Menjaga Marwah Persyarikatan: Menguji Kesetiaan dan Komitmen Ideologis di Muhammadiyah

Rosyidin S
Jumat, Juni 26, 2026 | 21.11 WIB Last Updated 2026-06-26T14:28:23Z

Oleh: Lalu Fadli Said


Pigura: Lalu Fadli Said, Mubaligh Muhammadiyah. (Foto: Istimewa/MP).


 
MANDALIKAPOST.com - Komitmen dan kesetiaan terhadap sebuah organisasi besar seperti Muhammadiyah bukanlah perkara yang mudah, terutama ketika roda persyarikatan diperhadapkan pada situasi-situasi kritis. Di saat kondisi berjalan normal dan stabil, semua tampak baik-baik saja.


Namun, ujian sesungguhnya bagi para anggota, kader, hingga jajaran pimpinan adalah bagaimana mereka tetap teguh berdiri mengawal organisasi bentukan KH. Ahmad Dahlan ini kala badai ujian datang menerpa.


Belakangan, ada sebuah gejala yang patut diwaspadai bersama. Fenomena "rumput tetangga selalu tampak lebih hijau" kerap kali menggoda sebagian individu di dalam persyarikatan. Kemudahan mobilitas individual membuat sebagian orang memilih untuk bergerak dan "memasang banyak kaki" di berbagai tempat demi kepentingan pribadi. 


Alhasil, Muhammadiyah yang begitu megah ini tak jarang hanya dijadikan sebagai rumah singgah atau tempat mampir sementara, sekadar untuk menikmati manisnya hasil amal usaha tanpa mau ikut bersusah payah merawatnya.


Memang, gejala oportunistis seperti itu belum menjadi arus besar dalam tubuh persyarikatan. Kendati demikian, jika riak kecil ini dibiarkan mekar tanpa adanya ketegasan dari segenap jajaran pimpinan dan warga Muhammadiyah, lambat laun ia akan menjadi benalu yang menggerogoti kekuatan organisasi dari dalam.


Ketegasan dalam menjaga ideologi bukanlah cerminan dari sikap radikal atau fanatik buta yang destruktif. Sebaliknya, ketegasan ideologis merupakan langkah penyelamatan yang mutlak diperlukan agar setiap kader memiliki rasa kepemilikan yang mendalam terhadap Muhammadiyah.


Persyarikatan ini hanya dapat tumbuh besar dan berdampak luas di tangan orang-orang yang memiliki komitmen tinggi mereka yang siap mengarungi suka dan duka perjuangan secara totalitas.


Kita harus kembali menyadari dan menghayati bahwa Muhammadiyah bukan sekadar hamparan amal usaha yang statis, bukan pula sekadar alam pikiran tanpa arah. Muhammadiyah adalah sebuah sistem gerakan terstruktur yang memiliki tatanan paham dan ideologi perjuangan yang kokoh.


Lebih dari itu, Muhammadiyah bukan semata-mata paham Islam biasa. Karakteristik Islam dalam Muhammadiyah memiliki manhaj (metode) dan sejarah gerakan yang sangat khas, yang dibangun di atas pilar Tarjih, Tajdid, serta pengembangan pemikiran Islam bercorak "pemurnian dan pembaruan".


Sistem gerakan tajdid inilah yang diletakkan fundamentalnya oleh KH. Ahmad Dahlan dan membedakannya secara tegas dengan gerakan Islam lainnya.


Melalui refleksi dari pemikiran Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam buku Ideologi dan Strategi Muhammadiyah, kita diajak untuk kembali merapatkan barisan. Menguatkan kembali komitmen ideologis bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bagi seluruh Keluarga Besar Muhammadiyah (KBM) agar tetap tercerahkan dan istiqomah dalam melahirkan kader-kader biologis sekaligus ideologis yang tangguh di masa depan.


Penulis adalah penyadur seri "Lebih Dekat dengan Muhammadiyah". Penulis sangat terbuka menerima kritik dan saran yang membangun demi kebaikan dan perbaikan bersama.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menjaga Marwah Persyarikatan: Menguji Kesetiaan dan Komitmen Ideologis di Muhammadiyah

Trending Now