![]() |
| Ilustrasi hiburan malam. |
MANDALIKAPOST.com – Menjelang pukul 19.00 Wita, Rina mulai bersiap. Di sebuah kamar kos sederhana berukuran sekitar tiga kali empat meter di kawasan Cakranegara, Kota Mataram, perempuan berusia 28 tahun itu berdandan di depan cermin kecil yang menempel di dinding. Lipstik, bedak, dan parfum menjadi perlengkapan yang selalu ia gunakan sebelum berangkat bekerja.
Tak ada barang mewah di kamar itu. Hanya kasur tipis, lemari plastik, kipas angin, dispenser, beberapa peralatan memasak, dan sebuah koper berisi pakaian. Di sudut ruangan, tersimpan foto seorang anak laki-laki yang kini duduk di bangku sekolah dasar.
Setiap kali memandang foto itu, pikirannya selalu melayang ke kampung halaman di Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Nama Rina bukanlah nama sebenarnya.Ia lahir dari keluarga yang tak utuh. Sejak kecil, Rina lebih banyak dibesarkan sang nenek setelah kedua orang tuanya berpisah. Sang nenek bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang bergantung pada musim dan upah harian.
Keterbatasan ekonomi membuat Rina harus mengubur impiannya untuk melanjutkan pendidikan. Ia putus sekolah ketika duduk di kelas dua SMA.
"Waktu itu pilihan saya cuma satu, kerja supaya bisa makan," tuturnya kepada Mandalika Post.
Berbagai pekerjaan pernah ia jalani. Salah satunya menjadi buruh di sebuah pabrik garmen di kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi tidak pernah cukup untuk membantu keluarga keluar dari kesulitan ekonomi.
Di usia muda, ia menikah dengan harapan hidupnya berubah menjadi lebih baik. Toh, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan.
Rumah tangga yang dibangun justru diwarnai pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Demi menyelamatkan diri dan anaknya, Rina memilih mengakhiri pernikahan tersebut.
Dari pernikahan itu, ia memiliki seorang anak laki-laki yang kini diasuh oleh neneknya di Sumedang.
"Itu keputusan paling berat dalam hidup saya. Tapi saya juga tidak mungkin membawa anak ikut hidup berpindah-pindah seperti sekarang," katanya.
Sekitar tiga tahun lalu, seorang teman menghubunginya dan menawarkan pekerjaan di Lombok.
Awalnya Rina ragu. Ia sama sekali tidak mengenal Nusa Tenggara Barat. Namun kondisi ekonomi memaksanya mengambil keputusan besar.
"Saya berpikir, daripada tidak kerja sama sekali, lebih baik mencoba."
Perjalanan hidupnya di NTB dimulai dari sebuah tempat hiburan malam di kawasan Senggigi, Lombok Barat. Setelah beberapa bulan, ia sempat bekerja di sebuah kafe di kawasan Pantai Wane, Kabupaten Bima.
Kini, Rina bekerja sebagai lady companion (LC) di salah satu kafe tuak di kawasan Cakranegara, Kota Mataram.
Setiap hari, kehidupannya nyaris sama.
Menjelang sore ia bangun, membersihkan kamar kos, mencuci pakaian, lalu memasak makanan sederhana atau membeli nasi bungkus. Sebelum berangkat kerja, ia selalu menyempatkan diri menghubungi anak dan neneknya melalui telepon.
Menjelang malam, ia mulai berdandan.
Ojek online menjadi kendaraan yang hampir setiap hari mengantarnya menuju tempat kerja.
Di kafe, pekerjaannya bukan sekadar menemani tamu bernyanyi karaoke. Ia juga harus mampu menghidupkan suasana, mengajak berbincang, melayani tamu dengan sopan, sekaligus menjaga diri ketika berhadapan dengan pengunjung yang sedang mabuk.
Sering kali ia baru kembali ke kamar kos menjelang dini hari. Tubuh lelah menjadi hal biasa. Namun yang paling berat justru rasa sepi.
"Kalau sudah pulang kerja, kamar terasa sunyi sekali," tuturnya.
Sebagian besar penghasilannya hampir tak pernah mengendap di rekening.
Begitu menerima bayaran, Rina langsung mengirimkan uang ke Sumedang untuk biaya hidup nenek dan kebutuhan sekolah anaknya.
"Saya kerja buat mereka. Kalau bukan karena anak sama nenek, mungkin saya sudah menyerah," katanya.
Rina mengaku sadar pekerjaan yang dijalaninya kerap dipandang negatif oleh masyarakat.
Namun baginya, hidup tidak selalu memberikan banyak pilihan.
"Saya tidak bangga kerja di dunia malam. Tapi saya juga tidak malu mencari nafkah. Yang penting saya tidak mencuri," tandas Rina.
Sudah hampir dua tahun ia belum pulang ke Sumedang. Ongkos perjalanan yang mahal membuatnya lebih memilih mengirim uang daripada membeli tiket.
Kerinduan kepada anak menjadi beban yang paling berat.
"Kalau video call, dia sering bilang, 'Mama kapan pulang?' Saya cuma bisa bilang, nanti kalau sudah ada rezeki," ujarnya.
Senyum di Dunia Malam, Air Mata untuk Kampung Halaman
![]() |
| Ilustrasi kafe tuak. |
Rina bukanlah satu-satunya perempuan asal Jawa Barat yang mencari penghidupan di dunia hiburan malam di Nusa Tenggara Barat.
Di sejumlah kafe tuak yang tersebar di Kota Mataram, Lombok Barat, hingga beberapa daerah lain di NTB, cukup banyak perempuan perantau berasal dari Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Cianjur, Subang, Indramayu, dan sejumlah daerah lain di Jawa Barat.
Sebagian besar datang melalui ajakan teman atau kerabat yang lebih dahulu bekerja di Lombok.
Mereka membawa kisah yang nyaris serupa. Ada yang putus sekolah karena kemiskinan. Ada yang menjadi orang tua tunggal setelah perceraian. Ada pula yang harus menanggung biaya hidup orang tua, adik, atau anak yang ditinggalkan di kampung halaman.
Pertumbuhan kafe tuak di sejumlah wilayah NTB ikut membuka lapangan pekerjaan bagi perempuan-perempuan tersebut.
Kafe tuak merupakan tempat hiburan malam yang memadukan karaoke, musik, serta pendamping tamu, sembari menyajikan tuak sebagai minuman tradisional yang menjadi salah satu sajian utama.
Bagi sebagian orang, tempat itu hanya menjadi ruang melepas penat selepas bekerja.
Namun bagi perempuan seperti Rina, kafe-kafe itu adalah tempat mereka mempertaruhkan waktu, tenaga, bahkan harga diri demi memperoleh penghasilan.
Siang hari mereka hidup sederhana di kamar-kamar kos. Mencuci pakaian, memasak, beristirahat, atau menunggu waktu berbicara dengan keluarga melalui telepon.
Ketika malam tiba, mereka kembali mengenakan gaun, merias wajah, lalu menyapa tamu dengan senyum yang belum tentu mencerminkan isi hati.
Fenomena ini menjadi potret lain dari arus migrasi perempuan antardaerah di Indonesia. Di balik gemerlap lampu karaoke, tersimpan cerita tentang kemiskinan, pendidikan yang terputus, kegagalan rumah tangga, sempitnya lapangan pekerjaan, dan beratnya beban ekonomi keluarga.
Ironisnya, Jawa Barat dikenal sebagai salah satu provinsi dengan aktivitas ekonomi terbesar di Indonesia. Berbagai program pembangunan dan pelayanan publik juga terus menjadi perhatian masyarakat.
Namun, kisah perempuan-perempuan seperti Rina menunjukkan bahwa masih ada warga yang merasa kesempatan memperoleh pekerjaan layak di kampung halaman belum mampu menjawab kebutuhan hidup mereka.
Bagi Rina, semua persoalan besar itu bukan sesuatu yang ia perdebatkan setiap hari.
Yang ia pikirkan hanya satu. Bagaimana anaknya tetap bisa sekolah. Bagaimana neneknya tetap bisa membeli beras. Dan bagaimana suatu hari nanti ia bisa benar-benar pulang.
"Saya cuma ingin buka warung kecil di kampung. Tidak perlu kaya. Yang penting bisa hidup sama anak dan nenek," ucapnya.
Di balik lampu-lampu temaram kafe tuak di Kota Mataram, Rina menjalani malam demi malam dengan harapan sederhana. Bahwa suatu hari, perjalanan panjangnya sebagai perantau akan berakhir di rumah yang selama ini hanya bisa ia tatap melalui layar telepon.
Sebab, sejauh apa pun seseorang merantau, rumah selalu menjadi tempat yang paling ingin dituju. (*)


