![]() |
| Humaria: Wakil Rektor I IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., menunjukkan nota kesepahaman bersama guru besar UIN Malang, (Foto: Istimewa/MP). |
Acara bergengsi ini dihadiri oleh jajaran petinggi kampus, serta seluruh dosen di lingkungan IAIH Pancor. Tak tanggung-tanggung, dua guru besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang hadir langsung sebagai narasumber utama, yakni Prof. Dr. Khoirul Hidayah, M.H. (Guru Besar Hukum Ekonomi) dan Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd. (Ketua Program Studi Doktor UIN Malang).
Wakil Rektor I IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran kedua guru besar tersebut. Beliau berharap momentum ini dapat menyuntikkan motivasi besar bagi para dosen untuk meraih gelar akademik tertinggi.
"Atas nama pribadi dan seluruh jajaran IAIH Pancor, kami ucapkan selamat datang kepada kedua guru besar dari UIN Malang. Terima kasih atas perkenannya menjadi narasumber. Semoga kehadiran beliau berdua di tengah-tengah kita bisa menjadi spirit untuk meraih jabatan sebagai guru besar di institut yang kita banggakan ini," ujar Dr. Hayyi Akrom.
Dr. Hayyi menekankan bahwa gelar guru besar merupakan indikator paling nyata dari kesungguhan dan profesionalisme seorang dosen. Untuk mencapainya, seorang dosen dituntut memiliki kualifikasi doktor dan aktif dalam publikasi jurnal internasional. Menurutnya, IAIH Pancor terus mendorong kegiatan keilmuan ini demi memperluas kontribusi kampus di tingkat nasional maupun internasional.
"Kami berharap semangat belajar, riset, berkarya, dan publikasi dari dosen-dosen IAIH Pancor akan terus tumbuh dan berkobar ke depan. Dengan begitu, IAIH Pancor akan semakin dikenal oleh khalayak luas melalui karya-karya nyata yang terbit di jurnal bereputasi nasional maupun internasional," tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd. dalam pemaparannya menyampaikan bahwa jabatan guru besar adalah sebuah anugerah sekaligus amanah yang harus dikejar lewat konsistensi profesi.
"Menjadi seorang dosen itu paket lengkap: mengajar, menulis, publikasi, dan mengabdi kepada masyarakat. Jika jalan-jalan ini dijalani dengan istiqomah, insya Allah jabatan guru besar akan segera terwujud. Terlebih, keberadaan profesor sangat dibutuhkan untuk pengembangan kelembagaan, baik untuk dongkrak akreditasi maupun meningkatkan daya tarik kampus di mata masyarakat," jelas Prof. Sutiah.
Sementara itu, Prof. Dr. Khoirul Hidayah, M.H. membagikan strategi dan trik khusus mengenai tata cara menyusun penelitian dan tulisan yang menembus jurnal internasional bereputasi. Ia mendorong para dosen IAIH Pancor untuk lebih peka terhadap potensi lokal.
"Untuk mencapai guru besar, mau tidak mau, publikasi di jurnal terindeks Scopus menjadi syarat mutlak utamanya. Bahkan ada syarat khusus berupa publikasi dua tulisan di dua jurnal Scopus yang berbeda. Saya sangat mendorong dosen-dosen di sini untuk mengangkat kearifan dan isu-isu lokal yang ada di sekitar Lombok untuk dijadikan tema penelitian yang strategis dan menarik bagi dunia internasional," papar Prof. Khoirul.
Acara Visiting Professor ini diakhiri dengan prosesi penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara IAIH Pancor dan UIN Malang. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan kelembagaan serta pendampingan publikasi ilmiah bagi dosen. Melalui sinergi ini, kedua belah pihak berharap di masa depan akan lahir banyak profesor baru dari rahim IAIH Pancor.

