Pro-Kontra Penutupan Festival Muharram 1448 H di Lombok Timur, Sukses Menghibur, Tapi Dikritik Kurang Religius

Rosyidin S
Selasa, Juni 23, 2026 | 12.32 WIB Last Updated 2026-06-23T04:32:11Z
Musik: Penampilan salah satu band nasional saat manggung di Lombok Timur. (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com – Gelaran Festival 1 Muharram 1448 Hijriah di Kabupaten Lombok Timur resmi berakhir. Pesta rakyat yang berlangsung selama sepekan tersebut ditutup langsung oleh Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, di GOR Lalu Muslihin pada Minggu (21/6) malam.


Meski sukses menyedot perhatian ribuan warga yang memadati lokasi sejak sore hari, malam puncak festival ini justru menuai sorotan tajam dan kritik dari sejumlah tokoh masyarakat setempat. Acara hiburan yang menghadirkan deretan musisi nasional tersebut dinilai kurang mencerminkan esensi dari momentum Tahun Baru Islam.


Malam penutupan festival berlangsung sangat meriah dengan dentuman musik dari panggung utama. Penonton dihibur oleh penampilan ciamik dari sejumlah musisi papan atas Indonesia seperti band Gigi, Bams, dan gitaris John Paul Ivan.


Tidak hanya panggung nasional, musisi lokal kebanggaan daerah, Bapackguru, juga turut ambil bagian dan berhasil mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat yang hadir.


Namun, konsep hiburan bergenre pop dan rock di dalam peringatan hari besar Islam inilah yang kemudian memicu gelombang kritik.


Salah satu kritik keras datang dari tokoh masyarakat Kecamatan Masbagik, TGH. Subki Hulaimi. Ia menyayangkan konsep acara penutupan yang dinilai melenceng dari makna Muharram sebagai ajang refleksi diri atau muhasabah.


"Semestinya momentum Muharram ini menjadi ajang muhasabah, misalnya dengan mengajak masyarakat bershalawat atau kegiatan keagamaan lainnya yang lebih relevan," ujar TGH. Subki Hulaimi.


Tak hanya menyoroti esensi nilai agama, TGH. Subki juga mengkritik kurangnya empati sosial dari para pembuat kebijakan. Menurutnya, mengadakan konser besar di tengah situasi nasional yang sedang bergejolak akibat aksi perjuangan mahasiswa di berbagai daerah terkesan tidak etis.


"Konser yang mengiris hati, pemimpin kita mengajak jingkrak-jingkrak. Sementara adik-adik mahasiswa di seluruh Indonesia sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya demi kebaikan bangsa ini. Artinya bersenang di atas perjuangan saudaranya," tegasnya prihatin.


Senada dengan TGH. Subki, kalangan pemuda di Lombok Timur juga menyuarakan ekspektasi yang sama agar format acara di masa mendatang diubah ke arah yang lebih religius.


Gito Purnadi, seorang tokoh pemuda dari Masbagik, berharap pemerintah daerah melibatkan para pemuka agama dalam agenda utama di masa depan.


"Kami berekspektasi ada ulama atau tuan guru yang memimpin sholawatan atau kegiatan keagamaan lainnya," kata Gito.


Pandangan tersebut diperkuat oleh Yudha Mila Sandi, tokoh muda lainnya yang menilai bahwa festival akan jauh lebih bermakna jika dikemas dalam bentuk syiar Islam yang masif.


"Saya kira akan lebih baik menghadirkan ulama daerah dan ulama-ulama nasional dalam tabligh akbar," usul Yudha.


Rentetan kritik dan masukan dari berbagai elemen masyarakat ini diharapkan menjadi bahan evaluasi mendalam bagi Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Pemerintah daerah dituntut untuk lebih bijak dalam mencari formula yang seimbang, agar perayaan menyambut Tahun Baru Islam di masa depan tetap meriah tanpa kehilangan kesucian dan nilai kekhidmatannya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pro-Kontra Penutupan Festival Muharram 1448 H di Lombok Timur, Sukses Menghibur, Tapi Dikritik Kurang Religius

Trending Now