Semarak 1.448 Dulang di Bumi Sasak, Lombok Timur Alokasikan Rp 2 Miliar Sambut Tahun Baru Islam

Rosyidin S
Selasa, Juni 16, 2026 | 15.18 WIB Last Updated 2026-06-16T07:18:11Z
Dulang: Parade seribu dulang menyambut Tahun Bru Islam 1 Muharam 1448 H. (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com – Senja mulai turun di Kota Selong, Senin sore kemarin (15/6), namun keheningan kota seketika pecah oleh kerlip cahaya dan gemerincing langkah kaki ribuan warga. Berbagai kostum islami dan tulisan serta simbol keagamaan nampak meriahkan parade menyambut tahun baru Islam 1 Muharam 1448 H.


Diantara parade tersebut, Sebanyak 1.448 buah dulang nampan besar khas suku Sasak diarak secara khidmat dari Lapangan Rinjani menuju Masjid Agung Al-Mujahidin. Parade kolosal ini digelar bukan sekadar sebagai pawai seremonial, melainkan menjadi wujud syukur mendalam sekaligus ruang pelestarian tradisi yang telah lama mengakar di bumi Lombok Timur.


Angka 1.448 dulang yang diarak sore itu dipilih bukan tanpa makna. Jumlah tersebut disesuaikan secara presisi untuk menyimbolkan pergantian tahun dalam penanggalan Islam yang kini memasuki tahun 1448 Hijriah.


Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menjelaskan bahwa festival ini merupakan agenda tahunan yang krusial untuk menjaga identitas religius dan kultural masyarakat. Demi menyukseskan gelaran yang berlangsung selama sepekan ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur tidak tanggung-tanggung dalam menggelontorkan dukungan finansial.


"Memang sudah agenda tahunan kita. Bahkan dianggarkan lewat APBD, sekitar 2 miliar (rupiah)," tutur Bupati yang akrab disapa H. Iron tersebut saat ditemui di sela-sela acara.


Bupati Iron menambahkan bahwa pawai taaruf ini menjadi pembuka dari rangkaian festival, dengan tujuan utama sebagai syiar sekaligus pengingat bagi masyarakat.


"Kita memberikan lambang 1448 Hijrah selaras dengan 1.448 Dulang ini, itu sebabnya jumlahnya segitu. Supaya masyarakat juga mengetahui bahwa 1 Muharam ini memang harus kita semarakkan, untuk meramaikan dan mengingatkan kepada masyarakat kita," terangnya.


Berdasarkan pantauan di lapangan, kekayaan budaya Sasak begitu kental terasa sepanjang rute pawai. Ribuan ibu-ibu berjalan beriringan dengan anggun, menjunjung dulang di atas kepala mereka.


Dulang-dulang tersebut berisi aneka makanan tradisional yang ditutup rapi oleh Tembolak Beak (tutup nampan yang dibuat dari daun lontar) tudung saji anyaman khas Sasak berwarna merah menyala yang melambangkan kehormatan dan kebersamaan.


Tak hanya masyarakat umum dan anggota Program Keluarga Harapan (PKH), barisan pawai juga diramaikan oleh antusiasme para pelajar hingga jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Lombok Timur.


Semangat tetep ngiring (setia mengikuti) adat leluhur ini dirasakan langsung oleh Yuliana, seorang warga asal Desa Pengadangan yang turut menjadi peserta pawai. Baginya, berjalan berkilo-kilometer di bawah terik senja sambil menjaga keseimbangan dulang di atas kepala adalah sebuah kehormatan, bukan beban.


"Eh capek sih, tapi saya merasa puas dan merasa bangga juga. Saya ikut karena sayang pada adat budaya leluhur kita juga," ungkap Yuliana dengan mata berbinar.


Yuliana mengaku sudah sering kali berpartisipasi dalam ritual budaya seperti ini hingga tak bisa lagi mengingat jumlah pastinya. Bagi masyarakat Sasak, momen seperti ini adalah ruang komunal untuk merawat sopoq angen (satu hati) dan mempererat tali persaudaraan.


"Ya mau lah ikut lagi. Selain itu, kita bisa menjalin silaturahmi dengan warga lain. Kan bukan hanya kita yang ikut pawai, hampir seluruh lapisan masyarakat Lombok Timur," imbuhnya.


Menatap perayaan di tahun-tahun mendatang, Yuliana menaruh harapan besar agar tradisi ini kian meluas dan mengetuk kesadaran desa-desa lain untuk mengeluarkan warisan budaya mereka yang masih tersimpan.


"Harapan kita, tahun depan lebih meriah lagi, pun pesertanya dari berbagai desa yang di Lombok Timur. Saya yakin masih ada tuh dulang peninggalan leluhur di desa-desa lain yang ada di Lombok Timur," tutup Yuliana penuh harap.


Dengan dukungan penuh dari masyarakat dan komitmen anggaran daerah, Festival 1 Muharram di Lombok Timur ini membuktikan bahwa nafas keagamaan dan keluhuran adat suku Sasak dapat berjalan beriringan, melintasi zaman tanpa kehilangan kesakralannya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Semarak 1.448 Dulang di Bumi Sasak, Lombok Timur Alokasikan Rp 2 Miliar Sambut Tahun Baru Islam

Trending Now