Rencana Liputan Khusus Panji Petualang di Rinjani Menuai Penolakan, Gelar Pawang dan Transparansi Jadi Pemicu

Rosyidin S
Sabtu, Juni 20, 2026 | 21.47 WIB Last Updated 2026-06-20T13:47:59Z
Tolak: Pamflet penolakan liputan khusus Panji Petualang bersama Agam di Gunung Rinjani. (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com – Rencana konten kreator ternama, Panji Petualang, bersama Agam untuk membuat peliputan khusus memperingati satu tahun evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marine, memicu gelombang penolakan keras.


Rencana dokumentasi yang awalnya dijadwalkan pada akhir Juni 2026 ini justru membuka kembali luka lama dan kekecewaan para relawan lokal di kawasan Gunung Rinjani, Lombok Timur.


Penolakan tersebut bersumber dari warga lingkar Rinjani serta berbagai elemen masyarakat Sasak. Mereka menilai narasi yang berkembang di media sosial belakangan ini mencederai rasa keadilan dan mengabaikan etika serta keterlibatan ratusan orang lainnya dalam operasi kemanusiaan setahun silam.


Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, menegaskan bahwa penolakan ini didasari oleh munculnya penyematan gelar "Pawang Rinjani" kepada Agam dalam promosi peliputan tersebut.


Menurutnya, Rinjani memiliki tatanan adat dan tokoh budaya yang sudah puluhan tahun merawat gunung tersebut, sehingga legitimasi sebagai simbol Rinjani tidak bisa diberikan secara instan hanya karena konten yang viral.


“Kami memiliki masyarakat adat dan banyak tokoh yang sejak lama menjaga Rinjani. Karena itu kami tidak bisa menerima jika ada pihak yang tiba-tiba diberi gelar seperti itu,” tegas Royal dengan nada menolak, saat dikonfirmasi di Sembaulun, Sabtu (20/6).


Lebih lanjut, Royal menyoroti ketimpangan sorotan publik yang selama ini hanya terpusat pada satu individu. Padahal, proses pencarian dan evakuasi mendaki asing tersebut melibatkan tim SAR, aparat, pemandu, porter, hingga warga lokal yang bertaruh nyawa di lapangan.


“Ini menyangkut rasa keadilan bagi teman-teman yang ikut terlibat dalam proses penyelamatan dan evakuasi saat itu. Kalau peliputan itu melibatkan semua pihak yang ikut berjuang, tentu kami mendukung. Tetapi kalau hanya untuk mengangkat satu orang saja, kami tidak bisa menerima!” ujarnya ketus.


Selain masalah legitimasi gelar, Forum Lingkar Rinjani juga mengungkit sejumlah persoalan krusial pasca evakuasi yang hingga kini belum menemui titik terang. Mulai dari wacana program penghijauan, pengadaan alat keselamatan yang belum terealisasi, hingga transparansi penggunaan dana donasi yang sempat digalang.


Royal menyatakan, penolakan ini bukanlah persoalan materi, melainkan masalah etika kolektif dalam sebuah gerakan kemanusiaan.


“Kami tidak iri dengan uang. Yang kami persoalkan adalah etika. Ketika sesuatu dilakukan bersama-sama, maka penghargaan dan manfaatnya juga harus dirasakan bersama,” sindir Royal memperlihatkan kekecewaan mendalam warga.


Pihak Forum menegaskan siap mengambil langkah nyata dan menyampaikan sikap penolakan secara terbuka di lapangan jika rombongan tersebut tetap memaksakan diri datang tanpa adanya komunikasi resmi dan pelurusan masalah dengan masyarakat lokal.

Tangkapan layar video klarifikasi Panji Petualang. (Foto: Rosyidin/MP).

Merespons gelombang penolakan yang meluas dari masyarakat Sasak dan para relawan, Panji Petualang langsung bergerak cepat meredam situasi. Melalui video klarifikasi berdurasi 1 menit 37 detik di akun Instagram resminya, Panji menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat Lombok.


Panji mengaku tidak mengetahui adanya persoalan internal yang belum terselesaikan antara Agam dengan para relawan di baseline. Ia juga mengakui kesalahan secara pribadi terkait penulisan takarir (caption) yang menyematkan gelar pemandu atau Pawang Gunung Rinjani.


"Teruntuk teman-teman di Rinjani, khususnya untuk para relawan, volunteer, porter, dan masyarakat suku Sasak. Aku minta maaf ya terkait video postingan kemarin bareng Bang Agam," ungkap Panji dalam klarifikasiny di video tersebut.


"Mohon maaf banget, pokoknya aku enggak tahu soal masalahnya, aku enggak terlalu paham. Jadi aku minta maaf, khususnya untuk masalah caption 'Pawang Gunung Rinjani' itu memang salah saya secara pribadi. Saya minta maaf untuk keluarga saya di Lombok, khususnya untuk suku Sasak dan teman-teman relawan di sana," pungkasnya seraya berharap situasi dapat mendingin dan bisa bertemu kembali di kesempatan lain.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rencana Liputan Khusus Panji Petualang di Rinjani Menuai Penolakan, Gelar Pawang dan Transparansi Jadi Pemicu

Trending Now