![]() |
| Adat: Pemuka adat masyarakat Sembalun, Mertawi S.Pd,. (Foto: Rosyidin/MP). |
Pemberian label atau predikat tersebut dinilai terburu-buru dan berlebihan, sarat akan kepentingan popularitas pribadi, dan tidak mengindahkan tatanan norma serta hukum adat yang berlaku secara turun-turun di Sembalun.
Tokoh Adat Ke-Paeran Sembalun, Mertawi S.Pd, menegaskan bahwa pemberian gelar spiritual maupun praktis yang melekat dengan Gunung Rinjani baik itu Pemangku maupun Pawang bukanlah perkara main-main atau bisa disematkan secara sepihak atas keinginan sendiri.
"Terkait dengan penyematan gelar atau predikat hubungannya dengan Rinjani, baik itu Pemangku Rinjani ataupun Pawang Rinjani, menurut tradisi kita khususnya di lingkar Rinjani lebih khusus lagi di Sembalun, tidak semudah itu," ujar Mertawi saat memberikan keterangan di Sembaulun, Minggu (21/6).
Menurut Mertawi, jika mengacu pada sejarah masa lalu, legitimasi seseorang untuk menyandang status adat tertinggi seperti Mangku Rinjani (Pemangku Gunung) harus melalui proses sakral berupa musyawarah adat. Otoritas tersebut bahkan berlaku secara turun-temurun karena mengemban tanggung jawab mistis dan ekologis yang berat.
Di Sembalun sendiri, secara historis terdapat tiga pilar kewenangan adat yang berjalan beriringan, yakni kewenangan Pembekel (pemerintahan adat), Kiyai (keagamaan), dan Pemangku (spiritual dan alam).
"Khusus kepada pemangku ini dia akan melekat dan memiliki otoritas tersendiri. Ada pemangku gawar (Hutan), pemangku gunung (Gunung Rinjani dan Perbukitan) pemangku bumi (areal pertanian), dan lain sebagainya. Jadi tidak semudah itu kita menyematkan gelar kepada seseorang, apalagi dengan keinginan sendiri membikin diri sendiri sebagai pawang atau pemangku. Itu akan mencederai adat budaya dan tradisi kita," tegasnya.
Mertawi menjelaskan, secara sosiologis adat, terdapat perbedaan mendasar antara istilah 'Pemangku' dan 'Pawang'. Pemangku merupakan pemegang kebijakan tertinggi yang mengatur kapan jalur Rinjani boleh dibuka atau harus ditutup berdasarkan isyarat alam. Sementara pawang, memiliki sifat yang lebih khusus atau teknis, serupa dengan penunjuk jalan atau pemandu (guide) yang memiliki kepekaan lebih.
Namun, dirinya sangat menyayangkan narasi yang beredar di media sosial belakangan ini, terutama adanya rencana liputan khusus yang dilakukan oleh Panji Petualang dan Agam untuk mengenang satu tahun almarhum Juliana Marine asal Berzal yang meninggal di Rinjani pada Tahun 2025. Mertawi menilai, aksi kemanusiaan atau dokumentasi tersebut sah-sah saja dilakukan, tetapi menjadi tidak etis ketika dibarengi dengan pelabelan gelar Pawang secara sepihak demi mendulang popularitas.
"Saya sendiri tidak kenal dengan siapa itu (Agam), namun mencermati pemberitaan yang beredar di media sosial ini kayaknya sangat berlebihan. Tanpa menghiraukan, tanpa mengindahkan keberadaan komunitas lokal kita yang ada di Sembalun, sepertinya dia memanfaatkan momen. Ini sebetulnya kurang etis," sesal Mertawi.
Ia menambahkan, para pendahulu dan orang-orang tua di Sembalun tidak pernah berani sesumbar melabeli diri mereka sebagai penguasa Rinjani, meski rekam jejak mereka telah menyelamatkan ratusan nyawa pendaki dengan peralatan apa adanya yang sangat manual pada masa lalu.
"Betapa tidak ada nilainya tradisi budaya kita di sini, dianggap semudah itu. Preseden buruknya ke depan, akan banyak lagi yang mengaku dirinya inilah, mengaku dirinya itulah, yang sebetulnya secara guri (garis silsilah/adat) mereka tidak ada keterkaitan," imbuhnya.
Bagi masyarakat Sembalun, Gunung Rinjani bukan sekadar bentang alam vulkanik atau destinasi wisata internasional, melainkan ruang sakral yang memiliki ikatan emosional dan spiritual yang kuat.
Alam Rinjani diyakini mampu berbicara memberikan tanda-tanda kepada warga jika terjadi sesuatu di atas gunung, seperti datangnya angin kencang atau hujan lebat melanda Sembalun dan sekitarnya secara tiba-tiba di musim kemarau.
Oleh karena itu, siapa pun yang hendak mendaki terlebih yang ingin menyandang gelar adat harus memenuhi kriteria ketat. Mulai dari rekam jejak keturunan, pemahaman mendalam tentang seluk-beluk fisik gunung (titik aman dan bahaya), hingga kepatuhan mutlak pada pantangan adat (pemali).
Mertawi menceritakan lebih lanjut, dalam tradisi kuno, terdapat ritual mengetuk pintu spiritual yang disebut Nyampang (nekolang, istilah Sembalun-red) di beberapa titik tertentu sebelum memasuki kawasan Rinjani sebagai bentuk permisi kepada makhluk ciptaan Tuhan yang kasat mata.
"Kita ke sana itu sebagai tamu yang terhormat, tamu yang sopan. Kita dilarang melakukan perusakan terhadap lingkungan. Bahkan dulu, kencing berdiri saja itu menjadi pantangan di situ, saking ketatnya tradisi pada waktu itu. Kita tidak diperbolehkan berlaku semena-mena, apalagi bertindak congkak dan sombong di Gunung Rinjani," urainya.
Mertawi juga menyoroti bahwa rentetan kecelakaan yang terjadi di Gunung Rinjani tidak semata-mata disebabkan oleh faktor kelalaian manusia (human error) atau faktor alam seperti tanah longsor, melainkan sering kali dipicu oleh pengabaian etika, tutur kata, dan perilaku sombong dari para pendaki.
Mengantisipasi klaim sepihak dan menjaga keselamatan para pendaki ke depan, lembaga adat Sembalun berharap adanya kolaborasi yang lebih erat dengan pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR). Tokoh adat mengusulkan agar nilai-nilai kearifan lokal, anjuran, serta pantangan adat dimasukkan secara resmi ke dalam Prosedur Operasional Standar (Protap) pendakian Rinjani.
"Kalau misalkan ini bisa dimasukkan menjadi bagian dari protap pendakian oleh pihak penyelenggara yaitu Taman Nasional, saya kira itu lebih bagus. Jadi adanya semacam imbauan atau anjuran atau larangan yang tidak boleh dilakukan di sana, dalam rangka kita menjaga keselamatan para pendaki," usul Mertawi.
Di akhir pernyataannya, Mertawi mengimbau kepada seluruh pihak, termasuk para aktivis media sosial dan petualang, untuk selalu membangun koordinasi dan komunikasi dengan komunitas adat setempat sebelum memproduksi narasi yang berkaitan dengan identitas budaya di lingkaran Rinjani.
"Rinjani ini sudah milik internasional, namun tetap saja komunitas yang ada di sini (Sembalun) harus mendapatkan penghargaan, saling menghargai. Mbok ya kalau menginginkan predikat atau gelar itu, bangunlah koordinasi yang baik dengan semua komunitas yang ada untuk memberikan pertimbangan, ini layak atau tidak layaknya," pungkasnya.

