Tekan Angka Stunting di Lombok Timur, TP PKK NTB Terjunkan Metode Baru Kaps-Map

Rosyidin S
Senin, Juni 29, 2026 | 14.05 WIB Last Updated 2026-06-29T06:05:37Z
Stunting: Seorang kader sedang mewawancarai keluarga stunting menggunakan Kaps-Map pencegahan stunting. (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com — Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meluncurkan strategi baru guna mempercepat pengentasan masalah stunting di Kabupaten Lombok Timur (Lotim).


Metode inovatif yang dinamai "Kaps-Map" Media Assessment Partisipatif (MAP) dengan pendekatan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) ini resmi diterapkan dengan menyasar langsung akar rumput melalui pendekatan personal kepada keluarga terdampak.


Ketua TP PKK NTB, Sinta Agathia Iqbal, menegaskan bahwa penanganan stunting saat ini tidak bisa lagi dipandang dari satu sudut pandang saja. Menurutnya, pemenuhan gizi hanyalah salah satu bagian kecil dari kompleksitas masalah yang ada di lapangan.


"Sebenarnya masalah stunting itu tidak bisa lagi disikapi dengan hanya sebatas masalah gizi saja. Untuk itu, melalui cara yang baru ini, para kader akan bertanya kepada keluarga stunting terkait masalah mereka," ujar Sinta saat memantau langsung program di Kecamatan Pringgabaya, Minggu (28/6) kemarin.


Melalui metode Kaps-Map, para kader PKK akan mendatangi kediaman warga dan memberikan sejumlah pertanyaan mendalam untuk memetakan masalah spesifik yang dihadapi setiap keluarga. Sinta menjelaskan bahwa faktor penyebab stunting bersifat dinamis dan bervariasi, bahkan antar-keluarga di dalam satu desa yang sama.


Data yang berhasil dihimpun oleh para kader nantinya akan diserahkan kepada pemerintah desa. Langkah ini diharapkan dapat menjadi kompas bagi pemerintah desa dalam menyusun program kerja yang jauh lebih tepat sasaran dan efektif.


Sinta juga optimis bahwa pendekatan yang menyentuh sisi sosial ini akan membawa perubahan perilaku yang signifikan di masyarakat. Menariknya, program ini tidak hanya berfokus pada keluarga inti, melainkan juga menggerakkan lingkungan sekitar seperti tetangga untuk bergotong-royong menyelesaikan masalah sosial pemicu stunting.


"Saya optimistis kegiatan ini akan berhasil. Karena melalui kegiatan ini akan terjalin hubungan atau kedekatan dengan masyarakat, sehingga mereka lebih cepat mengubah kebiasaan mereka," tambah Sinta.


Pemilihan Lombok Timur sebagai lokasi fokus (lokus) utama program bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, Lotim masih menjadi salah satu kabupaten dengan catatan kasus stunting tertinggi di wilayah NTB. Untuk tahap awal, Kecamatan Pringgabaya dipilih sebagai titik mula sebelum nantinya direplikasi ke kecamatan lain.


Sekretaris Dinas Kesehatan Lombok Timur, Saiful Idris, memaparkan bahwa berdasarkan data Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EP-PPGBM), angka stunting di Lotim pada triwulan pertama berada di angka 20 persen.


"Mudah-mudahan pada triwulan II ini nanti kasus stunting kita bisa menurun," harap Saiful Idris.


Guna mendukung target penurunan tersebut, Dinas Kesehatan Lotim memastikan bahwa program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil dan balita terus berjalan beriringan dengan program baru dari pemerintah, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita (B3).


Saiful meluruskan bahwa kehadiran program MBG tidak serta-merta menghapus PMT, sebab keduanya memiliki fungsi intervensi medis yang berbeda.


"PMT tetap berlanjut, karena PMT dan MBG ini berbeda intervensi. Karena ada PMT yang khusus untuk penanganan penyakit yang kita tangani, dan tidak semua model penyakit butuh PMT, apalagi MBG," pungkas Saiful.


Dengan adanya sinergi antara metode Kaps-Map milik TP PKK dan intervensi gizi dari Dinas Kesehatan, Lombok Timur diharapkan mampu menekan angka stunting secara signifikan dan menciptakan generasi baru yang lebih sehat.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tekan Angka Stunting di Lombok Timur, TP PKK NTB Terjunkan Metode Baru Kaps-Map

Trending Now