengan herbisida jenis gempur yang sistemik. Tidak menyisakan satu batang pun! Ini yang membuat hati saya sangat marah sekali, karena ini merusak sumber mata pencaharian saya," tegasnya berapi-api.
Ia menambahkan, tindakan ini jauh lebih kejam daripada pencurian biasa. "Kalau dia nyuri tomat, paling sekeranjangdua keranjang semampunya diangkut. Tetapi kalau ini, dia isi satu tangki herbisida, bisa semprot 15 are dengan cara cepat dan mati semua," ucapnya.
Karena teror tak kunjung berhenti dan rasa sabarnya telah habis, Amaq Okin akhirnya resmi menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus ini ke Mapolres Lombok Timur. Laporan tersebut direspons cepat oleh Unit Pidana Umum (Pidum) Satreskrim Polres Lombok Timur.
Pihak korban mengaku telah menyerahkan sejumlah alat bukti petunjuk beserta keterangan saksi-saksi awal kepada penyidik untuk mengungkap dalang di balik aksi kriminalitas pertanian ini.
Sesuai koordinasi terakhir dengan Kanit Pidum Polres Lombok Timur, tim Satreskrim dijadwalkan akan langsung turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Orong Ketrik, Desa Sembalun Bumbung pada hari Rabu (24/6) besok untuk melakukan investigasi lapangan, mengidentifikasi kerusakan, serta melacak jejak-jejak yang ditinggalkan pelaku.
"Harapan kita, semoga pihak kepolisian dalam hal ini Polres Lombok Timur bisa mengungkap kasus yang saya laporkan ini, menangkap, dan memproses pelaku sesuai dengan hukum dan undang-undang yang berlaku. Saya ingin tahu siapa dan apa modusnya tega berulang-ulang menghancurkan hidup kami," pungas Amaq Okin penuh harap.

